Kehidupan Umi Aqilla dan Perjalanan Mie Ndelik
Mie Ndelik kini menjadi salah satu usaha kuliner yang menarik perhatian banyak pecinta makanan. Nama “Mie Ndelik” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “sembunyi”. Nama ini dipilih karena awalnya, usaha ini berada di lokasi yang tersembunyi di dalam gang dan rumah pribadi milik Umi Aqilla.
Umi Aqilla adalah pemilik dari Mie Ndelik, sebuah usaha kuliner mi yang kini dikenal karena cita rasa khas dan konsep uniknya. Awalnya, ia membuka usaha ini pada Mei 2024 dengan tujuan untuk memberikan modal kepada adiknya yang suka memasak. Adiknya kemudian bertugas sebagai koki. Namun, sebelum resmi membuka outlet pertamanya, Umi Aqilla lebih dulu menjalankan sistem open pre-order (PO) setiap Sabtu dan Minggu selama tahun 2023.
Sebelum memulai usaha secara serius, ia melakukan “uji ngangenin” kepada para pelanggan dengan mengundang orang-orang untuk makan di rumah. Lebih dari 100 orang dijadikan tester. Jika nilai rata-rata mereka di atas delapan, baru ia yakin untuk membuka Mie Ndelik.
Mie dan Kenangan Masa Kecil
Di balik pilihan menjual mie, ada kisah emosional yang sangat dekat dengan kehidupan Umi Aqilla. Ia dan adiknya merupakan perantau asal Yogyakarta yang tumbuh dari keluarga sederhana. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, mie menjadi makanan yang penuh kenangan bagi mereka.
“Kalau dulu sakit atau tidak ada makanan, mama selalu masak mie. Rasanya menyenangkan sekali. Jadi mie itu buat kami sangat istimewa,” ujarnya. Bahkan, mie juga menjadi bekal sekolah mereka semasa kecil. Mama sering bekalin mie dengan potongan tempe kecil-kecil. Sampai sekarang, ketika membuat mie, rasanya seperti mengingat orang tua di Jogja.
Kenangan itulah yang akhirnya membuat Umi Aqilla dan sang adik mantap menjadikan mie sebagai identitas usaha mereka. Kini, Mie Ndelik memiliki berbagai varian menu dengan konsep “mie tradisional, viral, dan pedas”.
Beberapa menu Mie Ndelik antara lain Mindel Original, Mindel Pedas, Mie Nyemek, Mie Ayam Original, Mie Ayam Bakso, Mie Ayam Chili Oil, Mie Yamin, dan yang terbaru yaitu Mie Nyeblak. “Kalau mie nyeblak itu mie dengan kuah seblak. Jadi memang kami ingin banyak variasi untuk pecinta mie,” jelasnya.
Kesuksesan dan Tantangan
Kesuksesan Mie Ndelik mulai terasa saat usaha tersebut viral pada awal tahun 2024. Ramainya pengunjung membuat tempat kecil mereka kewalahan menerima pesanan. Awalnya, tempat mereka cuma sebelah saja, dapurnya juga kecil sekali. Karena makin ramai, akhirnya tempat sebelah mereka sewa dan dijebol supaya lebih luas.
Namun, viral ternyata bukan hanya membawa keuntungan, tetapi juga tantangan besar. Masalah terbesar yang mereka hadapi adalah kecepatan penyajian. Dapur yang sempit dan keterbatasan tenaga kerja membuat pelanggan harus menunggu cukup lama. Kadang pelanggan merasa pesan lama. Padahal dapur kami kecil sekali. Ada yang sampai kasih bintang satu di Google Maps karena nunggu lama.
Meski demikian, ia mengaku terus berusaha memperbaiki pelayanan agar pelanggan tetap nyaman. “Itu jadi PR besar kami sampai sekarang. Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik,” tambahnya.
Omzet Puluhan Juta per Bulan
Meski sempat mengalami pasang surut penjualan, terutama setelah kondisi ekonomi berubah di tahun 2025, Mie Ndelik tetap mampu bertahan. Untuk omzet, Umi Aqilla mengaku penghasilannya tidak selalu stabil setiap bulan. Namun, rata-rata omzet usaha mereka berada di kisaran Rp.30 juta hingga Rp.40 juta per bulan.
“Sebenarnya nggak pasti, apalagi sekarang agak turun. Tapi ya alhamdulillah masih cukup,” ujarnya. Berdasarkan survei terhadap sekitar 200 pelanggan, mayoritas pengunjung Mie Ndelik justru berasal dari kalangan ibu-ibu. Rata-rata ibu-ibu habis jemput anak sekolah, arisan, atau sekadar nongkrong.
Tak hanya warga sekitar, pelanggan mereka bahkan pernah datang dari daerah Panjang hingga Bandar Lampung saat Mie Ndelik sedang viral.
Inovasi Menu Baru
Agar pelanggan tidak bosan, Mie Ndelik juga rutin menghadirkan inovasi menu baru setiap enam bulan sekali. “Kalau dulu sempat tiga bulan sekali keluar menu baru, tapi sekarang kami evaluasi berdasarkan penjualan. Jadi enam bulan sekali lebih efektif,” kata Umi Aqilla.





