Kehadiran Indonesia di World of Coffee Bangkok 2026
Aroma kopi menyebar dari sudut-sudut hall pameran BITEC, Bangkok, Thailand. Di antara deretan roastery dan pelaku industri kopi dunia, Indonesia kembali hadir dalam ajang World of Coffee (WoC) Bangkok 2026. Selain membawa biji kopi dari berbagai daerah, cerita tentang petani, pelaku UMKM, hingga mimpi menembus pasar global juga terbawa hingga Negeri Gajah Putih.
Tahun ini, Bank Indonesia (BI) berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok memfasilitasi 20 UMKM kopi binaan ke salah satu pameran specialty coffee terbesar dunia tersebut. Mulai dari kopi Arabika Semendo, Sumatera Selatan, Liberika dari Kalimantan Barat, hingga kopi wine halal asal Jember. Seluruhnya hadir dengan satu identitas, Kopi Indonesia.
Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau BI, Maulisa Yanti Nasution mengatakan, tantangan industri kopi global tahun ini semakin besar seiring meningkatnya pasokan kopi dunia. Kendati begitu, ia tetap optimistis kopi Indonesia memiliki ruang di pasar internasional lantaran karakter dan cita rasanya yang khas.
“Tahun 2025 ada gap supply yang cukup tinggi, sedangkan tahun 2026 pertumbuhan supply di market meningkat sehingga gap mulai tertutup. Ini menjadi challenge tersendiri bagi produk kopi Indonesia,” ujar Maulisa di sela-sela WoC Bangkok, Kamis (7/5).
Menurut Maulisa, kondisi pasar global menjadi peluang bagi kopi Indonesia yang memiliki karakter dan keunikan berbeda dibanding negara produsen lain. “Produk kopi Indonesia itu unik. Kami percaya diri produk kita bisa bersaing di pasar global,” imbuhnya.
Perkuat Ekonomi Inklusif Berbasis Ekspor
Sebelum terbang ke Bangkok, BI lebih dulu menyeleksi 180 UMKM binaan di seluruh Indonesia hingga akhirnya terkurasi menjadi 20 UMKM. Proses seleksi dilakukan berdasarkan kualitas produk, kesiapan produksi, hingga pengalaman ekspor. Beberapa di antaranya bahkan telah menembus pasar luar negeri, walaupun masih dalam skala kecil hingga menengah.
Partisipasi pada World of Coffee Bangkok merupakan keberlanjutan konsistensi BI dalam mendukung industri kopi Indonesia di berbagai ajang internasional. Seperti World of Coffee Athena 2023, Tokyo 2024, Jakarta 2025, hingga Specialty Coffee Expo di Amerika Serikat.
Beragam keikutsertaan ini tak semata sebagai agenda promosi produk. Di balik partisipasi itu, terdapat upaya mendorong ekonomi inklusif berbasis ekspor dengan membuka akses ekspor untuk UMKM lokal ke pasar internasional.
Tahapan menghadirkan UMKM binaan ke event internasional dimulai dari proses kurasi, pelatihan bisnis, pendampingan produksi, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli global.
Secara umum, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai 508,8 ribu ton atau melonjak 62,61% dibanding tahun sebelumnya (yoy). Seiring dengan lonjakan tersebut, nilai ekspor kopi Indonesia pada 2025 naik 54,04% (yoy) menjadi US$2,50 miliar. Hal ini menandakan ekspor kopi Indonesia berpotensi terus meningkat.
Thailand, Pasar Strategis Kopi Indonesia
Di kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk Thailand, Hari Prabowo menilai, partisipasi Indonesia di World of Coffee 2026 memiliki nilai strategis tinggi karena mempertemukan seluruh ekosistem kopi dunia, mulai dari petani, roastery, buyer, hingga industri.
“Indonesia hadir sebagai satu Indonesia. Ada kopi Jawa, Kalimantan, Bali, Papua, tetapi semuanya hadir sebagai kopi Indonesia,” ucap Hari.
