Kurniawin, Perempuan dari Keluarga Penjual Sayur yang Menjadi Duta Wisata Tana Tidung
Kurniawin atau yang akrab disapa Wiwin adalah seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi yang kini menjadi Semandak Duta Wisata Tana Tidung 2024–2026. Ia terpilih setelah melewati proses seleksi yang sangat ketat, termasuk tes wawasan kebangsaan, public speaking, hingga pelatihan penampilan dan psikologi. Keberhasilannya ini membuktikan bahwa kesempatan untuk berprestasi tidak terbatas oleh latar belakang ekonomi.
Wiwin lahir pada 28 April 2007 di Sesayap, Kalimantan Utara. Sejak duduk di bangku SMA, ia telah aktif dalam berbagai kegiatan non-akademik, seperti MTQ, lomba lari, pidato, puisi, hingga Porprov 2021 dengan meraih Juara 1 cabang olahraga Petanque. Bahkan sejak SD, ia rutin mengikuti MTQ dari tingkat kabupaten hingga provinsi. Pada tahun 2024, saat Kabupaten Tana Tidung menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi Kalimantan Utara, Wiwin berhasil meraih Juara 3.
Proses seleksi Duta Wisata Tana Tidung dimulai dari tingkat kecamatan. Dari Kecamatan Sesayap Hilir, dipilih dua pasang putera-puteri terbaik untuk melaju ke tingkat kabupaten. Di tingkat kabupaten, para peserta harus melewati berbagai tahapan, mulai dari tes perkenalan diri, wawasan kebangsaan, pengetahuan kepariwisataan daerah, hingga kemampuan public speaking.
“Public speaking sangat penting karena kita menjadi promotor wisata. Waktu itu bahkan didatangkan juri sekaligus pemateri dari Jawa khusus untuk materi public speaking,” ujarnya.
Selain itu, para finalis juga mendapatkan pelatihan personal branding, psikologi, hingga table manners. Wiwin mengaku banyak hal yang ia pelajari dari ajang tersebut. “Kita diajari bagaimana membawa budaya dan wisata Tana Tidung supaya dikenal. Bahkan ada tes psikologi untuk tahu kekurangan kita. Itu menurut saya sesuatu yang belum tentu bisa saya dapatkan di tempat lain,” katanya.
Ia juga belajar tentang tata rias dan penampilan. Wiwin mengaku sebelumnya bukan sosok yang feminin. “Saya dulu tidak tahu make up, bahkan tidak punya alatnya. Heels saja saya harus pinjam teman,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski memiliki banyak prestasi, Wiwin mengaku sempat merasa tidak percaya diri. “Saya sudah insecure melihat teman-teman yang cantik-cantik dan berasal dari keluarga berada. Saya pikir tidak mungkin menang, jadi saya jalani saja tanpa berharap apa-apa,” katanya jujur.
Pada malam final, ia bahkan mengaku tidak belajar khusus untuk sesi tanya jawab. “Saya jawab spontan sesuai apa yang ada di pikiran saya,” ujarnya.
Tak disangka, dari lima besar ia melaju ke tiga besar dan akhirnya dinobatkan sebagai Juara 1 sekaligus menyandang gelar Semandak Duta Wisata Kabupaten Tana Tidung 2024–2026. Untuk kategori putra, gelar tersebut dikenal dengan sebutan Buayoy.
Selama menjabat sebagai duta wisata, perempuan yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa semester II jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka Tarakan ini juga aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Ia terlibat dalam penyambutan tamu, termasuk kunjungan tim Kemenparekraf saat Desa Sebawang masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Ia juga sering dilibatkan dalam kegiatan budaya serta mengikuti studi banding ke luar Kalimantan Utara.
“Saya sangat bersyukur bisa berada di sini. Di duta wisata inilah saya diasah dan dikenal banyak orang,” ujarnya.
Ketika ditanya alasan mengikuti duta wisata, jawabannya sederhana namun jujur. “Karena saya ingin dikenal. Dan benar, lewat duta wisata saya bisa dikenal. Tapi bukan untuk sombong,” katanya.
Wiwin juga tidak menampik latar belakang keluarganya, orang tuanya berprofesi sebagai penjual sayur. Namun baginya, hal tersebut bukan hambatan untuk berprestasi. “Itu bukan penghalang. Justru jadi motivasi untuk terus membuktikan diri,” ucapnya.
Kini, Wiwin terus membenahi diri dan meningkatkan kapasitas sebagai representasi generasi muda Tana Tidung. Dari seorang siswi yang sempat merasa tidak percaya diri, ia menjelma menjadi simbol semangat bahwa kesempatan terbuka bagi siapa saja yang berani mencoba.
Sosok Kurniawin menjadi gambaran bahwa mimpi tidak mengenal latar belakang, dengan keberanian melangkah dan kemauan belajar, ia membuktikan bahwa panggung prestasi bisa diraih oleh siapa saja, termasuk anak seorang penjual sayur yang kini berdiri sebagai wajah pariwisata Tana Tidung.





