Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut yang Umum Terjadi
Masalah kesehatan gigi dan mulut, khususnya gigi berlubang (cavity), adalah penyakit yang dialami oleh sebagian besar populasi dunia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), hampir 3,58 miliar jiwa mengalami masalah ini. Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan bahwa proporsi terbesar masalah gigi adalah gigi rusak/berlubang/sakit, yaitu sebesar 45,4 persen.
Gigi berlubang yang tidak ditangani dapat merusak gigi dan bisa menyebabkan masalah yang lebih serius. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui tanda-tanda awal gigi mulai berlubang dan segera menemui dokter gigi agar dapat mencegah kerusakan lebih lanjut.
Tanda-Tanda Awal Gigi Berlubang
-
Sering sakit gigi
Sakit gigi atau nyeri gigi yang parah sering kali menandakan gigi berlubang, terutama saat gigi yang rusak berkontak dengan sesuatu. Nyeri bisa dirasakan di gusi di bawah gigi maupun di gigi itu sendiri. Kadang, kamu bisa merasakan sakit yang tajam dan akut, atau mungkin rasa sakit yang tumpul dan berdenyut. Keduanya bisa merupakan tanda gigi mulai berlubang. -
Sakit saat mengunyah
Saat kamu merasakan sakit saat mengunyah apa pun, bisa jadi itu karena gigi retak atau berlubang. Bila rasa sakitnya tajam dan tiba-tiba dirasakan setelah menggigit apel atau mengunyah makanan, saraf di gigi mungkin terinfeksi dan sedang dalam proses pembusukan. Menyentuh daerah yang sakit bisa membantu mengukur tingkat keparahan rasa sakit dan menjadi pertimbangan apakah perlu pemeriksaan oleh dokter gigi. -
Bau mulut atau rasa tidak enak di mulut
Lubang di gigi dimulai dengan ukuran yang kecil, lubang terinfeksi yang berkembang di gigi, membuatnya sempurna untuk tempat sisa makanan dan bakteri berkembang. Saat makanan berkarbohidrat seperti roti, sereal, susu, soda, buah, kue, atau permen tertinggal di gigi, itu bisa menyebabkan pembusukan. Bakteri di mulut akan mengubahnya menjadi asam. Bakteri, asam, sisa makanan, dan air liur akan bergabung untuk membentuk plak yang menempel pada gigi. Asam dalam plak lama-lama merusak enamel dan akhirnya menciptakan lubang di gigi. Nah, bakteri dapat menyebabkan bau dan rasa tak enak di mulut. Bau mulut juga bisa menjadi tanda peringatan penyakit gusi akibat penumpukan plak pada gigi yang mengiritasi gusi. Bila kamu mengalami bau mulut atau rasa tak enak di mulut terus-menerus, baiknya temui dokter gigi untuk mencari tahu penyebabnya dan mendapat penanganan tepat. -
Peningkatan sensitivitas terhadap suhu
Menurut statistik dari National Health and Nutrition Examination Survey, 92 persen orang dewasa usia 20–64 tahun pernah memiliki setidaknya satu gigi berlubang. Salah satu tanda yang perlu dicermati adalah sensitivitas terhadap suhu pada gigi yang berlubang. Kamu mungkin mengalami sensitivitas ekstrem terhadap makanan atau minuman panas atau dingin, membuat makan dan minum jadi tidak nyaman dan menyakitkan. Setiap gigi memiliki saraf di dalamnya, serta memiliki suplai darah untuk membantu gigi tumbuh dan berfungsi. Ketika lubang bertambah besar dan makin dekat dengan saraf tersebut, akhirnya perubahan suhu lebih mudah dirasakan. -
Noda gelap atau perubahan warna gigi
Tanda khas gigi berlubang adalah terlihat adanya lubang, tetapi beberapa kasus terlihat seperti bintik-bintik atau noda di permukaan gigi yang terinfeksi. Noda pada gigi mungkin diawali dengan bintik-bintik putih. Saat kerusakan gigi semakin parah, noda bisa menjadi lebih gelap. Noda yang disebabkan oleh gigi berlubang bisa berwarna cokelat, hitam, atau putih, dan biasanya muncul di permukaan gigi. Bintik atau noda gelap, kecokelatan, atau putih pada gigi sering kali merupakan tanda kerusakan gigi, meskipun itu bisa juga noda alami. Bila noda tersebut terasa lunak atau lengket saat disentuh, kemungkinan itu adalah lubang yang sedang berkembang. -
Sensitif terhadap makanan dan minuman manis
Bakteri yang memakan gula di mulut menyebabkan lapisan lengket yang disebut plak, yang terbentuk di gigi dan di bawah gusi. Kandungan asam pada plak menyebabkan demineralisasi email gigi. Setelah email terkikis, bakteri dan asam dapat masuk ke gigi, mencapai dentin lunak di dalamnya. Kerusakan gigi menyebabkan gigi berlubang. Gigi berlubang berawal dari lubang pada email gigi. Jika tidak terisi, maka akan menjadi lebih besar dan dalam. Makanan manis, cairan, asam, dan bakteri semuanya bisa masuk ke rongga, menyebabkan rasa sakit yang tiba-tiba dan menyentak. -
Pembengkakan di bagian gusi tertentu
Kadang gusi bengkak juga bisa menjadi tanda adanya gigi berlubang, meskipun pembengkakan tersebut tidak terasa sakit. Bila lubang gigi sudah terlalu dalam, itu akan membuat saraf sakit atau mati, dan itu bisa menyebabkan infeksi pada saraf yang menyebabkan pembengkakan. Kalau kamu mengalaminya, sebaiknya periksakan ke dokter gigi untuk mengetahui apakah itu disebabkan oleh gigi berlubang atau infeksi gusi. -
Gigi sakit saat mengalami perubahan tekanan
Pernah mengalami sakit gigi saat lepas landas di pesawat atau scuba diving di laut dalam? Mungkin itu disebabkan oleh lubang di gigi yang berkembang. Perubahan tekanan udara bisa mengiritasi saraf di dalam gigi yang terinfeksi, menyebabkan nyeri tumpul atau parah serta ketidaknyamanan. Bila kamu mengalami nyeri akibat perubahan tekanan seperti ini, temui dokter gigi sebelum lubang membesar atau makin dalam. Menambalnya pada tahap awal dapat mencegah gigi membusuk dan mengurangi gejalanya.
Kapan Harus Ke Dokter Gigi?
Selain gejala-gejala di atas, gigi berlubang juga bisa terjadi tanpa gejala. Jadi, penting sekali untuk melakukan cek rutin 6 bulan sekali ke dokter gigi. Nantinya, dokter gigi akan memeriksa kondisi gigi dan mulut secara menyeluruh, dan jika ditemukan ada gigi berlubang, maka secepat mungkin akan dilakukan penanganan. Segera buat janji temu dengan dokter gigi jika kamu khawatir atau curiga punya gigi berlubang, atau saat merasakan sakit, ketidaknyamanan, atau gejala lainnya di gigi dan gusi khususnya yang tak hilang dalam dua hari.
