Rumah Singgah sebagai Tempat Berlindung bagi Anak Pejuang Kanker
Di tengah perjuangan melawan kanker, banyak anak dari luar daerah harus tinggal jauh dari rumah demi menjalani pengobatan di Jakarta. Proses pengobatan yang panjang seringkali memaksa mereka dan keluarga untuk bolak-balik rumah sakit selama bertahun-tahun. Di balik proses tersebut, ada sebuah rumah singgah yang menjadi tempat tinggal sementara sekaligus ruang aman bagi anak-anak pejuang kanker dan keluarganya. Di tempat ini, mereka bisa beristirahat, belajar, bermain, hingga mendapatkan dukungan emosional selama menjalani pengobatan.
Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang kehidupan di rumah singgah untuk anak pejuang kanker:
-
Anak-anak bisa tinggal tanpa batas waktu selama pengobatan
Banyak pasien anak datang dari luar kota dan harus menjalani pengobatan dalam waktu lama. Karena itulah rumah singgah menjadi tempat tinggal sementara bagi anak dan pendampingnya selama proses pengobatan berlangsung. Menariknya, tidak ada batas waktu tinggal selama masih dibutuhkan dokter. Ada anak yang tinggal selama dua hingga empat tahun demi menyelesaikan pengobatan. -
Rumah singgah menampung puluhan anak dari berbagai daerah
Rumah singgah ini memiliki kapasitas sekitar 50 anak beserta orangtuanya. Sebagian besar penghuni datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk menjalani pengobatan di Jakarta. Biasanya satu anak didampingi satu orangtua. Namun untuk anak usia di bawah lima tahun, kedua orangtuanya diperbolehkan tinggal bersama jika memang dibutuhkan.

-
Semua kebutuhan harian anak ikut disediakan
Bukan hanya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari anak dan keluarga juga ikut dipenuhi. Mulai dari makan, tempat tidur, hingga fasilitas bersama disediakan agar keluarga bisa lebih fokus mendampingi anak selama pengobatan. Hal ini penting karena banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi setelah anak didiagnosis kanker. Tidak sedikit orangtua yang akhirnya harus berhenti bekerja demi menemani proses pengobatan anak.

-
Anak-anak tetap bisa sekolah meski sedang menjalani pengobatan
Salah satu hal yang menarik, anak-anak di rumah singgah tetap mendapatkan akses pendidikan formal. Guru-guru akan berkoordinasi langsung dengan sekolah asal masing-masing anak agar mereka tidak tertinggal pelajaran. “Guru-guru kami menghubungi langsung sekolah mereka satu per satu. Jadi anak-anak tetap bisa belajar dan tidak putus sekolah,” jelas Ira. Bahkan, guru juga rutin datang ke beberapa rumah sakit untuk mengajar anak-anak yang masih menjalani perawatan intensif.

-
Banyak keluarga kesulitan biaya transportasi untuk kembali berobat
Meski pengobatan sudah ditanggung BPJS, banyak keluarga tetap menghadapi kesulitan lain seperti biaya transportasi, pemeriksaan tambahan, hingga kebutuhan sehari-hari selama tinggal di Jakarta. Ira mengungkapkan, ada keluarga yang sempat pulang kampung tetapi kesulitan kembali karena tidak memiliki ongkos perjalanan. “Kadang pengobatan terputus karena mereka pulang dan untuk kembali lagi tidak punya ongkos,” ungkapnya.

-
Rumah singgah juga memberikan dukungan psikososial
Perjuangan melawan kanker bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mental. Karena itu, anak dan orangtua juga mendapatkan dukungan psikososial agar tetap kuat menjalani proses pengobatan. Selain belajar dan bermain bersama, anak-anak juga didampingi agar tetap memiliki semangat serta harapan selama masa pengobatan.

-
Menggelar penampilan musikal untuk menyuarakan perjuangan anak pejuang kanker
Sebagai bentuk dukungan untuk anak-anak pejuang kanker, akan digelar pergelaran amal pada 20 Mei 2026 di Djakarta Theatre. Pergelaran ini akan melibatkan lebih dari 250 penampil lintas generasi, mulai dari survivor kanker anak, paduan suara, musisi, hingga relawan kemanusiaan. Acara ini diinisiasi oleh Martha Haliman bersama berbagai kolaborator untuk menggalang dukungan bagi anak-anak pejuang kanker di Indonesia.





