Kasus Manipulasi AI: Dokter dan Korban Foto Deepfake
Reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa rusak dalam hitungan menit. Hal ini dialami oleh Dokter Tony Setiobudi, seorang spesialis ortopedi yang berpraktik di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Ia menjadi korban dugaan manipulasi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memalsukan video edukasi kesehatan lutut miliknya menjadi promosi obat diabetes.
Video tersebut awalnya diunggah oleh Dokter Tony melalui kanal YouTube-nya yang memiliki 786 ribu subscriber. Namun, konten tersebut diubah tanpa izin, dengan suara dalam video diduga diganti menggunakan teknologi AI. Dalam video yang dimanipulasi, Dokter Tony digambarkan sebagai ilmuwan yang menemukan terobosan pengobatan diabetes, bahkan disebut sebagai penerima penghargaan Nobel di bidang penyakit tersebut.
Kasus ini terungkap setelah salah satu pelanggan mengeluhkan obat diabetes yang dibeli karena percaya pada video tersebut. Kuasa hukum Tony, Teguh Wibisana Santoso, menyampaikan bahwa klien mereka tidak pernah melakukan promosi obat diabetes. Video asli yang diunggah oleh Tony hanya berisi edukasi tentang kesehatan lutut.
Dalam video manipulasi tersebut, potongan video Dokter Tony disandingkan dengan narasi tentang obat diabetes. Bahkan, sosok presenter berita Rosi Silalahi juga muncul dalam video tersebut, yang dinarasikan seolah-olah menyampaikan informasi bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan diabetes dalam waktu 48 jam.
Teguh mengatakan bahwa video tersebut diedit menggunakan AI. Ia menilai kasus ini membawa kerugian immaterial bagi reputasi Dokter Tony, yang merupakan sosok influencer kesehatan yang aktif berprofesi di Singapura. Ia telah melaporkan kasus ini ke Polda agar tidak ada lagi korban yang terkena dampak serupa.
Penyalahgunaan Teknologi Deepfake
Selain kasus manipulasi video, teknologi deepfake juga digunakan untuk memanipulasi foto. Banyak korban manipulasi foto berbasis AI menceritakan pengalaman pertama mereka sebagai momen paling menyesakkan. Wajah mereka terpampang dalam gambar vulgar yang tidak pernah mereka buat sendiri.
Foto-foto asli yang diunggah biasanya hanya berupa foto sekolah atau pose santai. Namun, seseorang mengunduhnya, lalu mengunggahnya ke aplikasi berbasis AI. Dalam hitungan detik, sistem akan memanipulasi tubuh dalam gambar hingga tampak tanpa busana. Teknologi ini dikenal dengan istilah deepfake.
Kasus semacam ini pernah terjadi di Gresik. Seorang pemuda 18 tahun inisial ARB diamankan oleh Satreskrim Polres Gresik setelah mengedit foto puluhan teman perempuannya menjadi gambar vulgar menggunakan aplikasi berbasis AI. Ia hanya mengunduh aplikasi yang bisa diakses bebas di internet. Dengan mudah, ia mengubah foto biasa menjadi foto vulgar yang tampak nyata.
Sebanyak 20 perempuan menjadi korban ulah ABG tersebut. Beberapa mengetahui dari pesan berantai yang masuk ke ponsel mereka, sementara yang lain mendengar namanya dibicarakan di sekolah. Banyak yang panik, menghapus foto lama, menutup akun media sosial, atau membatasi pergaulan karena takut menjadi bahan omongan.
Catatan kepolisian menunjukkan bahwa laporan penyalahgunaan deepfake mulai muncul sejak 2023. Mayoritas korban adalah perempuan, dengan motif beragam seperti fantasi seksual, balas dendam, pemerasan, hingga penipuan finansial. Bentuk penyalahgunaan pun semakin variatif, termasuk foto yang diubah menjadi konten pornografi palsu, video yang seolah-olah menampilkan korban berbicara atau melakukan tindakan tertentu, hingga suara hasil kloning untuk menipu keluarga atau rekan bisnis.
Yang mengkhawatirkan adalah akses ke aplikasi semacam ini sangat mudah. Beberapa bahkan tersedia secara gratis, sehingga siapa pun dengan ponsel dan koneksi internet bisa menyalahgunakannya.





