Sejarah Berdirinya Toko Jersey Bolamania
Anastasia, seorang perempuan lansia asal Solo, memiliki kisah menarik yang berawal dari hobi sepak bola. Ia membangun toko jersey bernama Bolamania pada tahun 1997 bersama suaminya, yang berbekal kecintaan terhadap dunia sepak bola. Dari usaha sederhana ini, Bolamania berkembang menjadi salah satu pionir dalam penjualan dan produksi jersey sepak bola di Solo.
Awal Mula Hobi Menjadi Bisnis
Kecintaan Anastasia terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak lama. Bahkan, ia pernah menjadi wartawan peliput laga Timnas Indonesia vs Timnas Argentina pada 1978 yang saat itu diperkuat oleh Mario Kempes. Setelah menikah, ia sempat meninggalkan dunia jurnalistik dan kembali ke Solo. Kehidupan rumah tangga yang tidak mulus membuatnya bertemu dengan sesama pecinta sepak bola yang kemudian menjadi suami keduanya.
Dari situ, pada medio 1997, Anastasia bersama suaminya memulai usaha toko jersey bernama Bolamania dari rumah mereka. “Bukanya tahun 1997, di tahun itu saya ingat betul saya sendiri menggambar Batistuta (eks penyerang timnas Argentina) untuk dipajang di depan toko. Jadi di tahun itu kita benerin rumah untuk jual kaos sepak bola,” ujarnya.
Penjualan Pertama dan Perkembangan Usaha
Di masa awal usaha, Anastasia hanya menjual jersey replika hasil kerja sama dengan penjahit lokal. Model desain pun didapat dari majalah dan poster tim-tim Eropa yang saat itu tengah populer, terutama klub-klub Italia. “Dulu kita nyari model kaos dari majalah. Zaman itu tim-tim Italia masih terkenal. Jadi kota cari terus kita bikin dan jual akhirnya laris,” jelasnya.
Meski ada beberapa toko jersey di Solo, kehadiran Bolamania mendapat tempat tersendiri karena kedekatan suaminya dengan dunia sepak bola, termasuk pernah terlibat di kepengurusan Persis Solo. Cerita menarik terjadi saat penjualan pertama Bolamania justru bukan dari klub besar Italia, melainkan jersey Manchester City. “Itu, Manchester City Rp 15 ribu. Itu bikinan sendiri,” sebut Anastasia.
Berkembang Hingga Klub Liga Indonesia
Seiring waktu, usaha Bolamania semakin berkembang. Anastasia mulai mendapatkan akses ke supplier jersey berkualitas dan menjualnya dengan harga lebih tinggi. “Modal Rp 9 ribu dan saya jual Rp 25 ribu langsung laku keras. Yang paling laku itu Bayern Munchen,” ujarnya.
Bolamania kemudian dikenal luas dan bahkan merambah produksi konveksi sendiri. Sejumlah tim lokal hingga klub Liga Indonesia pernah menjadi pelanggan, termasuk Persiba Bantul, PSS, Persis Solo, hingga Persipura Jayapura. Bahkan, tim nasional Timor Leste pernah datang langsung ke Solo dan meminta dibuatkan sekitar 60 pasang jersey dalam waktu hanya 24 jam. “Minta tolong jadi sore kayak gini datang, besok sore minta harus jadi. Itu sekitar 60 pasang jersey,” katanya.
Puncak Kejayaan dan Omzet Besar
Masa kejayaan Bolamania terjadi pada era awal 2000-an hingga 2010-an. Puncaknya saat momen kejayaan Timnas Indonesia di AFF 2010 yang diperkuat Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. “Waktu Indonesia diperkuat Gonzales dan Irfan Bachdim itu omzet saya per hari bisa sampai Rp 20 juta,” ungkapnya.
Penjualan jersey Timnas kala itu bahkan ludes hanya dalam hitungan jam karena tingginya permintaan dari masyarakat.
Penutupan Toko dan Kenangan yang Tersisa
Sayangnya, kejayaan tersebut mulai meredup setelah suami Anastasia meninggal dunia pada 2016. Sejak saat itu, semangatnya untuk melanjutkan usaha ikut menurun. Masalah internal usaha juga turut memperberat kondisi hingga akhirnya Bolamania resmi ditutup pada 2019, meski masih ada pesanan yang masuk. “Itu ketika suami meninggal tahun 2016, ngelanjutin sudah kayak lemas gitu,” ujarnya.





