Wisata Alam Sangkanika: Tidak Ada Tiket Masuk, Hanya Bayar untuk Pengalaman

Wisata Alam Sangkanika yang terletak di Desa Sangkanurip, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan menawarkan pengalaman unik bagi para pengunjung. Lokasi ini memiliki pemandangan alam yang indah, berada di kaki Gunung Ciremai. Selain itu, area wisata ini juga memiliki luas lahan pertanian yang lengkap dengan berbagai jajakan kuliner khas daerah.

Tak Ada Tiket Masuk, Hanya Pembayaran untuk Aktivitas

Salah satu hal yang membuat Sangkanika menarik adalah tidak adanya biaya tiket masuk. Namun, jika pengunjung ingin mencoba aktivitas tertentu seperti memetik buah naga atau mencicipi makanan khas, mereka harus membayar sesuai dengan harga yang ditentukan.

Rahma, pengelola wisata setempat, menjelaskan bahwa pengunjung dapat memetik buah naga kuning dan merah dengan biaya yang berbeda. Untuk buah naga kuning, harga per kilogramnya sekitar Rp 200 ribu, sedangkan buah naga merah harganya sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Selain itu, pengunjung juga bisa membeli buah naga siap saji sesuai kebutuhan mereka.

Fokus pada Pertanian Buah Naga

Sangkanika merupakan lahan pertanian yang fokus pada pengembangan tanaman buah naga kuning dan buah naga merah. Selain itu, manajemen juga menyediakan paket kuliner khas daerah yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

Bupati Kuningan Mendukung Pertanian Modern

Sebelumnya, Bupati Kuningan, H Dian Rachmat Yanuar, melakukan aksi panen Buah Naga Kuning di Sangkanika Edugarden. Ia mengajak anak muda untuk mengubah cara pandang terhadap pertanian. Menurutnya, sektor ini kini sudah modern dan memiliki prospek ekonomi besar.

Bupati Dian menekankan bahwa pertanian hari ini sangat menjanjikan. Ia menyarankan agar anak muda tidak lagi berpikir bahwa setelah lulus harus menjadi pegawai negeri atau bekerja di perkantoran. Justru, pertanian memiliki prospek yang luar biasa jika dikelola dengan ilmu dan semangat kewirausahaan.

Tantangan Masa Depan: Ketahanan Pangan

Bupati Dian menyebut tantangan terbesar ke depan adalah menjaga ketahanan pangan. Karena itu, regenerasi petani harus menjadi kerja bersama agar semakin banyak anak muda terjun ke sektor pertanian.

Ia juga menyampaikan bahwa produksi pangan Kuningan meningkat dari sekitar 80 ribu ton menjadi sekitar 120 ribu ton. Hal ini menunjukkan bahwa kabar baik terkait produksi pangan daerah semakin terasa.

Integrasi Pertanian dengan Wisata Edukasi

Selain itu, Bupati Dian menilai konsep Sangkanika Edugarden sebagai contoh nyata integrasi pertanian dengan wisata edukasi pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi kreatif. Ia berharap pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan dan gedung, tetapi bagaimana kita mampu memberdayakan masyarakat melalui pertanian yang berjalan bersama pendidikan, pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

Motivasi untuk Petani Muda

Bupati Dian juga memotivasi petani muda dan peserta magang agar tidak mudah menyerah. Ia menekankan bahwa keberhasilan diraih lewat proses panjang, kerja keras, serta mau terus belajar dan berinovasi.

Visi Sangkanika Edugarden

Di tempat yang sama, Owner Sangkanika Edugarden, Achmad Nur Hidayat, menjelaskan bahwa Panen Raya Buah Naga Kuning adalah upaya membangun ekosistem yang menghubungkan pertanian dengan nilai pendidikan dan pariwisata. Dengan demikian, terdapat nilai ekonomi dari kreativitas seni dan budaya.

Ia menyatakan bahwa Sangkanika lahir dari keyakinan bahwa desa memiliki masa depan besar apabila pertanian berkembang. Ia ingin kebun bukan hanya tempat produksi, tetapi juga ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang kolaborasi.

Sangkanika berkomitmen menjadi rumah komunitas kreatif dan simpul kolaborasi petani muda serta pelaku wisata dan masyarakat. Kawasan ini juga akan dikembangkan inklusif dan ramah bagi seluruh kalangan, termasuk sahabat difabel.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version