Penyusutan Luas Permukaan Danau Kerinci
Permukaan Danau Kerinci, yang berada di Kabupaten Kerinci, mengalami penyusutan sebesar 70 hektare berdasarkan data terbaru. Dalam kurun waktu setahun, luas permukaan danau yang sebelumnya mencapai sekitar 4.516 hektare kini hanya tersisa 4.445 hektare. Fenomena ini menunjukkan fluktuasi hidrologis yang ekstrem, dengan kondisi yang berubah drastis dari meluap pada akhir 2024 hingga menyusut pada awal 2026.
Penyusutan tersebut merupakan bagian dari gejala ketidakseimbangan tata air di kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Danau Kerinci. Menurut analisis Kelompok Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, fungsi resapan dan penyimpanan air di kawasan hulu semakin terganggu. Hal ini disebabkan oleh penurunan tutupan hutan di wilayah DAS tersebut.
Pada tahun 2024, luas tutupan hutan di kawasan DAS yang bermuara ke Danau Kerinci tercatat sekitar 24.225 hektare. Namun, pada 2025, jumlahnya turun menjadi 22.480 hektare. Artinya, hampir 1.800 hektare hutan hilang dalam waktu satu tahun. Total luas DAS yang bermuara ke Danau Kerinci mencapai sekitar 97.306 hektare, tetapi tutupan hutannya kini hanya sekitar 23 persen. Padahal, jika tutupan hutan di bawah 30 sampai 40 persen, maka DAS menjadi rapuh.
Hutan memiliki peran penting sebagai “spons alam” yang menyerap dan menyimpan air. Ketika hutan berkurang, air hujan tidak lagi tersimpan dengan baik, sehingga memicu banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Selain itu, kerusakan hutan juga meningkatkan potensi erosi dan sedimentasi yang masuk ke danau.
Potensi Material Tanah dan Pasir yang Terbawa ke Danau
Hasil analisis KKI Warsi menunjukkan bahwa potensi material tanah dan pasir yang terbawa ke kawasan Danau Kerinci akibat erosi mencapai sekitar 3,2 juta hingga 4,2 juta ton per tahun. Material tersebut kemudian mengendap di sungai dan danau, sehingga mempercepat proses pendangkalan. Sedimentasi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan danau mengalami penyusutan.
Selain itu, kondisi Danau Kerinci juga dikaitkan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan tersebut. Proyek PT Kerinci Merangin Hidro rencananya memiliki kapasitas terpasang 350 megawatt dengan empat unit turbin. Untuk menggerakkan turbin PLTA dibutuhkan debit air sekitar 59,4 meter kubik per detik dari Sungai Batang Merangin yang hulunya berasal dari Danau Kerinci.
Namun, penurunan daya dukung lingkungan berpotensi mempengaruhi stabilitas debit air. Jika air danau terus menyusut, debit sungai tentu ikut berkurang. Ini bisa berdampak pada kemampuan pembangkit untuk mencapai kapasitas yang direncanakan.
Potensi Karhutla di Jambi
Selain persoalan air, Direktur KKI Warsi juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Jambi yang mulai meningkat. Berdasarkan pemantauan sejak 1 Januari hingga 6 Maret 2026, terdeteksi sekitar 195 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Provinsi Jambi. Sebaran titik panas tersebut antara lain berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 76 titik, Muaro Jambi 34 titik, Sarolangun 23 titik, Merangin 20 titik, Tanjung Jabung Timur 16 titik, Tebo 10 titik, Batanghari 9 titik, Kerinci 5 titik, Sungai Penuh 3 titik dan Bungo 2 titik.
Kemunculan titik panas ini berkaitan dengan prediksi musim kemarau yang datang lebih awal di Sumatra. Krisis air dan krisis kebakaran sebenarnya dua tanda dari masalah yang sama, yaitu melemahnya perlindungan terhadap alam. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, ekonomi hingga stabilitas sosial.
Harga Ikan di Kerinci Naik Drastis
Harga sejumlah jenis ikan di pasar tradisional Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci mengalami kenaikan sepekan terakhir. Warga mengeluhkan dampak kenaikan harga itu berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Contohnya, harga ikan mujair yang sebelumnya berkisar Rp40 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp60 ribu per kilogram. Harga ikan barai naik dari Rp80 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram.
Beberapa pedagang menyebutkan, pemicu lonjakan harga karena berkurangnya pasokan ikan dari petani keramba maupun nelayan. Faktor cuaca yang tidak menentu, serta kondisi air danau dan sungai yang menyusut, disebut turut memengaruhi hasil tangkapan dan panen ikan. Akibatnya, harga ikan terus meningkat dan membuat pembeli harus merogoh kocek lebih dalam.
Masyarakat Sudah Mengadu
Masyarakat sekitar sudah mengadukan menyusutnya debit air Danau Kerinci kepada DPRD Kerinci. Februari lalu, masyarakat menyampaikannya saat pimpinan dan jajaran DPRD Kerinci meninjau Sungai Tanjung Merindu dan sejumlah titik terdampak. Nanang, perwakilan warga Pulau Pandan dan Karang Pandan, mengatakan sejak awal masyarakat telah memperingatkan potensi dampak jangka panjang aktivitas PLTA terhadap ekosistem danau dan sungai. Namun peringatan itu tak pernah benar-benar ditanggapi.
Keluhan serupa disampaikan Arismanto, nelayan Desa Sanggaran Agung. Ia mengaku kini tidak bisa lagi mengoperasikan alat tangkap ikan karena air danau terus menyusut. “Ini mata pencaharian kami. Ekonomi keluarga terganggu. Kami terpaksa mencari pekerjaan lain,” ujar Arismanto.
Perubahan Drastis di Danau Kerinci
- Akhir 2024: Danau Kerinci meluap hingga merendam desa dan persawahan di sekitarnya
- Awal 2026: Justru penyusutan drastis
- Bagian dari gejala ketidakseimbangan tata air di kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Danau Kerinci.
- Fungsi resapan dan penyimpanan air di kawasan hulu semakin terganggu.
Tutupan Hutan di Danau Kerinci
- Pada 2024: 24.225 Ha
- Pada 2025: 22.480 Ha
- Susut 1.800 Ha
Dampak Tutupan Hutan Berkurang
- “Spons alam” untuk menyerap dan menyimpan air berkurang
- Air hujan tidak lagi tersimpan dengan baik
- Memicu banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau
- Meningkatkan potensi erosi dan sedimentasi yang masuk ke danau
- Terjadi endapan di Danau Kerinci
Sumber data: KKI Warsi, Februari 2026
