Menghadapi Era Digital, Orangtua Perlu Memiliki Strategi yang Tepat

Dalam era modern yang serba digital, tantangan terbesar bagi para orangtua bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi, melainkan bagaimana memastikan anak-anak bisa menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab. Dalam diskusi hangat di Press Briefing #AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia di Jakarta Pusat, beberapa ahli berbagi pandangan penting tentang pengasuhan digital agar anak-anak bisa menjelajahi dunia siber secara bijak.

Berikut adalah lima langkah bijak dalam membangun hubungan digital yang sehat bersama anak di rumah:

1. Menjaga Keseimbangan Antara Perlindungan dan Rasa Percaya

Tantangan utama yang sering kali dihadapi orangtua saat mengawasi anak adalah munculnya rasa terkekang dalam diri anak, padahal di sisi lain anak-anak juga sangat membutuhkan rasa dipercaya dari orangtua mereka untuk menumbuhkan harga diri. Memberikan kepercayaan di dalam rumah sangat efektif untuk membangun rasa percaya diri pada anak karena anak cenderung “meminjam” rasa percaya diri dari orangtua mereka lalu mengaplikasikannya ke dalam diri mereka sendiri.

Namun, pemberian kebebasan ini tetap harus dibersamai dengan tanggung jawab perlindungan yang disesuaikan dengan tahapan usia anak. Proses ini harus berjalan sesuai fungsinya masing-masing, di mana orangtua berfungsi untuk melindungi dan menyayangi, sementara anak menjalankan tugasnya untuk belajar.

Jika perlindungan diberikan tanpa adanya kepercayaan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penakut, sedangkan kepercayaan yang diberikan tanpa adanya perlindungan akan membuat anak menjadi sangat rentan di dunia maya.

2. Memenuhi Kebutuhan Emosional Anak di Dunia Nyata Terlebih Dahulu

Membangun hubungan yang sehat dengan dunia digital bisa dianalogikan seperti mengenalkan makanan kepada anak di rumah, di mana mereka harus diajarkan untuk mengenali tanda atau isyarat rasa lapar dan rasa kenyang di dalam tubuh mereka sendiri. Anak-anak perlu dibimbing untuk mengetahui apa saja tanda-tandanya, porsi yang pas, serta jenis konten apa yang layak untuk mereka lihat atau konsumsi sehari-hari.

Proses pengenalan ini tidak bisa terjadi secara instan, melainkan membutuhkan keteladanan nyata dari orangtua yang konsisten memberikan contoh yang baik dalam membatasi penggunaan gadget pribadi mereka sendiri. Ketika anak sudah memahami apa yang menjadi kebutuhan aslinya, mereka secara otomatis akan mencari konten digital sesuai dengan porsinya.

3. Melatih Kematangan Emosional dan Kemampuan Critical Thinking Anak

Berdasarkan pengalaman Nanda di dunia pendidikan, anak-anak zaman sekarang sebenarnya sangat cerdas dan sama sekali tidak akan kesulitan dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi modern saat ini. Justru, pemikiran bahwa anak akan tertinggal jika tidak memegang gadget sejak dini adalah sebuah salah kaprah yang sering kali membuat orangtua merasa khawatir secara berlebihan.

Fokus utama yang perlu diwaspadai oleh orangtua bukanlah kemampuan teknis anak, melainkan kesiapan mental mereka saat berhadapan dengan arus informasi di internet. Tanpa adanya bekal berpikir kritis, anak-anak akan sangat rentan untuk sekadar ikut-ikutan tren yang viral di media sosial tanpa tahu apa dampak buruk yang mengintai di baliknya.

4. Menerapkan Framework THINK di Rumah

Untuk melatih kemampuan berpikir kritis anak secara terstruktur sejak dini, orangtua bisa menerapkan sebuah kerangka kerja berpikir yang sangat praktis, yaitu melalui framework THINK. Framework ini sangat membantu membimbing anak karena pada dasarnya bagian otak anak yang berfungsi untuk menentukan keputusan dan berpikir kritis memang belum matang sempurna.

Framework THINK terdiri dari:
* T (Is It True), untuk memancing anak bertanya apakah informasi yang dilihat itu benar;
* H (Is It Helpful), untuk mengasah rasa empati anak;
* I (Is It Inspiring), untuk melihat apakah tontonan tersebut menginspirasi mereka untuk belajar;
* N (Is It Necessary), untuk melatih kemampuan penilaian apakah konten itu penting ditonton; dan
* K (Is It Kind), untuk memastikan tayangan tersebut baik untuk disajikan.

Melalui pola pikir ini, anak diarahkan untuk menjadi seorang pencipta konten yang aktif dan kreatif, serta memahami bahwa apa yang mereka tulis, sebarkan, dan tonton akan menyisakan jejak digital yang selalu beriringan dengan tanggung jawab serta konsekuensinya.

5. Mindset yang Harus Ditetapkan Saat Melindungi Anak dari Dunia Digital

Sebagai langkah praktis yang bisa segera diterapkan di rumah, Nanda mengingatkan agar Mama menyadari bahwa anak-anak tumbuh dengan kodrat alam dan kodrat zamannya masing-masing yang tidak bisa disamakan dengan zaman dulu. Internet harus buat kalian berdampak, berdaya, dan kreatif.

Mama tidak perlu merasa lelah mengawasi anak selama 24 jam penuh, melainkan andalkan saja fitur-fitur proteksi teknologi yang sudah tersedia. Selaras dengan hal tersebut, Marsha membagikan tiga kunci utama penutup, yaitu selalu utamakan Connection before correction dengan membangun koneksi erat sampai anak terbuka, Curiosity over control dengan mencari tahu alasan anak tertarik pada suatu tayangan sebelum memberikan batasan, dan Consistency over perfection untuk membangun kebiasaan baik lewat aturan kecil yang disepakati bersama.

6. Memanfaatkan Ragam Fitur Proteksi Otomatis Google dan YouTube

Sebagai landasan awal, kebutuhan akan panduan digital ini semakin diperkuat oleh data survei Ipsos pada Agustus 2025 yang menyatakan bahwa:
* 90% orangtua setuju YouTube membantu pembelajaran untuk anak-anak,
* 81% menganggapnya sebagai sumber penting untuk belajar anak,
* dan 92% memandang YouTube sebagai platform edukasi anak-anak.

Melalui basis data tersebut, Google merancang ekosistem digital agar orang-orang bisa menemukan hal baru yang berkualitas dan aman untuk ditonton anak-anak dan remaja. Beberapa sistem proteksi cerdas yang wajib diaktifkan antara lain:
* Fitur SafeSearch yang secara otomatis atau default menyaring konten sensitif untuk pengguna di bawah usia 18 tahun,
* Gemini yang akan memberikan jawaban berbeda dan disesuaikan berdasarkan kelompok usia di bawah 13 tahun dan di bawah 18 tahun.
* Pengaturan otomatis di YouTube seperti pengingat waktu istirahat (take a break) dan waktu tidur (bed time).

Apakah Mama sudah mencoba menerapkan framework THINK saat mendampingi anak mengakses internet hari ini?

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version