Perubahan Masa Depan Manusia di Era Digital
Era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Dulu, manusia hanya mengandalkan informasi konvensional seperti membaca buku, koran, atau menonton media elektronik. Kini, semua itu tidak cukup untuk mengimbangi perubahan yang terjadi. Instrumen-instrumen tersebut tidak lagi mampu mendukung perkembangan kecerdasan manusia karena masih bersifat manual.
Sekarang, common sense manusia dibentuk oleh teknologi digital, khususnya artificial intelligence (AI). AI mampu memenuhi berbagai kebutuhan manusia, bahkan permintaan yang sangat rumit sekalipun. Namun, dampak dari era digital ini sangat luar biasa, terutama pada kehidupan sosial. Situasi yang penuh ketidakjelasan (uncertainty) membuat manusia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sulit untuk bertindak dengan percaya diri. Hal ini menyebabkan adanya disparitas pengetahuan yang cukup jelas.
Tidak hanya pada cara berpikir, tetapi juga pada pola perubahan sistem yang revolusioner. Perubahan ini sering kali tidak disadari dan mulai mengeksploitasi kehidupan kita. Shoshana Zuboff dalam bukunya “The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power” mengungkapkan kegelisahannya tentang masa depan manusia di tengah perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi.
Dalam bukunya yang berisi 704 halaman, Zuboff menjelaskan bahwa teknologi informasi kini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Facebook, YouTube, TikTok, dan chatGPT. Di bidang ekonomi, politik, budaya, dan lainnya, terjadi fenomena shifting yang cukup signifikan. Sayangnya, kemampuan sebagian manusia tidak cukup untuk mengimbangi perubahan ini, sehingga terjadi eksploitasi secara teknologi.
Zuboff dan Yanis Varoufakis menjelaskan fenomena-fenomena eksploitasi ini, yang disebut sebagai surveillance capitalism dan tecnofeodal. Menurut Zuboff, saat ini manusia berhadapan dengan era kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism). Secara ringkas, kapitalisme pengawasan memanfaatkan kebiasaan pengguna internet yang dikonversi menjadi data melalui sistem komputasi. Data ini kemudian digunakan untuk berbagai kepentingan.
Secara sekilas, sistem komputasi ini membantu apa yang diharapkan manusia. Namun, secara tidak langsung, sistem ini mengajak manusia untuk mengubah keinginan menjadi kebutuhan. Dalam prosesnya, sistem ini bisa membuat konsumen ketergantungan pada barang-barang yang dipromosikan melalui sistem komputasi tersebut.
Perkembangan teknologi dengan prinsip Internet of Things (IoT) telah memudahkan hidup manusia. Tanpa disadari, kebiasaan menggunakan teknologi ini dikonversi menjadi data penting bagi perusahaan digital. Dalam era digital ini, manusia dapat dengan mudah memanfaatkan berbagai aplikasi untuk membantu aktivitas harian mereka. Namun, pengguna sering kali tidak menyadari bahwa ketika menggunakan aplikasi melalui telepon pintar, mereka memberikan izin bagi aplikasi tersebut untuk mengakses data pribadi mereka, seperti galeri foto, video, hingga seluruh kontak yang tersimpan.

Tips hemat berbelanja online. – (Infomalangraya.net.co.id)
Masalahnya, semakin kecil ruang kehidupan pribadi pengguna ketika segalanya dibagikan di dunia maya karena ada pihak ketiga yang memantau aktivitas pengguna. Semua aktivitas dan kebiasaan ini menjadi aset penting bagi pihak ketiga untuk berbagai kepentingan, seperti ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan politik.
Kapitalisme pengawasan dipilih Zuboff karena manusia menjadi sebatas komoditas ekonomi belaka. Dengan sistem kapitalisme pengawasan, manusia akan teralienasi (terasing dari dirinya sendiri), bukan karena pekerjaannya, melainkan karena ranah pribadinya (melalui data digital) telah dikuasai pihak ketiga.
Dalam analisisnya, Zuboff membuat empat tahap yang disebut siklus disposisi (disposition cycle). Keempat tahap ini terdiri dari incursion, habituation, adaptation, dan redirection. Masing-masing tahap berjalan secara bertahap dan terus berputar seperti sebuah siklus. Dengan kata lain, Zuboff menegaskan bahwa pengguna aplikasi digital terjebak dalam siklus ini.
Sampai titik ini, Zuboff kembali mengingatkan bahwa setiap pengguna internet akan mendapat pengawasan selama menggunakan media tersebut. Pengawasan ini dilakukan bukan karena pengguna internet berpotensi melakukan hal berbahaya atau merugikan, melainkan karena pengguna dibutuhkan sebagai pemasok data dan objek promosi bagi perusahaan-perusahaan digital.

Belanja Online. Ilustrasi – (USAToday)





