Penyebab AC Milan Gagal Lolos ke Liga Champions
AC Milan, yang dikenal sebagai salah satu klub terbesar di Italia, mengalami nasib buruk di musim 2025/2026. Meskipun sempat menjadi penantang kuat dalam perburuan gelar Scudetto, Rossoneri justru gagal memenuhi target mereka dan terlempar dari empat besar klasemen Serie A. Tim yang dilatih oleh Massimiliano Allegri ini finis di posisi kelima dengan total 70 poin, berupa 20 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 8 kekalahan.
Kekalahan terhadap Cagliari pada akhir musim mengubur mimpi AC Milan untuk tampil di Liga Champions musim depan. Mereka kalah dari AS Roma dan Como, yang membuat posisi mereka semakin tertinggal. Meski di awal musim, AC Milan dijagokan untuk meraih gelar juara karena pengeluaran besar di bursa transfer dan jadwal pertandingan yang relatif ringan, performa tim jauh di bawah ekspektasi.
Empat Penyebab Utama Gagalnya AC Milan
Meskipun ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan AC Milan, setidaknya terdapat empat penyebab utama yang mendorong Rossoneri gagal memenuhi target mereka.
1. Terlalu Percaya Diri
AC Milan dianggap terlalu percaya diri sejak awal musim, dengan mengincar gelar Scudetto. Performa awal yang solid dan tak terkalahkan selama 24 pertandingan di Serie A memberikan rasa percaya diri yang tinggi kepada pemain. Kemenangan melawan Inter Milan, Napoli, AS Roma, dan Lazio di paruh pertama musim memperkuat keyakinan tersebut.
Namun, kepercayaan diri yang berlebihan justru membuat tim lengah. AC Milan kalah dari tim-tim yang dianggap medioker seperti Parma, Udinese, dan Sassuolo. Hal ini menyebabkan kehilangan poin penting dan membuat performa tim menurun.

2. Manajemen Ruang Ganti yang Buruk
Massimiliano Allegri diketahui kehilangan ide dan inovasinya dalam memaksimalkan skuad. Meskipun budget transfer besar digelontorkan, rekrutan pemain tidak sesuai dengan taktik yang ia terapkan. Cedera juga menjadi masalah tambahan, karena para pemain pelapis tidak benar-benar memanfaatkan kesempatan.
Beberapa pemain, termasuk Rafael Leao, kehilangan kepercayaan pada Allegri. Insiden mencolok terjadi setelah kekalahan dari Lazio, saat Leao menolak pelukan Allegri saat diganti. Konfrontasi verbal antara Leao dan Allegri juga terjadi, yang berdampak pada penurunan performa tim.
3. Mentalitas yang Tidak Konsisten
Allegri memahami bahwa mentalitas para pemain AC Milan tidak stabil, terutama setelah kegagalan musim lalu. Ia memasang target lolos ke Liga Champions sebagai prioritas. Namun, harapan untuk meraih Scudetto justru berujung pada kehilangan momentum di laga krusial.
Kekalahan di kandang sendiri lebih banyak ketimbang laga away, terutama saat menghadapi tim-tim di bawah mereka. “Ketika kami kalah dalam lima pertandingan kandang seperti yang terjadi, akhirnya kami berada di posisi ini,” ujar Allegri.
4. Konflik antara Allegri dan Ibrahimovic
Konflik antara pelatih Massimiliano Allegri dan Zlatan Ibrahimovic, sebagai penasihat klub, memperparah situasi AC Milan. Setelah kekalahan dari Cagliari, Allegri menolak bertanggung jawab dan menilai kesalahan terjadi di seluruh sektor.
Konflik ini memicu pecahnya hubungan antara Allegri dan Ibrahimovic di sebuah restoran. Bahkan, keduanya sempat terlibat adu fisik hingga dipisahkan oleh CEO Giorgio Furlani dan Sporting Director Igli Tare. Akibatnya, AC Milan melakukan bersih-bersih dengan memecat Allegri dari kursi pelatih di akhir musim. Giorgio Furlani, Igli Tare, dan Technical Director Geoffrey Moncada juga ikut meninggalkan klub.




