Lonjakan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Sulawesi Utara
Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulawesi Utara mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2025. Data menunjukkan bahwa kedatangan penumpang internasional melalui Bandara Internasional Sam Ratulangi meningkat sebesar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data perbandingan antara tahun 2025 dan 2024, total penumpang internasional yang masuk ke Sulawesi Utara melalui bandara tersebut mencapai 268.069 orang.
Angka ini naik dari jumlah tahun 2024 yang mencatat 226.001 penumpang internasional. Selain penumpang, pergerakan pesawat internasional juga mengalami peningkatan tajam. Sepanjang tahun 2025 tercatat 2.539 penerbangan internasional, naik 48 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya 1.714 penerbangan.
Kebijakan dan Rekomendasi dari Akademisi
Data Imigrasi menunjukkan bahwa wisatawan asal Tiongkok mendominasi kedatangan wisman ke Sulawesi Utara. Jumlah wisatawan dari negara tersebut tumbuh sebesar 29,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain Tiongkok, peningkatan kunjungan juga terlihat dari wisatawan asal Korea Selatan.
Menanggapi lonjakan kunjungan wisman, Prof. Dr. Jozef R Raco, M.Sc, akademisi Universitas Katolik De La Salle Manado, menyebut peningkatan wisatawan asing sebagai momentum strategis bagi transformasi ekonomi Sulawesi Utara berbasis pariwisata internasional.
Menurutnya, lonjakan wisatawan asing, khususnya dari Tiongkok dan Korea Selatan, menunjukkan meningkatnya daya tarik destinasi Sulawesi Utara serta peran penting konektivitas penerbangan langsung ke Manado. Dalam perspektif ekonomi pariwisata, ini memberi multiplier effect yang besar bagi ekonomi daerah.
Dampak Ekonomi Langsung dan Tidak Langsung
Dampak ekonomi langsung paling terasa pada sektor akomodasi, transportasi, restoran, dan jasa perjalanan. Tingkat hunian hotel diperkirakan meningkat, mendorong pertumbuhan usaha perhotelan, homestay, hingga eco-lodge. Sektor kuliner lokal, termasuk restoran seafood dan kuliner khas Minahasa, juga mengalami peningkatan permintaan.
Pertumbuhan ini turut mendorong UMKM, penyedia jasa transportasi, tour operator, hingga penyerapan tenaga kerja lokal, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lebih jauh, Raco menilai belanja wisatawan memicu efek berantai ke sektor lain seperti pertanian, perikanan, industri kreatif, hingga properti.
Permintaan bahan pangan, hasil laut, bunga, serta kerajinan lokal ikut meningkat seiring bertambahnya aktivitas pariwisata. Dalam jangka panjang, lonjakan wisman bisa mempercepat transformasi struktur ekonomi Sulawesi Utara dari berbasis ekstraktif menuju ekonomi jasa berbasis pengalaman. Manado berpotensi semakin kuat sebagai hub pariwisata internasional di kawasan Pasifik Barat.
Risiko dan Rekomendasi Kebijakan
Meski berdampak positif, Raco mengingatkan adanya risiko yang perlu diantisipasi. Salah satunya tekanan terhadap daya dukung lingkungan di destinasi unggulan seperti Taman Nasional Bunaken dan kawasan pesisir Sulut. Menurutnya, overcrowding bisa menurunkan kualitas pengalaman wisata dan merusak ekosistem laut.
“Selain itu, ada potensi inflasi harga lokal serta risiko ketergantungan pada pasar tertentu seperti Tiongkok dan Korea,” katanya.
Raco mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat infrastruktur dasar, manajemen destinasi berbasis daya dukung lingkungan, serta peningkatan kualitas SDM pariwisata melalui pelatihan bahasa asing dan standar pelayanan internasional. Diversifikasi pasar wisatawan juga penting agar Sulut tidak terlalu bergantung pada satu atau dua negara.
Kebersihan kota dan pengelolaan sampah harus jadi prioritas agar citra destinasi tetap terjaga. Selain peran pemerintah, sikap masyarakat dinilai menjadi kunci keberlanjutan pariwisata Sulawesi Utara. Keterbukaan budaya, keramahan terhadap wisatawan, serta kesadaran menjaga kebersihan lingkungan akan memperkuat citra Sulut sebagai destinasi yang aman dan nyaman.
