Penyebab dan Cara Penularan Hantavirus yang Perlu Diketahui
Saat mendengar tentang penyakit yang bisa disebarkan oleh tikus, banyak orang menganggap ini hanya terjadi jika digigit tikus. Sayangnya, anggapan itu salah karena hantavirus, salah satu jenis virus yang disebarkan oleh tikus, tidak menyebar seperti itu. Dalam banyak kasus, orang yang terkena hantavirus bahkan tidak pernah merasa digigit, disentuh, atau kontak langsung dengan tikus.
Beberapa orang tertular setelah membersihkan ruangan tertutup yang kotor dan lama kosong. Ada juga yang terkena saat baru pindah ke rumah kosong yang lama tidak dihuni. Bahkan ada yang terpapar setelah menyapu ruangan penuh debu dan kotoran tikus. Ini yang membuat hantavirus mengkhawatirkan karena sumber bahayanya tidak selalu terlihat jelas. Manusia paling sering tertular melalui inhalasi partikel kecil dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi virus. Artinya, kamu tidak harus digigit tikus untuk terinfeksi.
Cara Hantavirus Menular
Hantavirus dibawa oleh beberapa jenis hewan pengerat, terutama tikus dan celurut liar tertentu. Hewan-hewan ini dapat mengeluarkan virus melalui urine, kotoran, dan air liur. Saat cairan atau kotoran tersebut mengering, partikel kecilnya dapat bercampur dengan debu di udara. Masalah muncul ketika debu itu terhirup manusia.
Karena itu, aktivitas yang tampak biasa seperti menyapu gudang, membersihkan loteng atau rubanah, membuka rumah yang lama kosong, memindahkan kardus lama, dan membersihkan area penuh jejak tikus justru termasuk situasi berisiko. Mekanisme ini disebut sebagai airborne transmission through aerosolized particles atau penularan lewat partikel biologis yang beterbangan di udara.
Kenapa Gigitan Tikus Bukan Jalur Utama Penularan?
Gigitan tikus memang secara teori bisa menularkan hantavirus, tetapi kasus seperti ini jauh lebih jarang. Sebagian besar infeksi pada manusia terjadi melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi, bukan lewat gigitan langsung. Ini berbeda dengan beberapa penyakit lain yang memang identik dengan gigitan hewan.
Pada hantavirus, bahayanya justru sering berasal dari:
* Partikel yang tidak terlihat.
* Ruangan tertutup.
* Debu yang terkontaminasi.
Karena itu, seseorang bisa merasa tidak pernah digigit tikus namun tetap berisiko jika sering berada di lingkungan dengan infestasi tikus.
Situasi yang Paling Berisiko
-
Membersihkan gudang atau rumah lama
Ini salah satu situasi yang paling sering dikaitkan dengan kasus hantavirus. Ruangan yang lama tertutup memungkinkan urine tikus mengering, debu menumpuk, dan akumulasi partikel biologis. Ketika ruangan dibersihkan dengan sapu atau vacuum cleaner, partikel tersebut bisa beterbangan dan terhirup. Para ahli secara khusus memperingatkan agar area yang ada jejak tikusnya tidak dibersihkan dengan metode kering. -
Tinggal di rumah yang ditinggali tikus
Makin tinggi populasi tikus di rumah, makin besar peluang kontaminasi lingkungan. Tanda-tandanya bisa berupa kotoran tikus, bau pesing, suara di plafon, jejak gigitan pada makanan, atau sarang tikus di gudang. Masalahnya, banyak orang fokus pada tikus yang terlihat, padahal kontaminasi biologis bisa tetap tertinggal bahkan setelah tikus tidak lagi ada. -
Aktivitas pertanian atau outdoor
Beberapa penelitian menunjukkan risiko hantavirus meningkat pada petani, pekerja gudang, pendaki, dan pekerja kehutanan. Orang yang sering berada di kabin atau bangunan tertutup di alam juga berisiko. Penelitian menunjukkan banyak kasus terkait paparan lingkungan hewan pengerat di area pedesaan atau bangunan tertutup.
Apakah Hantavirus Bisa Menular Antarmanusia?
Jawabannya tergantung jenis hantavirusnya. Sebagian besar hantavirus tidak mudah menular antarmanusia. Namun, beberapa jenis tertentu, terutama Andes virus di Amerika Selatan, pernah menunjukkan kemungkinan penularan antarmanusia dalam kontak dekat. Meski begitu, kasus seperti ini jauh lebih jarang dibanding penularan dari tikus ke manusia.
Kenapa Infeksi Hantavirus Bisa Sangat Berbahaya?
Jawabannya karena paparan sering tidak disadari, misalnya merasa tidak melakukan sesuatu yang berisiko tinggi seperti “hanya” membersihkan rumah, membuka gudang, atau merapikan kamar lama. Gejala awalnya pun tampak biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan mual. Pada beberapa jenis hantavirus, kondisi dapat berkembang cepat menjadi gangguan paru berat atau gagal ginjal.
Di Amerika, hantavirus lebih sering menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Sementara di Asia dan Eropa, hantavirus lebih sering berkaitan dengan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Cara Membersihkan Area yang Ada Tikus dengan Aman
Menurut para ahli, langkah-langkah yang disarankan meliputi:
* Buka ventilasi dan angin-anginkan ruangan.
* Gunakan sarung tangan dan masker.
* Semprot area dengan disinfektan.
* Diamkan selama beberapa menit.
* Bersihkan menggunakan lap basah atau tisu.
* Hindari menyapu atau vacuum langsung.
Tujuannya adalah mencegah partikel terkontaminasi beterbangan ke udara. Langkah sederhana ini terdengar sepele, tetapi sangat penting dalam pencegahan hantavirus.
Kesimpulan
Jadi, tidak perlu digigit tikus untuk terpapar hantavirus. Sebagian besar kasus justru terjadi tanpa gigitan tikus sama sekali. Penularan paling umum terjadi ketika seseorang menghirup partikel kecil dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terkontaminasi virus. Karena itu, ruangan tertutup, infestasi tikus, dan metode pembersihan yang salah menjadi faktor risiko penting.
