Minat Mahasiswa Indonesia untuk Studi PhD di Amerika Serikat Masih Rendah
Minat mahasiswa Indonesia untuk mengambil program doktoral (PhD) yang menggabungkan jenjang S2 dan S3 di Amerika Serikat dinilai masih rendah, terutama di bidang sains dan teknologi. Hal ini disampaikan oleh Profesor Haryadi Gunawi, seorang akademisi asal Indonesia yang mengajar di The University of Chicago.
Menurut Haryadi, rendahnya minat tersebut dipengaruhi oleh berbagai mitos yang beredar luas di kalangan calon mahasiswa. Akibatnya, banyak yang lebih memilih jalur pendidikan terpisah, yakni hanya S2 atau langsung S3. Setidaknya ada enam mitos utama yang kerap menjadi penghalang bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral di AS.
Mitos Pertama: Lulusan PhD Pasti Jadi Dosen
Anggapan bahwa lulusan PhD hanya berakhir sebagai dosen atau profesor disebut tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan data, hanya sekitar 30 persen lulusan PhD yang berkarier di dunia akademik. Sisanya, yakni 60–70 persen, justru bekerja di sektor industri, terutama di bidang seperti ilmu komputer.
Di Amerika Serikat, perusahaan teknologi besar bahkan aktif merekrut lulusan PhD karena kebutuhan pada sistem dan riset tingkat lanjut.
Mitos Kedua: Kuliah PhD di AS Harus Pakai Beasiswa
Berbeda dengan negara lain, sekitar 80 persen mahasiswa PhD di AS otomatis mendapatkan pembiayaan penuh. Biaya kuliah ditanggung kampus, ditambah gaji bulanan melalui posisi asisten dosen atau peneliti, khususnya di bidang sains dan teknik. Kuncinya ada pada kesiapan CV dan rekam jejak riset saat mendaftar.
Mitos Ketiga: PhD = Pulang Habis Duit
Istilah “pulang habis duit” kerap dilekatkan pada studi PhD. Namun untuk bidang STEM di AS, anggapan ini dinilai keliru. Mahasiswa yang diterima umumnya langsung mendapat jaminan biaya kuliah dan penghasilan bulanan. Menurut Haryadi, tantangan terbesar justru ada pada persiapan akademik, bukan soal finansial.
Mitos Keempat: Daftar PhD Harus Punya Gelar S2
Di banyak negara, gelar S2 memang menjadi syarat PhD. Namun di AS, lulusan S1 bisa langsung mendaftar program PhD yang mencakup jenjang S2 dan S3 dengan durasi sekitar 5–6 tahun. Mahasiswa juga memiliki opsi mastering out, yakni keluar setelah dua tahun dengan gelar S2 dan bebas memilih bekerja atau melanjutkan studi.
Mitos Kelima: Terlalu Dalam dan Membosankan
Meski durasinya panjang, mahasiswa PhD di AS pada dasarnya adalah peneliti pemula. Selama studi, mereka memiliki banyak kesempatan mengikuti konferensi, riset kolaboratif, hingga magang di perusahaan besar, yang membantu menentukan arah karier ke akademik atau industri.
Mitos Keenam: Sulit Mendapat Pekerjaan
Mitos bahwa lulusan PhD sulit mendapat kerja juga dibantah. Menurut Haryadi, banyak perusahaan justru membutuhkan tenaga dengan kualifikasi PhD, terutama untuk riset dan pengembangan. Ia menegaskan, lulusan PhD memiliki peluang besar terserap ke dunia kerja.
Kesimpulan
Dengan meluruskan berbagai anggapan keliru tersebut, diharapkan semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berani mempertimbangkan program PhD di Amerika Serikat. Program kombinasi S2-S3 tidak hanya memberikan wawasan yang lebih dalam, tetapi juga kesempatan karier yang lebih luas, baik di dunia akademik maupun industri.





