Semangat untuk Belajar dan Memperkenalkan Budaya
Seorang pemuda asal Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, rela menempuh perjalanan sejauh 761 kilometer ke Jember, Jawa Timur, demi mengikuti ajang Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) 2026. Ia adalah Miftahus Syarif, yang dikenal dengan nama panggilan Syarif Borneo. Perjalanan ini bukan hanya sekadar tampil di atas runway, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar dan memperkenalkan budaya daerahnya.
Terinspirasi oleh JFC
Syarif mengakui bahwa ketertarikannya terhadap Jember Fashion Carnaval (JFC) telah muncul sejak empat tahun lalu. Ia sempat datang ke Jember sebagai penonton pada 2022, dan dari sana ia merasa tertantang untuk ikut serta dalam ajang tersebut. Setelah mengikuti perkembangan JFC melalui media sosial, ia akhirnya membulatkan tekad untuk kembali, kali ini sebagai peserta.
Perjalanan lintas pulau yang dilakukannya tidak hanya menjadi bukti keseriusan mengikuti ajang bergengsi, tetapi juga menjadi wujud tekad untuk belajar langsung dari salah satu karnaval terbaik di Indonesia. Baginya, tampil di WACI bukan sekadar mengikuti parade kostum, tetapi juga menjadi momentum untuk membawa identitas budaya Kotawaringin Barat sekaligus menyerap pengalaman yang selama ini hanya ia pelajari melalui media sosial.
Kostum Berat dan Pengalaman Berharga
Dalam ajang WACI 2026, Syarif dan delegasi Kotawaringin Barat membawa kostum seberat 12 kilogram. Meskipun berat, mereka berhasil membawanya dengan bantuan ilmu yang dipelajari dari JFC. Teknik mengemas kostum karnaval berukuran besar membuat perjalanan dari Kalimantan menuju Jember lebih mudah.
Delegasi Kotawaringin Barat juga didukung oleh penari asal Kabupaten Jember yang membawakan tarian khas Dayak Kotawaringin Barat. Hal ini menjadikan penampilan semakin semarak dan memperkuat pesan budaya yang ingin disampaikan.
Mengangkat Budaya dan Kekayaan Alam
Dalam WACI 2026, delegasi Kotawaringin Barat mengusung tema yang menampilkan kekayaan budaya, tradisi, serta kekayaan alam daerahnya. Syarif mengenakan kostum yang merepresentasikan tradisi Babukung, sebuah tradisi adat dalam upacara kematian masyarakat setempat. Sementara itu, talent lainnya menampilkan kostum yang menggambarkan burung Enggang sebagai satwa khas Kalimantan, serta sosok Naga Merah yang dipercaya sebagai penjaga wilayah Kotawaringin Barat.
Selain itu, delegasi juga menampilkan Tari Kalangka yang mengangkat legenda Putri Dayak sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah. Penampilan ini menunjukkan betapa kaya akan nilai-nilai budaya yang dimiliki Kotawaringin Barat.
Pelajaran yang Didapat dan Harapan Masa Depan
Setelah menyaksikan secara langsung penyelenggaraan JFC di Jember, Syarif mengaku memperoleh banyak pelajaran yang akan menjadi bekal untuk mengembangkan karnaval di daerah asalnya. Ia menyebutkan bahwa ada banyak PR yang harus dikerjakan setelah kunjungan ini, tetapi ia merasa bangga bisa terlibat dalam ajang yang begitu berkesan.
Kabupaten Kotawaringin Barat juga memiliki agenda karnaval bernama Marunti Fashion Carnival (MFC) yang diharapkan dapat terus berkembang melalui berbagai pengalaman yang diperoleh dari JFC. Dengan semangat seperti Syarif, harapan besar pun terbuka bagi pengembangan dunia karnaval di daerah ini.
Kolaborasi dan Kebersamaan
Meski datang dengan jumlah personel terbatas, penampilan delegasi Kotawaringin Barat tetap memukau. Mereka terdiri dari tujuh talent dan lima orang tim pendukung. Dengan dukungan dari penari Jember, mereka berhasil menyajikan pertunjukan yang penuh makna dan keindahan.




