Kalender Liturgi Katolik Hari Ini
Hari ini, 23 Februari 2026, adalah hari Senin yang memiliki warna liturgi ungu. Kalender liturgi Katolik hari ini menyediakan bacaan-bacaan yang terkait dengan Pesta Fakultatif Santo Polikarpus, Uskup dan Martir. Bacaan-bacaan tersebut mencakup beberapa bagian dari Kitab Perjanjian Lama dan Injil.
Bacaan Pertama
Bacaan pertama diambil dari Kitab Imamat, pasal 19, ayat 1 hingga 18. Dalam bacaan ini, Tuhan berfirman kepada Musa untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya kepada seluruh jemaah Israel. Beberapa perintah penting termasuk tidak mencuri, tidak berbohong, tidak merampas, serta menghormati sesama manusia. Tuhan juga menekankan pentingnya keadilan dalam peradilan dan kasih sayang terhadap sesama.
Mazmur Tanggapan
Mazmur yang dipilih adalah Mazmur 19, ayat 8 hingga 10. Mazmur ini menekankan bahwa titah Tuhan tepat dan menyukakan hati, perintah-Nya murni dan membuat mata bercahaya. Takut akan Tuhan dianggap suci dan tetap ada untuk selamanya. Hukum-hukum Tuhan benar dan adil semuanya, lebih indah dari emas dan lebih manis dari madu.
Injil Katolik
Dalam Injil Matius, pasal 25, ayat 31 hingga 46, Yesus memberikan pengajaran tentang hari penghakiman. Ia menjelaskan bahwa ketika Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya, semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Ia akan memisahkan orang-orang benar dari orang-orang jahat. Orang-orang benar akan diberkati dan masuk ke dalam Kerajaan yang telah disediakan sejak dunia dijadikan. Sementara itu, orang-orang jahat akan dihukum dan masuk ke dalam api yang kekal.
Bacaan Khotbah (BCO)
Bacaan Khotbah diambil dari Kitab Keluaran, pasal 6, ayat 2 hingga 13. Dalam bacaan ini, Allah berbicara kepada Musa tentang perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah menyatakan bahwa Ia akan membebaskan orang Israel dari kerja paksa orang Mesir dan menebus mereka dengan tangan yang teracung. Ia juga berjanji akan membawa orang Israel ke tanah Kanaan yang telah dijanjikan.
Santo Polikarpus, Uskup dan Martir
Santo Polikarpus adalah seorang Uskup Gereja perdana di Smyrna (Turki). Ia adalah murid Santo Yohanes Penginjil dan memimpin Gereja di Smyrna hingga meletusnya kekacauan yang didalangi oleh para musuh gereja pada tahun 155. Ia sendiri ditangkap oleh orang-orang itu.
Ketika ditangkap, ia tidak memberikan perlawanan apapun. Bahkan, ia tersenyum dan menjamu para penangkapnya dengan makanan yang lezat. Ia berkata: “Jadilah kehendak Tuhan atas diriku.” Ia memohon agar diberikan waktu sedikit untuk berdoa. Setelah itu, ia dibelenggu dan diarak ke tengah-tengah orang banyak menuju kediaman prokonsul untuk diadili.
Sewaktu diadili, prokonsul dengan keras memaksanya untuk menghujat Yesus dan mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi Romawi. Ia dengan tegas berkata: “Sudah delapan puluh enam tahun saya mengabdi Kristus, dan tidak pernah saya alami Kristus berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin saya menghujat Raja dan Penyelamatku?” Ia menegaskan bahwa Yesus Kristus tidak hanya berkata: “Bertahanlah dan teguhlah dalam imanmu; cintailah sesamamu; berbelaskasihanlah kepada sesamamu dan bersatulah di dalam kebenaran,” melainkan Dirinya sendiri dijadikan contoh yang mencolok mata tentang semuanya itu.
Mendengar kata-kata Polykarpus, prokonsul marah dan segera menjatuhkan hukuman bakar atas diri Polykarpus. Hukuman ini tidak sedikitpun menggetarkan hati Polykarpus, karena ia tahu bahwa kebenaran ada di pihaknya. Ia bahkan mensyukuri peristiwa tragis ini.
Berita pembunuhan terhadap diri Polykarpus ini tersebar ke seluruh umat Smyrna. Seluruh umat memang menyesalkan tindakan prokonsul itu, tetapi mereka tidak patah semangat untuk tetap mengimani Kristus. Mereka saling meneguhkan dengan mengedarkan selebaran berikut: “Kristus kita sembah karena Dia Putera Allah. Para Martir kita sayangi sebagai murid Kristus karena imannya yang tak terperikan kepada Kristus, Raja dan Tuhan, hingga titik darah penghabisan. Semoga kitapun menjadi kawan dan rekan mereka dalam menanggung semua penderitaan yang ditimpakan kepada kita.”
Di atas kubur Polykarpus, mereka menulis: “Dirimu kami cintai melebihi berlian, kami sayangi melebihi emas permata, dan kami baringkan tubuhmu yang suci di tempat yang layak bagimu. Di tempat ini ingin kami berkumpul dengan gembira untuk merayakan ulang tahun wafatmu sebagai martir Kristus yang Jaya.”





