Kondisi Kemiskinan di Sumatera Barat pada September 2025
Pengeluaran penduduk miskin di Sumatera Barat (Sumbar) masih didominasi oleh kebutuhan pangan. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar menunjukkan bahwa sebanyak 76,36 persen pengeluaran penduduk miskin digunakan untuk konsumsi pangan. Hal ini menjadikan mereka sangat rentan terhadap kenaikan harga bahan pokok.
Jumlah penduduk miskin di Sumbar pada September 2025 mencapai 312.300 orang atau sebesar 5,31 persen dari total populasi. Angka ini sedikit turun dibandingkan Maret 2025, meskipun penurunan tersebut tidak signifikan. Tren penurunan jumlah penduduk miskin terlihat dalam periode September 2016 hingga September 2025, dengan jumlah penduduk miskin pada tahun 2016 sebesar 376.510 jiwa atau 7,14 persen.
Perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan terlihat jelas dalam data kemiskinan. Persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan turun dari 3,91 persen menjadi 3,75 persen, sementara di wilayah perdesaan justru naik dari 6,93 persen menjadi 7,03 persen pada periode yang sama.
Komoditas yang Mempengaruhi Garis Kemiskinan
Komoditas pangan memainkan peran penting dalam membentuk garis kemiskinan. Beras menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yaitu sebesar 20,73 persen di perkotaan dan 25,29 persen di perdesaan. Rokok kretek filter berada di urutan kedua dengan kontribusi 12,38 persen di perkotaan dan 12,25 persen di perdesaan.
Beberapa komoditas lain seperti cabe merah, telur ayam ras, tongkol, tuna, cakalang, daging ayam ras, bawang merah, dan roti juga turut memengaruhi garis kemiskinan. Di sisi lain, komoditas non-pangan seperti perumahan, bensin, pendidikan, listrik, perlengkapan mandi, dan angkutan memberikan kontribusi sebesar 23,64 persen.
Biaya perumahan menyumbang 6,38 persen di perkotaan dan 5,94 persen di perdesaan. Bensin menyumbang 3,14 persen di perkotaan dan 2,87 persen di perdesaan, sedangkan pendidikan menyumbang 3,06 persen di perkotaan dan 1,53 persen di perdesaan.
Perkembangan Garis Kemiskinan
Garis kemiskinan di Sumbar pada September 2025 tercatat sebesar Rp776.517 per kapita per bulan. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 6,40 persen dibandingkan Maret 2025 dan 8,61 persen dibandingkan September 2024. Kenaikan garis kemiskinan juga terjadi di perkotaan sebesar 6,28 persen dan di perdesaan sebesar 6,55 persen pada periode Maret 2025 hingga September 2025.
Garis kemiskinan rumah tangga pada September 2025 tercatat sebesar Rp4.022.358 per rumah tangga per bulan. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin sebanyak 5,18 orang. Nilai ini menggambarkan batas minimum pengeluaran rumah tangga agar tidak dikategorikan miskin.
Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan
Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di Sumbar menunjukkan kenaikan pada periode Maret 2025 hingga September 2025. Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 0,736 menjadi 0,865, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,164 menjadi 0,221.
Di wilayah perdesaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan tercatat lebih tinggi dibandingkan perkotaan, yaitu 1,357 dibandingkan 0,415. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan di perdesaan mencapai 0,195, sedangkan di perkotaan hanya 0,135. Data ini menunjukkan perbedaan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin di wilayah perkotaan dan perdesaan.
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan
Beberapa faktor memengaruhi tingkat kemiskinan di Sumbar pada periode Maret 2025 hingga September 2025. Inflasi umum Provinsi Sumbar tercatat sebesar 3,60 persen pada September 2025 terhadap Februari 2025. Pertumbuhan ekonomi Triwulan III-2025 tercatat sebesar 1,41 persen dibandingkan Triwulan I-2025. Konsumsi rumah tangga Triwulan I-2025 tercatat tumbuh 0,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai Tukar Petani pada Februari 2025 tercatat sebesar 130,17 atau naik 3,18 persen dibandingkan Maret 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka pada Agustus 2025 tercatat sebesar 5,62 persen, turun 0,07 persen poin dibandingkan Februari 2025.
Struktur Pengeluaran Penduduk Miskin
Struktur pengeluaran penduduk miskin di Sumbar yang didominasi oleh kebutuhan pangan menunjukkan bahwa kelompok penduduk miskin masih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Hal ini menjadikan mereka sangat sensitif terhadap perubahan harga komoditas pangan, terutama beras, cabe merah, telur ayam ras, dan ikan.




