Penjelasan Terkini tentang Dua Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz
Beberapa waktu terakhir, isu mengenai dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di mulut Selat Hormuz menjadi perhatian publik. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses yang diberlakukan oleh otoritas Iran terhadap kapal-kapal yang ingin melintasi jalur strategis tersebut. Pemerintah Iran hanya memberikan izin bagi kapal-kapal dari negara-negara sahabat untuk melewati wilayah itu secara aman.
Dalam beberapa unggahan media sosial, muncul narasi bahwa dua kapal tanker Pertamina telah mendapatkan lampu hijau dari Iran untuk meninggalkan Selat Hormuz dan berlayar menuju Indonesia. Narasi tersebut dikaitkan dengan negosiasi yang dilakukan oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK). Namun, informasi tersebut ternyata belum sepenuhnya benar.
1. Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Berada di Perairan Teluk Persia
IDN Times melakukan pemantauan terhadap pergerakan dua kapal tanker Pertamina, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, melalui situs Vessel Finder. Hingga hari Selasa (31/3/2026), kedua kapal tersebut masih terpantau berada di perairan Teluk Persia dan belum meninggalkan Selat Hormuz.
Kapal Gamsunoro saat ini berada di perairan Teluk Persia dan akan berlayar menuju Dubai. Dengan kecepatan sekitar 12 knot, kapal tersebut diperkirakan tiba pada Selasa pagi pukul 05.00 waktu setempat. Sebelumnya, kapal ini sempat berlabuh di Terminal Minyak Al Başrah, Irak. Gamsunoro berbendera Panama dan dirakit pada tahun 2014.
Sementara itu, Pertamina Pride juga masih berada di perairan Teluk Persia. Kapal ini berbendera Singapura dan disebut sedang menuju ke Indonesia. Meskipun demikian, tenggat waktu yang ditetapkan tidak akan bisa terpenuhi karena perjalanan dari Timur Tengah ke Indonesia membutuhkan waktu paling lambat 14 hari. Pertamina Pride terakhir kali berlabuh di Pelabuhan Ras Aramco, yang merupakan bagian dari kilang minyak Aramco, Arab Saudi.
2. Kapal PIS Paragon dan PIS Rinjani Tidak Melewati Selat Hormuz

Di sisi lain, dua kapal tanker lainnya yang mengangkut minyak untuk PT Pertamina dan disebut sudah berhasil melewati Selat Hormuz, yaitu PIS Paragon dan PIS Rinjani, ternyata tidak melewati jalur tersebut. Menurut keterangan dari Pertamina International Shipping, kedua kapal tersebut telah keluar dari area Timur Tengah tepatnya Teluk Oman tanpa melalui Selat Hormuz.
PIS Paragon dan PIS Rinjani fokus melayani kebutuhan pihak ketiga di pasar internasional. Berdasarkan data dari situs Vessel Finder, PIS Paragon telah tiba di Afrika Selatan. Kapal ini diprediksi tiba di Pelabuhan Cape Town, Afsel, hari ini pukul 23.00 waktu setempat. PIS Paragon dibangun pada tahun 2009 dan berlayar menggunakan bendera Singapura. Pelabuhan terakhir yang dikunjungi adalah Mombasa, Kenya.
Sedangkan, PIS Rinjani terlacak sedang berlayar menuju ke Singapura. Saat ini, posisinya masih berada di Perairan India. PIS Rinjani diprediksi akan tiba di Negeri Singa pada Rabu (1/4/2026). Kapal ini dibangun pada tahun 2019 dan berlayar menggunakan bendera Liberia.
3. Narasi Mengenai Dua Kapal Pertamina yang Sudah Tinggalkan Selat Hormuz Keliru

Hingga akhir Maret 2026, dua kapal tanker Pertamina masih tercatat berada di Perairan Teluk Persia. Oleh karena itu, narasi bahwa mereka telah meninggalkan Selat Hormuz adalah sesuatu yang tidak benar.
Dalam pernyataannya kepada media pada 15 Maret 2026 lalu, Jusuf Kalla menekankan bahwa untuk memastikan dua kapal tersebut bisa meninggalkan Selat Hormuz dengan aman, diperlukan sikap yang lebih aktif dari pemerintah Indonesia. Meski ia menyatakan bahwa ia dapat berkonsultasi dengan pihak Iran, ia menilai bahwa upaya diplomasi harus lebih intensif.
“Walaupun tentunya saya bisa berkonsultasi, bicara dengan pihak Iran. Tapi ada batasnya juga. Harus pemerintah lebih aktif (melobi ke Iran),” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar pemerintah memberikan dukungan dan keprihatinan terhadap situasi di Iran. “Saya kira pemerintah Iran akan menerima apabila kita berada di situ,” tambahnya.