Thailand dinilai menjadi pasar penting karena konsumsi kopi domestiknya terus meningkat. Selain itu, negara tersebut juga berperan sebagai hub perdagangan regional ASEAN dengan kunjungan wisatawan asing mencapai lebih dari 32 juta orang per tahun.
Menurut Hari, produksi kopi Thailand hanya berkisar 15.600 ton per tahun, jauh di bawah kebutuhan domestik yang mencapai lebih dari 90 ribu ton. “Thailand mengimpor sekitar 80 ribuan ton per tahun. Ini menjadi potensi pasar yang sangat penting bagi Indonesia,” ujarnya.
UMKM Binaan BI Menyeduh Peluang di WoC 2026
BI mengusung satu identitas nasional dalam pameran WoC 2026 Bangkok, yakni Kopi Indonesia. Salah satu UMKM yang ikut ke WoC Bangkok adalah Beskabean asal Sumatera Selatan. Pendiri Beskabean, Hendra Susanto, mengaku memulai usaha dari nol pada 2017 sebelum bergabung dengan program Wirausaha Bank Indonesia.
Ia kini memiliki 14 cabang coffee shop di Jakarta, Depok, dan Palembang, serta fasilitas roasting dan pengolahan kopi di Semendo, Sumatera Selatan. “Dulu saya sendirian, omzet mungkin cuma Rp50 ribu. Setelah dibina BI, sekarang punya banyak karyawan dan usaha berkembang,” ujar Hendra.
Menurut dia, BI tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga pembinaan manajemen bisnis, pelatihan produksi, pemasaran digital, hingga akses mengikuti pameran internasional. “BI lebih kasih pancing daripada kasih uang. Jadi kami diajarkan bagaimana bisa mandiri dan berkembang,” ulasnya.
Selain Beskabean, BI juga membawa Kojal Coffee yang fokus mengembangkan kopi Liberika dari Kalimantan Barat. Pendiri Kojal Coffee, Gusti Iwan Darmawan, mengatakan selama ini Kalimantan jarang dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Padahal, menurut dia, Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk pengembangan kopi Liberika yang cocok ditanam di dataran rendah dan lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Ia menjelaskan, Liberika memiliki kadar kafein lebih rendah dibanding Arabika dan Robusta, sehingga dinilai cocok untuk konsumen yang ingin menikmati kopi tanpa efek asam lambung atau jantung berdebar. Kojal Coffee bergabung sebagai UMKM binaan BI sejak 2019. Sebelumnya, usaha tersebut hanya berjualan kopi menggunakan gerobak sebelum akhirnya mendapat pendampingan dan akses promosi dari BI.
“Kami sangat dibantu BI. Bisa sampai ke Bangkok hari ini jadi kebanggaan bagi kami,” kata Gusti.
Lain lagi cerita Bedhag Coffee dari Jember, Jawa Timur, yang membawa produk kopi wine halal, salah satu produk unik dalam pameran tersebut. Pendirinya, Donny Agustinus Waluyo, mengatakan usaha itu bermula dari warung kecil pada 2016 sebelum mendapatkan fasilitasi sertifikasi halal dari BI.
Menurut Donny, keikutsertaan di ajang internasional penting untuk memahami selera pasar global. Selama ini, banyak pelaku kopi Indonesia hanya membandingkan produknya di pasar domestik. “Ketika masuk internasional, kita jadi tahu ternyata selera luar negeri berbeda. Ini jadi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan cita rasa,” katanya.
Melalui World of Coffee Bangkok 2026, BI berharap dapat memperluas pasar ekspor UMKM kopi Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen specialty coffee dunia. Selama gelaran World of Coffee, selain memfasilitasi pameran, dukungan BI kepada UMKM juga berupa pendampingan. Seperti sosialisasi, kurasi produk, penyiapan produksi, penyewaan booth, sampai business matching dengan calon pembeli potensial. Pendekatan pembinaan UMKM berbasis ekspor dinilai menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Selain itu, diharapkan juga dapat berkontribusi dalam peningkatan devisa negara, sehingga memberikan dampak positif terhadap penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.





