Komitmen Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia
Indonesia tetap mengirim pasukan perdamaian ke berbagai wilayah konflik, meskipun ada risiko yang tidak bisa dihindari. Hal ini dilakukan karena komitmen negara terhadap perdamaian dunia melalui misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam konteks ini, peran intelijen dan koordinasi menjadi sangat penting untuk meminimalkan risiko yang dihadapi oleh pasukan.
Evaluasi Cepat Saat Eskalasi Konflik
Meski memahami bahwa setiap misi perdamaian memiliki risiko, Iskandar Sitompul, mantan Kepala Pusat Penerangan TNI periode 2010–2014, menilai bahwa evaluasi cepat diperlukan saat situasi konflik meningkat. Ia menyatakan bahwa ketika eskalasi konflik terjadi, langkah-langkah mitigasi harus segera diambil agar risiko terhadap pasukan bisa ditekan.
“Kita perlu melakukan evaluasi segera. Ada pemetaan zona merah dan biru serta SOP yang sudah ditetapkan,” ujarnya. Ia juga menyampaikan kekecewaannya karena korban jiwa masih saja terjadi meskipun situasi semakin memburuk.
Intelijen dan Pergeseran Zona
Iskandar menekankan pentingnya peran intelijen dalam membaca situasi lapangan dan menentukan posisi yang lebih aman bagi pasukan perdamaian. Menurutnya, ketika konflik meningkat, seharusnya ada opsi pergeseran lokasi operasi ke wilayah yang lebih aman.
“Kenapa sampai kejadian sudah ada eskalasi begitu tinggi, kan kita lihat sampai tank-nya Israel aja sudah nyampai di sana. Nah, kenapa kita itu tidak bisa menggeser kegiatan itu dikit?” tanyanya. Ia menyarankan agar pasukan dapat dipindahkan ke wilayah yang lebih aman seperti bagian selatan.
Koordinasi Mabes TNI dan Komandan Kontingen
Selain intelijen, Iskandar menyoroti pentingnya koordinasi antara Mabes TNI dan komandan kontingen di Lebanon. Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu penyumbang pasukan terbesar dalam misi UNIFIL di Lebanon, sehingga keselamatan personel harus menjadi prioritas utama.
“Koordinasi cepat diperlukan karena jumlah pasukan Indonesia cukup besar. Pasukan kita hampir 15 persen di sana,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa keputusan untuk tetap mengirim pasukan perdamaian harus didasarkan pada mandat PBB dan komitmen internasional.
Sosok Iskandar Sitompul
Iskandar Sitompul lahir pada 22 Juni 1957. Seorang purnawirawan TNI-AL, ia pernah menjabat sebagai Staf Khusus Kasal. Ia lulus dari Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-XXV/tahun 1980. Jabatan terakhirnya adalah Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara Kemenko Polhukam RI.
Pendidikan militer Iskandar mencakup berbagai kursus dan pelatihan seperti Kursus Perwira Eka Dasar, Kursus Perwira Perbekalan, dan Seskoal Angkatan XXXII. Ia juga pernah menjabat beberapa posisi penting dalam TNI-AL, termasuk Kepala Pusat Penerangan TNI.
Misi Perdamaian di Lebanon Tetap Berlanjut
Kapuspen Mabes TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menegaskan bahwa TNI akan tetap melanjutkan misi perdamaian di Lebanon meskipun ada prajurit yang gugur. Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan yang menewaskan Praka Farizal Rhomadhon, seorang prajurit TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL.
Serangan tersebut juga menyebabkan tiga prajurit lainnya terluka, yaitu Praka Rico Pramudia dengan luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan dengan luka ringan. TNI menegaskan komitmennya untuk menjalankan tugas secara profesional dan penuh tanggung jawab, dengan keselamatan prajurit sebagai prioritas utama.
TNI juga meminta prajuritnya untuk meningkatkan kewaspadaan operasi sesuai standar PBB. Selain itu, pihak TNI akan terus memantau situasi di Lebanon dan menyiapkan langkah-langkah kontingensi sesuai dinamika di daerah penugasan.
Prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di East Sector Headquaters (HQ), dan proses administrasi pemulangan ke Indonesia sedang berlangsung dengan bantuan KBRI Beirut. UNIFIL sedang melakukan investigasi terhadap kejadian serangan tersebut.
Hanya 24 jam setelah serangan di Adchit Al Qusayr, Kapten Infanteri Zulmi dan Sersan Satu Ichwan gugur akibat ledakan kendaraan tempur mereka di Bani Hayyan, Lebanon Selatan. Ledakan tersebut masih dalam penyelidikan UNIFIL, dan dua prajurit lainnya mengalami luka-luka.





