Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026: Mendorong Perkembangan Ekosistem Seni di Indonesia
Seni pertunjukan menjadi bagian penting dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Tidak hanya sebagai wadah ekspresi, seni pertunjukan juga berperan sebagai ruang refleksi dan komunikasi antara seniman dengan publik. Dalam rangka mendukung proses kreatif yang berkelanjutan, Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menghadirkan program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026.
Program ini merupakan inisiatif yang telah berjalan sejak 2016 dan kembali hadir dengan pendekatan yang lebih relevan terhadap perkembangan industri seni saat ini. Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 tidak hanya fokus pada penciptaan karya, tetapi juga mencakup penguatan manajemen artistik, perluasan jejaring, serta peningkatan profesionalisme pelaku seni.
Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation menjelaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah untuk menciptakan ruang yang memperkuat fondasi para pelaku seni. “Kami ingin membangun ekosistem seni pertunjukan yang berkelanjutan di Indonesia. Melalui program ini, kami tidak hanya mendorong lahirnya karya-karya berkualitas, tetapi juga memperkuat fondasi para pelaku seni mulai dari proses kreatif hingga bagaimana karya tersebut dapat bertemu dengan publik secara lebih luas dan terstruktur.”
Kesempatan bagi Komunitas Seni Pertunjukan
Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 membuka kesempatan bagi komunitas dan sanggar seni pertunjukan dari seluruh Indonesia yang mengembangkan karya berbasis nilai budaya dan kearifan lokal. Program ini mencakup berbagai bentuk seni seperti tari, musik, teater, sastra, maupun pertunjukan kontemporer.
Program ini dimulai dengan roadshow Bincang Kreatif Seni Pertunjukan, yang memberikan wawasan langsung kepada para pelaku seni tentang pengolahan kreativitas dan gambaran menyeluruh mengenai program ini. Tahun ini, roadshow akan diadakan di empat kota:
- Kupang (1 Mei 2026) di Taman Budaya Gerson Poyk, menghadirkan Rama Soeprapto dan Nuya Susantono.
- Banjarmasin (7 Mei 2026) di Lecture Theater General Building, Universitas Lambung Mangkurat, menghadirkan Eko Supriyanto dan Chriskevin Adefrid.
- Tasikmalaya (11 Mei 2026) di Auditorium Tasik Creative Hub, menghadirkan Rama Soeprapto dan Sari Madjid.
- Lampung (13 Mei 2026) di Gedung Dewan Kesenian Lampung, menghadirkan Hartati dan Pradetya Novitri.
Persyaratan dan Proses Seleksi
Program ini terbuka bagi Warga Negara Indonesia berusia 18–35 tahun yang mewakili komunitas seni dengan rekam jejak di bidang seni pertunjukan. Pendaftaran telah dibuka pada 13 April hingga 31 Mei 2026. Peserta dapat mendaftarkan diri dengan mengirimkan proposal karya yang memuat latar belakang, sinopsis, ide dan konsep kreatif, profil tim inti (minimal tiga orang), portofolio komunitas, timeline rencana produksi selama Agustus–Oktober 2026, rancangan anggaran maksimal 35 juta rupiah, kontak tim produksi, serta tautan media sosial komunitas.
Peserta diperbolehkan mengirimkan lebih dari satu proposal, di mana 13 proposal terbaik akan mendapatkan fasilitas dana produksi, workshop, serta mentoring dari para praktisi seni berpengalaman.
Proses seleksi dan pengembangan program akan berlangsung dalam beberapa tahap:
- Juni 2026: Seleksi 100 besar, kemudian dilanjut dengan seleksi 25 besar.
- Juni 2026: Workshop online untuk 25 besar.
- Juli 2026: Pitching proposal dan penjurian, serta pengumuman 13 proposal terpilih.
- Agustus 2026: Workshop onsite untuk 13 besar di Jakarta.
- Agustus–November 2026: Mentoring dan produksi karya.
- November–Desember 2026: Pentas karya di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.
Tim Kurasi dan Penjurian
Untuk memastikan kualitas dan relevansi karya yang terpilih, proses kurasi akan dilakukan oleh Keni Soeriaatmadja dan Mitae Mita, serta Bakti Budaya Djarum Foundation. Keni dikenal sebagai penari, produser, dan kurator yang aktif mengembangkan ruang belajar bagi koreografer muda melalui Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp. Mitae memiliki pengalaman sebagai Festival Manager, Production Manager, dan Stage Manager dalam berbagai gelaran seni dan budaya serta turut menginisiasi berdirinya Asosiasi Pekerja Industri (API) Pertunjukan Indonesia.
Sementara itu, tahap penjurian akhir yang menentukan karya terpilih untuk dipentaskan akan melibatkan Garin Nugroho, Toto Arto, dan Bakti Budaya Djarum Foundation. Garin Nugroho dikenal sebagai sutradara, penulis, dan budayawan yang konsisten menghadirkan karya-karya sinema dan pertunjukan berbasis narasi budaya Indonesia di tingkat nasional hingga internasional. Toto Arto merupakan praktisi seni pertunjukan yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan produksi dan manajemen pertunjukan di Indonesia.
Harapan dan Visi Masa Depan
Keterlibatan para praktisi seni berpengalaman ini diharapkan dapat memperkuat kualitas artistik sekaligus kesiapan produksi karya yang terpilih. Menurut Keni Soeriaatmadja, Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia menjadi inisiatif yang penting karena bukan hanya memberi ruang, tapi benar-benar merawat tumbuhnya seniman muda. Di sini, ide dan praktik mereka punya kesempatan untuk berkembang dan dikenal lebih luas, bahkan hingga ke level internasional.
Dengan hadirnya kembali program ini, Bakti Budaya Djarum Foundation berharap dapat menjadi katalis bagi lahirnya karya-karya inovatif sekaligus memperkuat jaringan antar pelaku seni di seluruh Indonesia. “Kedepannya, kami berharap semakin banyak komunitas yang tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki sistem kerja yang kuat dan berkelanjutan,” tutup Renitasari.





