Pelanduk Kancil, Ungulata Terkecil di Dunia
Pelanduk kancil (Tragulus kanchil) adalah salah satu spesies ungulata terkecil yang dikenal. Mamalia berkuku ini memiliki ciri khas berupa ujung kaki dengan kuku keras yang digunakan untuk berjalan. Dengan jumlah sekitar 242 spesies mamalia berkuku yang tersebar di seluruh dunia, pelanduk kancil menjadi yang paling kecil. Ukuran tubuhnya hanya sepanjang 37—56 cm, tinggi 25—30 cm, dan bobot 1,3—2,4 kg. Jadi, ukurannya tidak lebih besar dari kelinci.
Ciri Fisik dan Penampilan
Penampilan pelanduk kancil dapat diidentifikasi dengan rambut berwarna cokelat kemerahan pada bagian punggung dan putih pada bagian perut. Kepala mereka tidak ditumbuhi tanduk dan terdapat tiga garis putih yang khas di sekitaran leher. Hewan ini memiliki beberapa hal menarik yang akan kita bahas kali ini. Jika kamu ingin mengenal ungulata terkecil di dunia, mari kita mulai!
1. Peta Persebaran, Habitat, dan Makanan Favorit
Pelanduk kancil hanya ditemukan di Asia Tenggara dan sedikit Asia Timur. Spesifiknya, hewan ini dapat ditemukan di sekitaran Vietnam, Kamboja, Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia (Sumatra dan Kalimantan), Brunei, serta selatan China. Pelanduk kancil banyak ditemukan di kawasan hutan hujan tropis, hutan pegunungan, rawa, hutan bakau, sabana yang lembab, padang rumput, dan dalam kasus tertentu datang ke lahan pertanian atau perkebunan manusia. Ketinggian habitat yang paling sesuai untuk mereka adalah 600 meter di atas permukaan laut.
Sebagai herbivor sejati, pelanduk kancil memakan berbagai jenis tanaman seperti rumput, daun, akar, tunas tanaman, buah-buahan, dan jamur. Hewan ini aktif selama siang hari, terutama pagi hari antara pukul 05.00—10.00 waktu setempat, dan menjelang matahari terbenam antara pukul 15.00—18.00 waktu setempat. Dalam satu hari, pelanduk kancil berkeliling sejauh sekitar 550 meter demi mencari makanan.
2. Dimorfisme Seksual dan Perilaku

Sama seperti kebanyakan spesies ungulata lain, pelanduk kancil memiliki dimorfisme seksual atau perbedaan ciri fisik antara jantan dan betina. Hanya jantan yang menumbuhkan gigi taring pada bagian atas yang terlihat seperti gigi vampir dan digunakan untuk mempertahankan diri atau bertarung dengan sesama. Selain itu, jantan juga memproduksi kelenjar aroma khusus guna menandai wilayah dan menarik perhatian lawan jenis.
Meski tidak memiliki gigi taring yang khas, betina ternyata punya ukuran lebih besar ketimbang jantan. Kelenjar yang sama juga dimiliki betina, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dari jantan, sampai sangat sulit untuk diidentifikasi keberadaannya. Soal perilaku, secara umum, pelanduk kancil tergolong sebagai hewan soliter. Baik jantan maupun betina memiliki batas wilayah sendiri dan rutin menandai batas wilayah tersebut. Batas wilayah antara jantan dan betina lebih banyak tumpang tindih, menunjukkan kemudahan akses antar lawan jenis untuk bertemu. Namun, batas wilayah pada sesama jantan atau sesama betina sangat jelas dan masing-masing individu tidak menolerir kehadiran individu lain yang sejenis.
3. Cara Melarikan Diri dari Predator

Karena tinggal di hutan dan memiliki ukuran relatif kecil, pelanduk kancil rentan diburu oleh banyak predator. Untuk meloloskan diri, hewan ini menggunakan berbagai cara. Indera penciuman tajam dan pengelihatan dengan jangkauan luas menjadi senjata utama untuk mendeteksi keberadaan predator. Kaki mereka juga bisa berlari dengan lincah di tengah lebatnya vegetasi hutan. Selain itu, mereka punya kebiasaan unik. Saat merasa ada predator mendekat, pelanduk kancil awalnya diam di tempat seperti sedang membeku. Jika predator tetap mendekat, mereka mulai menghantam-hantamkan kaki depan secara cepat dan berulang sebagai bentuk intimidasi. Jika cara-cara itu tidak berhasil, barulah mereka mengambil langkah seribu menuju celah pohon, lubang, atau gua yang bisa diakses untuk bersembunyi.
4. Sistem Reproduksi

Tidak ada musim kawin yang pasti bagi pelanduk kancil karena mereka dapat kawin kapan saja sepanjang waktu. Siklus reproduksi mereka termasuk yang tercepat karena betina sudah bisa melahirkan setiap 4,5 bulan sekali. Baik jantan maupun betina akan berganti pasangan setiap siklus reproduksi, tetapi tidak diketahui apakah ada ritual kawin khusus selain pencarian pasangan lewat kelenjar bau khas spesies ini.
Setelah kawin, betina akan mengandung selama 140—177 hari. Anak yang dilahirkan hanya satu ekor, tetapi karena kecepatan siklus reproduksi, dalam setahun induk pelanduk kancil dapat melahirkan 2—3 ekor anak. Anak pelanduk kancil akan selalu berada dalam pengawasan induk selama 21 hari pertama. Setelah itu, mereka tumbuh dengan cepat hingga matang secara seksual pada usia 125 hari untuk betina dan 166 hari untuk jantan. Di alam liar, spesies ini dapat hidup hingga usia 12 tahun.
5. Status Konservasi

Menurut IUCN Red List, status konservasi pelanduk kancil masih tergolong hewan dengan risiko rendah (Least Concern). Namun, tidak ada catatan tentang jumlah individu maupun tren populasi dari spesies ini karena habitat yang sulit dijamah dan perilaku malu dari hewan ini. Diduga kuat kalau populasi pelanduk kancil sedang dalam ancaman seiring dengan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran di sepanjang peta persebaran mereka.
Selain itu, pelanduk kancil juga terancam oleh perburuan manusia untuk memperoleh daging atau predator asing yang diperkenalkan manusia. Perburuan terhadap spesies ini terjadi karena mereka sering berkonflik dengan petani karena mencuri tanaman di kebun atau lahan pertanian. Konflik inilah yang melatarbelakangi salah satu cerita rakyat paling populer di sekitaran Asia Tenggara, yaitu Si Kancil.
6. FAQ Seputar Fakta Pelanduk
Question: Kenapa pelanduk sering muncul dalam cerita rakyat Asia Tenggara?
Answer: Karena pelanduk dikenal sebagai hewan kecil tetapi cerdik. Karakter “Sang Kancil” bahkan sudah menjadi bagian budaya populer di Indonesia dan Malaysia selama ratusan tahun.
Question: Apakah pelanduk termasuk rusa?
Answer: Tidak sepenuhnya. Walaupun sering disebut “kancil” atau “rusa kecil”, pelanduk berasal dari keluarga Tragulidae yang berbeda dari rusa sejati.
Question: Apakah pelanduk bisa dipelihara seperti hewan domestik?
Answer: Tidak disarankan. Pelanduk adalah satwa liar yang sangat sensitif terhadap stres dan membutuhkan habitat alami tertentu agar bisa bertahan hidup dengan baik.





