Sementara itu, penggantian kepemimpinan di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menjadi momen penting dalam dinamika kampus. Proses pemilihan rektor untuk periode 2026-2030 sedang berlangsung, dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon-calon rektor. Syarat-syarat tersebut meliputi:
- Dosen dengan jabatan minimal lektor kepala
- Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya empat tahun
- Berusia maksimal 61 tahun
Rektor UPGRIS yang saat ini menjabat, Sri Suciati, menyebut bahwa pergantian kepemimpinan merupakan bagian alami dari proses perkembangan institusi. Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi bukan hanya sekadar bangunan atau kurikulum, tetapi juga sebuah organisme hidup yang terus berkembang.
“Perguruan tinggi ini adalah organisme hidup yang akan terus bertumbuh. Dalam perjalanan itu, pergantian kepemimpinan adalah keniscayaan,” ujarnya dalam sosialisasi calon Rektor UPGRIS di GP 7 UPGRIS, Jumat (24/4).
Menurut Suci, proses pergantian ini tidak boleh dipahami sebagai sekadar pergantian figur, tetapi sebagai estafet kepemimpinan yang menentukan keberlanjutan capaian institusi. Ia membandingkannya dengan lari estafet, di mana keberhasilan mencapai garis finis sangat bergantung pada bagaimana tongkat kepemimpinan diserahkan.
“Capaian pemimpin sebelumnya harus menjadi dasar bagi pemimpin berikutnya untuk berlari lebih cepat,” katanya.
Dalam konteks pengembangan akademik, UPGRIS saat ini tengah mengajukan akreditasi internasional untuk 12 program studi. Proses penyusunan dokumen (borang) telah berjalan dan asesmen lapangan diproyeksikan berlangsung di masa kepemimpinan rektor berikutnya.
“Ini bukan hal yang mustahil dan tidak menyulitkan, karena merupakan keberlanjutan dari apa yang sudah kami mulai,” ujarnya.
Suci berharap pemimpin mendatang memiliki loyalitas dan integritas tinggi agar mampu mengemban amanah institusi serta mendorong percepatan capaian kampus. Ia juga mengajak seluruh civitas academica untuk mengawal proses pemilihan rektor secara sehat dan kondusif.
“Mari kita kawal proses ini dengan semangat kekeluargaan, agar berjalan aman, tertib, dan jujur. Dalam tradisi pemilihan rektor UPGRIS, tidak pernah ada catatan perpecahan. Jika dinamika menghangat, itu hal wajar dan harus disikapi secara bijak,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua PGRI Jawa Tengah Muhdi menilai pergantian kepemimpinan akan menjadi momentum untuk memperkuat kemajuan kampus.
“Perjalanan UPGRIS ini terus bisa progres, terus tumbuh dari waktu ke waktu, dan pergantian kepemimpinan justru akan menjadi semangat baru,” ujarnya.
Selain itu, proses pemilihan rektor juga menjadi ajang untuk memastikan bahwa visi dan misi kampus dapat terus dilanjutkan. Pemimpin baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai inisiatif yang telah dicanangkan, seperti peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan riset, serta kerja sama dengan institusi lokal maupun internasional.
Proses pemilihan rektor ini juga menjadi kesempatan bagi civitas akademika untuk memberikan masukan dan aspirasi mereka. Hal ini penting agar kampus tetap responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar.
Dengan adanya mekanisme pemilihan yang transparan dan demokratis, diharapkan proses ini dapat menghasilkan pemimpin yang mampu membawa UPGRIS menuju puncak kesuksesan. Keterlibatan aktif seluruh pihak akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga kualitas dan kredibilitas universitas.
Selain itu, UPGRIS juga sedang mempersiapkan berbagai program dan inisiatif baru yang akan dilaksanakan pada masa kepemimpinan berikutnya. Ini termasuk pengembangan infrastruktur, peningkatan fasilitas belajar, serta penguatan kapasitas tenaga pengajar.
Proses pemilihan rektor juga menjadi momen penting untuk membangun komitmen bersama antara dosen, staf, dan mahasiswa dalam mendukung visi kampus. Dengan kolaborasi yang kuat, UPGRIS diharapkan dapat menjadi salah satu universitas unggulan di Indonesia.





