Peringatan Nuzulul Quran 2026: Tahapan Turunnya Al-Qur’an dan Hikmahnya bagi Umat Islam
Perayaan Nuzulul Quran adalah momen penting dalam kalender keagamaan umat Islam. Tahun 2026, peringatan ini kembali menjadi kesempatan untuk merenungi makna dan hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap. Ceramah Nuzulul Quran 2026 dengan tema “Tahapan Turunnya Al-Qur’an dan Hikmahnya bagi Umat Islam” mengajak jamaah untuk memahami proses penurunan wahyu yang luar biasa ini.
Momen Penting dalam Sejarah Islam
Setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam memperingati peristiwa agung yaitu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Tanggal 17 Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada hari ini, Sabtu (7/3/2026). Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup, cahaya kebenaran, dan rahmat bagi seluruh umat manusia.
Proses penurunan Al-Qur’an tidak terjadi sekaligus, tetapi secara bertahap. Mulai dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, hingga diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Proses ini memiliki hikmah besar, yaitu agar umat Islam dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur’an secara perlahan sesuai dengan konteks kehidupan mereka.
Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap
Hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap adalah agar umat Islam mampu menyesuaikan diri dengan tuntunan wahyu, memperbaiki akhlak, serta membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai ilahi. Dengan memahami tahapan turunnya Al-Qur’an, umat Islam akan semakin menghargai proses dakwah Rasulullah SAW dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum Nuzulul Quran juga menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan di mana setiap ayat yang dibaca akan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, ceramah ini mengajak umat Islam untuk memperbanyak tilawah, tadabbur, dan pengamalan Al-Qur’an, sehingga hikmah turunnya wahyu benar-benar terasa dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Penjelasan tentang Turunnya Al-Qur’an
Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam merupakan pedoman hidup yang mengandung ajaran-ajaran mulia, petunjuk hidup, dan aturan yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Al-Quran menjadi wahyu terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantara malaikat Jibril a.s., sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat as-Syu’ara ayat 192-195:
وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ ١٩٣عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَۙ١٩٤ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُۙ ١٩٢ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍۗ١٩٥
“Dan Al-Quran ini benar-benar ditirunkan oleh Tuhan semesta alam; dia dibawa turun oleh Al-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan; dengan bahasa Arab yang jelas”.
Ayat tersebut memiliki makna bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah yang diturunkan oleh malaikat Jibril a.s., ke dalam hati Rasulullah SAW dengan menggunakan bahasa Arab. Maksud turunan di sini bukanlah turunnya yang pertama kali ke langit dunia, tetapi yang dimaksud adalah turunnya Al-Quran itu secara bertahap.
Pendapat Ulama Tentang Turunnya Al-Qur’an
Pendapat lain dari Imam Asy-Sya’bi menyebutkan bahwa al-Quran mula-mula turun pada malam lailatul qadr di bulan Ramadhan. Kemudian turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian atau peristiwa selama kurang lebih 23 tahun. Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt. Dalam surah al-Qadr ayat 1:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ١
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul qadar.”
Ibnu Abbas dan sejumlah ulama lainnya yang dapat dipercaya menyebutkan bahwa yang dimaksud turunnya al-Quran dari ayat di atas adalah turunnya al-Quran sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, agar para malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian setelah itu al-Quran diturunkan kepada Rasul secara bertahap sesuai dengan peristiwa dan kejadian-kejadian sejak ia diutus sampai wafatnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa penurunan al-Quran itu ada dua cara; yaitu sekaligus dan berangsur-angsur. Pengertian tahap pertama turunnya al-Quran adalah al-Quran turun sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia (langit lapis pertama). Sedangkan yang dimaksud turunnya al-Quran cara kedua adalah turunnya al-Quran secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan secara bertahap, sebagiannya menjelaskan bagian yang lain sesuai dengan fungsi dan kedudukannya, serta sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang dialami Rasulullah dan kaum muslimin.
Keagungan Al-Qur’an dan Rahasia Penurunannya
As-Suyuthi mengutip pendapat al-Qurthuby bahwa al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah itu merupakan turunnya al-Quran secara sekaligus. Mungkin hikmah dan rahasia yang terkandung dari kejadian tersebut adalah untuk mengungkapkan keagungan al-Quran dan kepada para penerimanya adalah wujud kebesarannya, serta untuk memberitahukan kepada para penghuni langit bahwa sampul kitab samawi akan diturunkan kepada Nabi terakhir penutup dari umat pilihan, yang telah berada di depan pintu dan akan segera diturunkan kepadanya.
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa al-Quran ditulis oleh Ruhul Mahfuz sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian setelah itu, al-Quran diturunkan secara lengkap di Baitul ‘Izzah, dan kemudian diturunkan secara bertahap secara individual sesuai dengan peristiwa tertentu.
Penyelidikan Ahli Sejarah tentang Turunnya Al-Qur’an
Adapun mengenai waktu atau masa turunnya al-Quran tidak disebutkan secara jelas, melainkan dikatakan bahwa al-Quran itu diturunkan pada “Yaumal Furqan”, sebagaimana disebutkanNya dalam surat al-Anfal ayat 41:
اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٤١
“…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqān (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu…”
Penyelidikan ahli sejarah berpendapat bahwa peristiwa yaumal furqan itu bersamaan dengan hari bertemunya dua pasukan dalam peperangan, yaitu pasukan kaum muslimin dan pasukan musuh pada peristiwa peperangan Badr. Peristiwa yang terakhir ini terjadi pada hari atau tanggal yang sama dengan hari turunnya al-Quran pertama kali, yaitu pada tanggal 17 Ramadhan. Itu menjadi sebab umat Islam sampai hari ini selalu memperingati nuzulnya al-Quran pada tanggal 17 Ramadhan tersebut.
Kesimpulan
Al-Quran sebagai wahyu terakhir dari Allah SWT, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril untuk menjadi pedoman dan cahaya bagi kehidupan umat manusia. Melalui proses penurunan yang berangsur-angsur, Al-Quran hadir sebagai sumber kebijaksanaan, memberi peringatan, serta membimbing manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Cahaya ilahiah ini tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk akhlak, tetapi juga sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan, seperti yang disimbolkan dengan peristiwa Yaumal Furqan yang juga bertepatan dengan peringatan turunnya al-Quran di bulan Ramadhan.
Subhanakallâhuma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illà anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Allohummarham na bil qur’an. Waj’al hu lanaa imaama, wa nuuro, wa hudaa, wa rohmah. Allohumma dakkir na minhu ma nasiina, wa ‘allimna minhu ma jahilna warjuqna tilaawatahu. Aana-al laili wa atroofan nahaar. Waj’alhu lana hujjatan, yaa Robbal ‘alamiin.





