Kondisi Pendidikan di Wilayah Terpencil Aceh Tengah Mengkhawatirkan
Siswa-siswi di wilayah terpencil Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih menghadapi tantangan berat dalam memperoleh hak pendidikan yang layak. Kondisi ini semakin memprihatinkan setelah intensitas hujan tinggi sepekan terakhir menyebabkan jembatan darurat putus total dan tenda sekolah darurat milik Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 26 Takengon roboh.
Sejak bencana hidrometeorologi melanda kawasan tersebut hampir enam bulan lalu, belum ada tanda-tanda pembangunan ruang kelas darurat yang layak bagi para siswa. Akibatnya, para siswa terpaksa belajar di ruang terbuka sejak tanggal 20 April 2026.
Hari Kelima Siswa Belajar di Ruang Terbuka
Kepala Sekolah SMPN 26 Takengon, Ruslan MPd, mengungkapkan bahwa ini adalah hari kelima para siswanya belajar di ruang terbuka. Tenda yang selama ini digunakan sebagai ruang kelas sementara sudah tidak bisa diperbaiki lagi setelah diterjang cuaca buruk.
“Hanya bangunan ini (Postu dan Kantor Desa) yang tersisa dan dapat kami manfaatkan. Selain itu tidak ada lagi, maka kami terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar seperti ini,” ungkap Ruslan dengan nada prihatin pada Kamis (24/4/2026).
Ruslan menjelaskan bahwa akses pendidikan di wilayah tersebut terbagi di dua titik, yakni Desa Reje Payung dan Desa Jamat. Namun, akses ke Reje Payung saat ini terputus total karena ketiadaan jembatan yang bisa dilalui. Meskipun pihak sekolah telah berulang kali mengusulkan pembangunan Ruang Kelas Darurat (RKD) kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, hingga saat ini belum ada kepastian kapan pembangunan akan dimulai.
Kendala Aksesibilitas Menjadi Alasan Utama
Ruslan menduga kendala aksesibilitas menjadi alasan utama lambannya penanganan. “Apa karena jalan ke wilayah ini belum bisa dilalui roda empat sehingga sekolah darurat sampai hari ini belum dibangun?” tanya Ruslan.
Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini antara lain:
-
Kurangnya infrastruktur yang memadai
Jembatan darurat yang rusak dan tidak adanya alternatif jalur membuat akses ke wilayah tersebut sangat terbatas. Hal ini mempersulit pengiriman bahan-bahan konstruksi maupun tenaga kerja untuk membangun ruang kelas darurat. -
Keterlambatan dari pemerintah daerah
Meskipun usulan telah diajukan beberapa kali, respons dari pihak dinas pendidikan masih kurang memadai. Tidak ada kejelasan kapan rencana pembangunan akan dilakukan. -
Kondisi cuaca ekstrem
Intensitas hujan yang tinggi selama beberapa minggu terakhir memperparah kerusakan infrastruktur dan membuat situasi semakin sulit.
Kebutuhan Segera Diatasi
Pemenuhan hak pendidikan bagi siswa-siswi di wilayah terpencil seperti ini harus menjadi prioritas. Mereka tidak boleh terus-menerus belajar di ruang terbuka yang tidak aman dan tidak nyaman. Pembangunan ruang kelas darurat yang layak perlu segera dilakukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
Selain itu, pemerintah daerah juga perlu mempertimbangkan solusi jangka panjang, seperti membangun jembatan permanen dan meningkatkan aksesibilitas ke wilayah tersebut. Dengan demikian, siswa-siswi di wilayah terpencil dapat memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan berkualitas.





