Peringatan dari Mantan Menteri Libya: Jangan Percaya Janji AS
Mantan Menteri Informasi Libya era Muammar Gaddafi, Moussa Ibrahim, memberikan peringatan tajam kepada Iran mengenai potensi bahaya yang tersembunyi di balik janji-janji diplomatik Amerika Serikat (AS). Dalam wawancara eksklusif bersama Russia Today, ia menekankan bahwa kehancuran Libya adalah bukti nyata dari risiko percaya pada komitmen negara-negara Barat. Ibrahim menilai bahwa kekacauan yang terjadi di Libya berawal dari kesalahan besar dalam mempercayai janji-janji Washington.
Ibrahim menyampaikan bahwa Libya pernah menjadi negara stabil dan kuat di Afrika, tetapi karena kepercayaan yang berlebihan terhadap Barat, negara tersebut harus membayar harga mahal. Ia memperingatkan Iran agar tidak terjebak dalam strategi diplomasi yang dirancang oleh AS untuk melemahkan lawan tanpa memicu konflik terbuka.
Menurutnya, AS dituduh hanya ingin mengontrol tingkat ketegangan demi keuntungan politik sepihak. Bagi Washington, kekacauan yang terkendali di Timur Tengah justru dianggap menguntungkan untuk memastikan tidak ada kekuatan regional yang tumbuh terlalu dominan. Ibrahim menilai bahwa meja perundingan bukanlah alat untuk mencari solusi damai, melainkan sarana baru untuk menekan Iran melalui jalur ekonomi dan politik.
Negosiasi Deadlock antara AS dan Iran
Negosiasi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung 21 jam di Islamabad, Pakistan, berjalan buntu tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi AS mengumumkan bahwa tim negosiasinya meninggalkan Pakistan setelah gagal mencapai kesepakatan dengan Iran. Vance menyebutkan kekurangan dalam perundingan tersebut dan mengatakan bahwa Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan AS, termasuk untuk tidak membangun senjata nuklir.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Vance dikutip dari Reuters, Minggu (12/4/2026) pagi. “Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kita telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kita.”
Pembicaraan antara delegasi AS dengan Iran di Islamabad merupakan pertemuan langsung pertama AS-Iran dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979. Hasilnya dapat menentukan nasib gencatan senjata dua minggu AS dengan Iran. Termasuk pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, titik rawan bagi sekitar 20 persen pasokan energi global yang telah diblokir Iran sejak perang 28 Februari 2026 lalu.
Pembicaraan Berlanjut, Persoalan Nuklir Jadi Penghalang
Media Iran Tasnim News melaporkan pertemuan maraton antara negosiator Iran dan AS telah berakhir setelah 15 jam dan pembicaraan akan dilanjutkan hari ini. Para pejabat Iran memulai pembicaraan pada pukul 13:00 waktu setempat pada hari Sabtu di Hotel Serena di Islamabad, Pakistan, pertama-tama dengan para pejabat Pakistan dan kemudian dengan delegasi Amerika. Perundingan maraton tersebut berlanjut hingga pukul 03.40 waktu setempat pada hari Minggu. Pembicaraan dijadwalkan akan berlanjut selama beberapa jam lagi pada hari Minggu.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa perundingan dengan Iran, pada Minggu (12/4/2026) gagal mencapai kesepakatan. Namun demikian, JD Vance menegaskan bahwa pihaknya masih akan mengajukan “tawaran terakhir dan terbaik” sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan di Pakistan. Vance mengisyaratkan pihaknya masih memberikan waktu bagi Teheran untuk mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut.
Akar utama perselisihan berpusat pada masalah fasilitas nuklir milik Iran. Iran bersikeras tidak sedang berupaya memproduksi bom atom, sementara AS dan Israel telah membombardir sejumlah situs sensitif Iran, baik dalam perang yang meletus pada 28 Februari lalu maupun sepanjang tahun 2025. Vance menegaskan bahwa langkah Iran untuk menghentikan pengembangan nuklir ini jadi kunci dari negosiasi yang ada di antara kedua negara.





