Siapa yang tidak mengenal gambar ikonik di kaleng biskuit Khong Guan? Dalam ilustrasi tersebut, terdapat sosok ibu dan dua anak yang sedang menikmati waktu bersama. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: ke mana perginya “sang ayah”?
Gambar ini tidak hanya menjadi bagian dari kemasan biskuit, tetapi juga menjadi simbol budaya yang melekat dalam ingatan banyak orang. Pemahaman tentang asal-usul gambar ini pun akhirnya terungkap melalui cerita sang pelukis, Bernardus Prasodjo.
Asal Usul Gambar Ikonomik
Bernardus Prasodjo, yang dikenal sebagai seniman grafis, menjelaskan bahwa gambar pada kaleng biskuit Khong Guan dibuat berdasarkan pesanan perusahaan pada tahun 1970-an. Ia menerima contoh gambar dari majalah sebagai inspirasi awal. “Mereka pesan banyak sekali gambar ke saya. Salah satunya Khong Guan itu,” ujarnya dalam sebuah video yang diunggah ANTARA News.
Meski gambar yang ia buat terlihat sederhana, ternyata ada alur cerita yang tersembunyi. Menurut Bernardus, gambar tersebut sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian cerita yang belum menampilkan kehadiran sang ayah. Artinya, ayah dalam keluarga tersebut tidak hilang, hanya saja belum muncul dalam adegan yang dipilih sebagai gambar kemasan.
Hubungan dengan Strategi Promosi
Menurut Bernardus, gambar ini dibuat dengan tujuan promosi. Ia menilai bahwa fokus utamanya adalah ibu rumah tangga, karena mereka yang biasanya membeli biskuit untuk keluarga. “Karena yang belanja ibunya kok,” jelasnya.
Ternyata, jawaban atas misteri ayah dalam gambar ini cukup sederhana. Dari sisi desain kemasan, gambar tersebut memang menonjolkan sosok ibu sebagai target utama konsumen. Sementara dari sisi cerita, adegan di meja makan hanyalah satu bagian dari rangkaian cerita yang belum menampilkan kehadiran sang ayah.
Keterkaitan dengan Ilustrasi Buku Anak-Anak
Penelitian menunjukkan bahwa gambar keluarga ini memiliki kemiripan dengan ilustrasi dalam buku anak-anak klasik Inggris terbitan 1959 dari penerbit Ladybird Books. Buku tersebut menampilkan ilustrasi karya seniman Inggris Harry Wingfield.
Dalam ilustrasi pertama yang sangat mirip dengan gambar di kaleng Khong Guan, terlihat ibu dan dua anak sedang menikmati teh sore hari. Pada halaman berikutnya, cerita berlanjut dengan menggambarkan anak-anak berlari menyambut seseorang yang baru datang ke rumah. Keterangan di samping gambar menyebutkan: “Pada pukul enam sore ayah pulang.”
Artinya, ayah sebenarnya tidak hilang. Dia hanya belum ada di rumah saat keluarga menikmati teh sore, karena masih berada di tempat kerja. Dua jam kemudian, ia kembali dan disambut gembira oleh istri serta anak-anaknya.
Perjalanan Khong Guan
Khong Guan sendiri didirikan di Singapura oleh kakak-beradik Chew Choo Han dan Chew Coo Keng, yang merupakan imigran asal Fujian, China. Awalnya, mereka bekerja di sebuah pabrik biskuit lokal untuk menafkahi keluarga mereka di China. Pada pertengahan 1940-an, Jepang menginvasi Singapura, sehingga mereka harus berpindah ke Perak, Malaysia, untuk berlindung. Di sana, mereka membuat biskuit dengan tangan untuk dijual dan bertahan hidup.
Setelah Jepang angkat kaki dari Singapura, mereka kembali dan memulai bisnis biskuit lagi. Mereka merintis Khong Guan ketika Chew Choo Han menemukan beberapa mesin pembuat biskuit yang sudah tua dan rusak akibat perang. Mesin tersebut dari sisa pabrik lama tempat mereka dulu bekerja yang dijual pemiliknya.
Khong Guan kemudian berkembang pesat dan mulai menyebar ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Khong Guan juga memproduksi kue-kue lain seperti Malkist rasa abon, Malkist Crackers, dan Khong Guan Saltcheese Combo. Namun, yang paling terkenal adalah Khong Guan Red Assorted Biscuits.
Kesimpulan
Gambar sederhana di kaleng biskuit Khong Guan terus muncul setiap Ramadhan dan Lebaran, mengingatkan banyak orang pada masa kecil, tradisi keluarga, dan momen berkumpul bersama. Meskipun pertanyaan ke mana perginya sang ayah selalu muncul, gambar ini tetap menjadi icon budaya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.





