Kehidupan Pengemudi Ojek Rinjani: Dari Jasa Transportasi ke Kebaikan Sosial
Di kaki Gunung Rinjani, sebuah kelompok ojek yang dikenal sebagai Kelompok Ojek Lingkar Rinjani (KOLR) telah membuktikan bahwa perjalanan tidak hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang nilai dan kebaikan. Dengan 42 anggota yang dipimpin oleh Juliadi atau akrab disapa Leo, mereka tidak hanya memberikan layanan transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari perekonomian lokal yang berdampak positif.
Pendapatan yang Disisihkan untuk Kebaikan
Setiap minggu, para pengemudi ojek ini mampu mengumpulkan rata-rata sebesar Rp2,1 juta. Dana tersebut langsung disalurkan ke masjid-masjid di seluruh Kecamatan Sembalun dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan material seperti semen untuk Masjid Sembalun Bumbung. Selain itu, jika ada warga yang sakit atau kurang mampu, dana sosial tersebut juga digunakan untuk menolong mereka.
Tarif perjalanan dari Kandang Sapi ke Pos 2 adalah Rp200 ribu per orang. Dari tarif tersebut, setiap pengemudi memiliki kewajiban untuk menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk keperluan masjid dan bantuan sosial.
Perjalanan Awal yang Penuh Tantangan
Kelompok ini awalnya hanya terdiri dari lima orang pada tahun 2010. Mereka bertahan dengan 26 anggota selama hampir lima tahun sebelum akhirnya memiliki badan hukum resmi. Namun, sebelum itu, mereka seringkali menghadapi kesulitan karena belum diakui oleh petugas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Leo mengingat masa lalu dengan rasa bangga. “Dulu sering dipanggil-panggil petugas. Tapi saya ajak teman-teman untuk fokus ke kebaikan,” kenangnya.
Peran Penting dalam Keselamatan Pendaki
Secara teknis, layanan ojek ini sangat penting dalam mempercepat waktu tempuh dari tiga jam menjadi hanya 30 menit. Ketika jalur pendakian rusak, para anggota tidak menunggu pemerintah. Mereka turun tangan secara swadaya untuk memperbaiki jalan demi keselamatan pendaki.
“Kami ingin buktikan, ojek gunung bukan sekadar transportasi. Ini soal sedekah jasa dan pengabdian,” ujar Leo.
Kontribusi yang Berkelanjutan
Di tengah gemerlap tarif pendakian mahal dan isu komersialisasi Rinjani, kelompok ini memilih jalan sunyi, menabung pahala dari setiap putaran roda. Mereka menjalani kehidupan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
“Ya mungkin ini jalan kami untuk mencari akhirat kami,” pungkas Leo.





