Wisata Sejarah yang Menarik di Sekitar Keraton Kasunanan Surakarta
Keraton Kasunanan Surakarta menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Tempat ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menawarkan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan secara mandiri atau bersama teman-teman. Dengan jalan kaki, pengunjung dapat menjelajahi berbagai spot menarik mulai dari alun-alun, museum, hingga kampung budaya.
Berikut adalah beberapa aktivitas seru yang bisa dilakukan saat mengunjungi area sekitar Keraton Kasunanan Surakarta:
1. Bersantai di Alun-alun Kidul Surakarta
Alun-alun Kidul Surakarta selalu ramai pengunjung, bahkan pada hari biasa. Pada pagi hari, kawasan ini dipenuhi warga yang berolahraga, terutama jogging, karena alun-alun ini memiliki lintasan jogging track yang lebar dan cukup panjang. Selain itu, tersedia area untuk senam bersama, jalur sepeda, serta pedestrian yang nyaman untuk berjalan santai. Fasilitas pendukungnya pun lengkap, mulai dari toilet umum, musala, masjid, hingga deretan kedai makanan. Lokasinya mudah dijangkau dengan kendaraan umum dan terhubung langsung dengan kawasan permukiman. Menariknya, saat malam hari Alun-alun Kidul terkadang berubah menjadi pasar malam yang meriah.
2. Napak Tilas di Museum Keraton Surakarta Hadiningrat

Museum Keraton Surakarta Hadiningrat berada di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Wisatawan yang hanya ingin berswafoto di bagian depan keraton tidak perlu membeli tiket, karena area yang dibuka untuk umum hanya bagian museum. Namun, jika ingin masuk dan mengikuti tur berpemandu, pengunjung perlu membeli tiket mulai dari Rp35 ribu per orang. Loket tiket berada di sisi kiri bangunan keraton. Nantinya, pengunjung akan diajak berkeliling museum sambil mendengarkan penjelasan tentang sejarah Kota Solo, Keraton Surakarta, serta berbagai koleksi bersejarah yang tersimpan di dalamnya.
3. Belanja Batik di Pasar Klewer

Berjarak hanya beberapa ratus meter dari kawasan keraton, Pasar Klewer menjadi destinasi wajib dalam walking tour ini. Pasar legendaris tersebut dikenal sebagai pusat penjualan batik dan pakaian dengan harga terjangkau. Di lantai paling atas dan area luar pasar, terdapat pula sentra kuliner yang menawarkan beragam makanan khas Solo. Pasar Klewer terletak di kawasan Coyudan, salah satu jalan tertua di Solo yang kini dikenal sebagai Jalan Dr. Rajiman. Pasar ini telah ada sejak masa pendudukan Jepang dan berkembang menjadi bagian penting dari kawasan bisnis utama Kota Solo.
4. Belajar Membatik di Kampung Batik Kauman
Kampung Batik Kauman menjadi salah satu spot favorit wisatawan untuk berswafoto, berbelanja, hingga belajar membatik. Kawasan ini dipenuhi latar Instagramable, mulai dari rumah bercat warna-warni, ornamen bernuansa batik, hingga berbagai tempat nongkrong yang nyaman. Sesuai namanya, pengunjung akan dengan mudah menemukan toko-toko yang menjual batik beserta produk turunannya. Secara historis, masyarakat Kauman dahulu merupakan abdi dalem keraton. Mereka kemudian memanfaatkan keterampilan membatik yang diajarkan oleh pihak keraton hingga berkembang menjadi sentra batik berskala besar seperti sekarang.
5. Ibadah di Masjid Agung Keraton Surakarta

Masjid Agung Kwraton Surakarta terletak tepat di sebelah Kampung Batik Kauman dan berhadapan langsung dengan Pasar Klewer. Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwono III. Arsitekturnya menunjukkan akulturasi budaya Jawa Kuno dan Belanda. Bangunan masjid berbentuk tajug dengan atap tumpang tiga yang berpuncak mustaka atau kubah. Bentuk tersebut melambangkan pokok ajaran Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Keunikan lainnya terletak pada mustaka yang konon dilapisi emas murni seberat 7,68 kilogram.
6. Cari Ketenangan di Alun-alun Lor Surakarta
Alun-alun Lor Surakarta bisa menjadi tempat ideal untuk beristirahat sejenak saat walking tour. Meski luasnya setara dengan Alun-alun Kidul, suasananya terasa berbeda. Alun-alun Lor cenderung lebih sepi, teduh, dan nyaman bagi pejalan kaki, sementara area di sekitarnya justru lebih ramai. Alun-alun ini berhadapan langsung dengan Gapura Gladag dan dikelilingi pusat perbelanjaan serta kawasan kuliner. Sepinya alun-alun ini bukan tanpa alasan, sebab baru kembali diaktifkan setelah renovasi pada akhir 2024. Saat ini sudah dibuka untuk umum, meski pengunjung belum diperbolehkan menginjak rumput karena masih dalam masa pemeliharaan.
7. Foto-foto di Gedung Djoeang 45 Solo
Gedung Djoeang 45 Solo bisa menjadi penutup walking tour yang menarik. Gedung ini berada di dekat Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), dan Petit Boutique Hotel. Untuk mencapainya, pengunjung perlu melewati Gapura Gladag lalu belok ke kanan. Gedung Djoeang 45 dibangun pada 1876 oleh pemerintah Hindia Belanda dan menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dahulu, bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantin tentara Belanda, asrama militer, hingga markas TNI. Kini, gedung tersebut beralih fungsi menjadi museum dan destinasi wisata sejarah. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk jika hanya berada di area luar gedung, kecuali biaya parkir bagi yang membawa kendaraan. Untuk masuk ke dalam gedung, pengunjung perlu membeli gelato dengan harga minimal Rp20 ribu. Tempat ini biasanya lebih ramai pada malam hari karena dihiasi lampu warna-warni yang Instagramable.





