JAKARTA, Infomalangraya.net
– Psikolog konsumen, Irfan Agia, memberikan pandangan mengenai resolusi ekonomi di tahun 2026. Ia berpendapat bahwa resolusi ekonomi yang ideal adalah yang realistis, yaitu berdasarkan kondisi pribadi dan fokus pada proteksi atau ketahanan.
“Jadi kalau kita membicarakan resolusi ekonomi 2026, yang ideal itu sebenarnya yang realistis. Realitas ini harus berdasarkan kondisi pribadi dan juga fokus pada proteksi atau ketahanan, bukan sekadar target yang besar atau muluk-muluk,” ujarnya dalam program Kompas Bisnis KompasTV, Jumat (2/1/2026).
Irfan menjelaskan bahwa dalam psikologi terdapat konsep bias optimisme atau optimism bias, yakni seseorang merasa tahun depan pasti lebih baik, padahal pola hidupnya tetap sama dan tidak ada fokus membangun kebiasaan yang berbeda.
“Nah, biasanya kesalahan umum setiap tahun adalah satu, resolusinya terlalu optimis. Misalnya tahun ini mau menabung 50 persen gaji, padahal cash flow belum stabil,” tuturnya.
Kesalahan umum kedua, kata dia, fokus langsung ke hasil, dan mengabaikan sistem.
“Contohnya ingin investasi yang besar, tapi tidak punya dana darurat,” ucapnya.
Irfan kemudian memberikan contoh resolusi yang sehat dan realistis di tahun 2026, yaitu fokus menstabilkan cash flow, membangun dana darurat selama 6 bulan, dan konsisten menabung 10 persen setiap bulan.
“Nah, ini terdengar sederhana, tidak muluk-muluk, tapi ini akan jauh lebih sustain (berkelanjutan),” tuturnya.
Irfan juga menyampaikan tips mengatur keuangan supaya konsumsi yang dibutuhkan dan pendapatan seimbang.
“Konsumsi itu tentu sangat penting untuk ekonomi, tapi untuk level individu, fokusnya harus sadar atau mindful dan juga terkontrol,” katanya.
Ia mengatakan tidak apa-apa untuk membeli kopi setiap hari atau dua hari sekali, asalkan tidak mengorbankan tabungan yang sudah disisihkan.
Dia juga menilai membeli ponsel baru boleh saja, selama bukan karena ikut-ikutan tren atau fear of missing out (FOMO).
Irfan menyebut tidak apa-apa jika ingin berlangganan layanan streaming jika memang sering digunakan.
“Tapi sering kali kita membayar layanan yang jarang kita pakai tanpa kita menyeleksi, melakukan review biasanya di akhir tahun, banyak sekali layanan-layanan yang mungkin jarang kita pakai, tapi kita bayar setiap bulannya,” ujarnya mengingatkan.
Oleh karena itu, Irfan menekankan prinsip yang harus dipegang, yaitu konsumsi harian dalam konteks individu diperbolehkan, tetapi tabungan dan proteksi jangan dikorbankan.
“Caranya adalah sisihkan uang dulu baru konsumsi. Jadi istilahnya dalam psikologi itu pay yourself first, bayar kebutuhan diri kita sendiri dulu, baru keinginan kita,” ucapnya.
Tips Mengatur Keuangan Secara Efektif
Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengatur keuangan secara efektif:
-
Buat anggaran bulanan
Mulailah dengan mencatat semua pengeluaran dan pemasukan setiap bulan. Dengan demikian, Anda bisa melihat bagian mana yang perlu dikurangi atau ditingkatkan. -
Sisihkan dana darurat
Dana darurat sangat penting sebagai perlindungan dalam situasi mendadak seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak. Targetkan minimal 3-6 bulan pengeluaran rutin. -
Konsisten menabung
Menabung sebesar 10-20 persen dari penghasilan bulanan bisa menjadi langkah awal yang baik. Jangan lupa untuk menjaga konsistensi agar tabungan bisa tumbuh secara bertahap. -
Hindari konsumsi impulsif
Konsumsi impulsif sering kali membuat keuangan tidak seimbang. Berlatih untuk memilih barang atau layanan yang benar-benar dibutuhkan. -
Review pengeluaran secara berkala
Lakukan evaluasi pengeluaran setiap akhir bulan atau akhir tahun. Cek apakah ada layanan atau barang yang tidak digunakan namun masih dibayar.
Peran Psikologi dalam Pengambilan Keputusan Finansial
Psikologi memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan finansial. Bias optimisme sering kali membuat orang meremehkan risiko atau merencanakan hal-hal yang terlalu muluk-muluk.
Dalam konteks keuangan, kebiasaan yang baik seperti menabung dan membangun dana darurat dapat meningkatkan rasa aman dan ketahanan finansial. Selain itu, kesadaran akan pengeluaran harian juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan.
Kesimpulan
Resolusi ekonomi yang ideal tidak harus selalu besar atau ambisius. Yang terpenting adalah realistis, berdasarkan kondisi pribadi, dan fokus pada ketahanan. Dengan mengatur keuangan secara bijak dan membangun kebiasaan yang sehat, keuangan bisa lebih stabil dan siap menghadapi tantangan di masa depan.





