Dinamika Hubungan AS-Iran dan Konflik Regional
Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengalami perubahan signifikan sejak Donald Trump memimpin pemerintahan AS. Sebelumnya, hubungan kedua negara sempat stabil berkat kesepakatan nuklir JCPOA 2015. Namun, setelah Trump naik jabatan, situasi berubah drastis.
Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, menyatakan bahwa sebelum kebijakan luar negeri Trump diambil alih, hubungan antara AS dan Iran berada dalam kondisi yang relatif stabil. Meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, komunikasi politik dan penyelesaian masalah tetap berjalan positif, terutama setelah kesepakatan JCPOA pada 2015.
“Sebelum perang ini, sampai sebelum Trump naik panggung, Amerika dan Iran aman-aman saja,” ujar Dian dalam program Overview Tribunnews yang tayang Rabu (22/7/2026). Ia menambahkan bahwa meski ada sanksi ekonomi dan politik, semua masih terkontrol dalam koridor yang sangat positif.
Namun, ketika Trump mulai mengambil alih arah kebijakan luar negeri AS, situasi menjadi lebih kompleks. Kedekatan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga dinilai memperumit peluang perdamaian antara AS dan Iran.
Serangan Drone Iran di Fasilitas CIA
Serangan drone Iran terhadap fasilitas rahasia CIA di Teluk memicu investigasi terkait dugaan keterlibatan Rusia dalam dukungan teknologi dan koordinat sasaran. Para analis intelijen AS sedang mendalami hal ini.
Investigasi fokus pada dugaan penyediaan data koordinat sasaran hingga dukungan teknologi navigasi canggih dari Rusia. Meski belum ada kesimpulan akhir, efektivitas dan presisi tinggi serangan tersebut menjadi dasar utama dibukanya penyelidikan tertutup.
Salah satu serangan yang paling mencuri perhatian adalah pada bulan Maret 2026. Dua fasilitas rahasia CIA di kawasan Teluk menjadi target serangan Iran. Salah satu lokasi yang dihantam adalah stasiun operasi CIA di dalam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Target lainnya dilaporkan berada di wilayah Irak bagian timur.
Beberapa sumber internal mengindikasikan jumlah fasilitas yang terdampak berkisar antara dua hingga belasan titik lokasi. Meskipun detail spesifik mengenai keberadaan markas-markas tersebut dirahasiakan demi alasan keamanan nasional.
Pos-pos intelijen luar negeri seperti safe house, pusat logistik, dan stasiun pengawasan terpadu merupakan salah satu rahasia paling ketat yang dimiliki oleh badan intelijen AS.
Kedekatan Trump-Netanyahu dan Tantangan Perdamaian
Pengamat Timur Tengah sekaligus dosen Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS), Septyanto Galan Prakoso, menilai kedekatan Presiden AS Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi salah satu faktor yang membuat konflik dengan Iran semakin sulit diselesaikan.
Menurut Galan, dalam setiap konflik selalu terdapat pihak yang tidak menginginkan proses perdamaian berjalan karena memiliki kepentingan tertentu. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan teori spoiler dalam studi resolusi konflik.
“(Teori spoiler adalah) satu konsep di mana dalam setiap konflik itu pasti ada pihak atau aktor yang berusaha menggagalkan atau menghambat proses perdamaian,” jelas Galan dalam program Overview Tribunnews yang tayang pada Rabu (22/7/2026).
Galan menegaskan bahwa jika teori tersebut diterapkan pada konflik Iran-Amerika Serikat saat ini, maka Israel dapat dipandang sebagai salah satu pihak yang berkepentingan agar perang tidak segera berakhir.
Baku Tembak di Pos Pemeriksaan Narathiwat
Sedikitnya lima personel militer Thailand tewas dan enam warga sipil terluka setelah sekelompok pria bersenjata menyerang sebuah pos pemeriksaan keamanan di Provinsi Narathiwat, Thailand selatan, pada malam 22 Juli 2026.
Militer Thailand menyatakan sekitar 10 penyerang yang mengenakan pakaian dan topi hitam tiba di lokasi menggunakan truk pikap serta sepeda motor sebelum melancarkan serangan terhadap personel Resimen Pasukan Khusus ke-45 yang sedang bertugas di Pos Pemeriksaan Buketa Sami.
Para pelaku menggunakan senjata api otomatis dan bom rakitan dalam serangan tersebut. Setelah menyerang, mereka melarikan diri sambil membawa tiga senapan AK-47, tiga rompi antipeluru, dan sejumlah telepon seluler milik aparat.
Pasukan keamanan kemudian menemukan truk pikap yang diduga digunakan pelaku dalam keadaan terbakar sekitar 21 kilometer dari lokasi kejadian. Hingga kini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, dan otoritas Thailand juga belum mengumumkan adanya penangkapan.
Serangan IRGC ke Pangkalan Militer AS
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Yordania. Menurut media pemerintah Iran, serangan tersebut menyasar berbagai fasilitas militer, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur pendukung operasi militer AS.
Mengutip penyiar pemerintah Iran, IRIB, IRGC menyatakan serangan di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, menghancurkan gudang besar peralatan militer, sistem pertahanan udara Patriot milik AS, serta hanggar yang digunakan untuk menyimpan drone MQ-9.
IRGC juga mengklaim telah menyerang akomodasi personel militer AS dan dua hanggar helikopter di Kamp Udairi. Kelompok tersebut menyebut serangan mengakibatkan korban di pihak militer AS dan menimbulkan kerusakan pada sejumlah helikopter serta drone, meski tidak memberikan rincian mengenai jumlah korban maupun bukti pendukung.
Selain itu, IRGC mengatakan pihaknya menargetkan sebuah menara telekomunikasi sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur komunikasi di Iran.
“Serangan ini hanya menyasar lokasi yang digunakan militer Amerika Serikat dan tidak dimaksudkan sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan maupun keutuhan wilayah Kuwait,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran, mengutip Anandolu Agency, Kamis (23/7/2026).
