Penangkapan Ikan Sapu-sapu di Jakarta: Upaya Melindungi Ekosistem Perairan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) melakukan penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak di lima wilayah kota administratif pada Jumat, 17 April 2026. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas dominasi ikan invasif yang dianggap telah merusak keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta. Ada sekitar 60 persen populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, khususnya di sungai-sungai.
Berikut adalah lima fakta mengenai penangkapan ikan sapu-sapu yang menyita perhatian masyarakat belakangan ini:
1. Gubernur DKI Instruksikan Penangkapan Ikan Sapu-sapu, Plaza Indonesia Jadi Role Model
Pada Selasa, 14 April 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta seluruh wali kota administratif untuk mulai memberikan perhatian khusus terhadap penanganan ikan sapu-sapu. Pramono mencontohkan aksi pembersihan yang sebelumnya dilakukan petugas gabungan di depan perairan kawasan Plaza Indonesia, sebagai acuan tindakan di wilayah lain.
Instruksi ini bertujuan agar pembersihan dilakukan secara masif dan terstruktur di seluruh aliran sungai Jakarta. Pemerintah menilai pola penanganan di lokasi tersebut efektif untuk diterapkan kembali, guna menekan populasi ikan invasif yang telah mengganggu ekosistem perairan ibu kota.
2. Ikan Sapu-sapu Kuasai 60 Persen Perairan Jakarta
Lebih lanjut, urgensi penanganan ini didasari data hasil penelitian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menyebutkan populasi ikan sapu-sapu telah mendominasi biota air. Diperkirakan lebih dari 60 persen penghuni perairan di Jakarta saat ini adalah spesies asal Amerika Selatan tersebut.
Tingginya populasi ini disebabkan kemampuan adaptasi ikan sapu-sapu yang sangat tinggi, bahkan di air yang keruh dan tercemar. Kondisi tersebut membuat ikan lokal atau endemik sulit bertahan hidup, karena kalah bersaing dalam mencari makanan serta telur-telurnya sering dimangsa ikan sapu-sapu.

3. Lima Lokasi Penangkapan Ikan Sapu-sapu
Sementara, operasi penangkapan ikan ini dilakukan secara serentak di lima wilayah kota administratif Jakarta. Titik penangkapan tersebar di lokasi-lokasi strategis seperti Kali Semongol di Jakarta Barat, Sungai Kendal di Jakarta Utara, hingga kawasan Pintu Air Outlet Setu Babakan di wilayah Jakarta Selatan.
Selain itu, petugas juga menyisir Sungai Banjir Kanal Barat (BKB) di Jakarta Pusat dan Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung di Jakarta Timur. Sebaran lokasi ini dipilih karena laporan mengenai kepadatan populasi ikan sapu-sapu yang cukup tinggi di saluran-saluran air dan sungai utama yang melintasi kawasan tersebut.

4. Total Ada 6,9 Ton Ikan Sapu-sapu yang Ditangkap, Jakarta Selatan Tertinggi
Kemudian, dari aksi serentak yang dilakukan pada Jumat lalu, Dinas KPKP mencatat total tangkapan mencapai 6,9 ton. Jumlah tersebut setara dengan 68.880 ekor ikan yang berhasil diangkat dari dasar sungai di lima wilayah administratif tersebut.
Jakarta Selatan menjadi penyumbang volume terbesar dengan angka mencapai 5,3 ton, disusul Jakarta Timur dengan 825,5 kilogram atau 4.128 ekor, dan Jakarta Pusat dengan 565 kilogram atau 536 ekor. Sementara, di Jakarta Barat mencatat jumlah paling sedikit, yakni 71 ekor dengan berat 17 kilogram.

5. Viral di Media Sosial
Diketahui, gerakan masif dari pemerintah ini bermula dari perhatian publik, setelah warga menangkap ikan sapu-sapu viral di media sosial. Konten dari Arief Kamarudin, pemuda asal Lenteng Agung, menunjukkan bagaimana ia rutin mengambil ribuan telur dan induk ikan dari Sungai Ciliwung.
Aksi tersebut memicu kesadaran mengenai perubahan ekosistem sungai yang kini sudah tidak lagi banyak dihuni udang atau ikan lokal.






