Kenaikan Harga Bahan Pokok di Pekanbaru Mengkhawatirkan Masyarakat
Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Pekanbaru mulai menjadi perhatian masyarakat. Beberapa komoditas seperti beras, minyak goreng, hingga produk turunan kedelai seperti tahu dan tempe mengalami kenaikan atau penyesuaian, sementara komoditas lain seperti cabai, bawang, dan tomat justru mengalami penurunan harga.
Untuk harga beras merk Topi Koki dan Belida di Pekanbaru misalnya, mengalami kenaikan harga 500 per kg nya sedangkan per 10 kilonya naik sekitar Rp4000 hingga Rp5000. Kondisi ini dinilai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena kenaikan terjadi pada kebutuhan utama. Meski harga cabai dan komoditas hortikultura lain mulai melandai akibat pasokan melimpah, tekanan justru bergeser ke bahan pangan pokok lainnya.
Perkembangan Inflasi di Riau
Ekonom senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menjelaskan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah terlihat sejak Maret 2026 lalu. Ia menyebut, secara bulanan Riau sempat mengalami deflasi tipis, namun secara tahunan tekanan inflasi masih cukup terasa.
“Kalau kita tengok Maret 2026 yang lalu, Riau ini sebenarnya agak bernapas sikit. Bayangkan, harga-harga bisa turun tipis alias deflasi 0,20 persen gara-gara harga cabai merah sama harga perhiasan emas lagi turun. Gitu pun, secara tahunan inflasi kita tetap di angka 3,65 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi inflasi yang terjadi di Riau juga tidak merata di setiap daerah. Perbedaan ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor distribusi dan logistik yang belum optimal. Menurut Dahlan, wilayah seperti Tembilahan mengalami tekanan harga lebih tinggi dibandingkan daerah lain seperti Kampar. Hal ini menunjukkan masih adanya persoalan pada rantai distribusi yang menyebabkan harga tidak stabil di beberapa daerah.
“Paling parah memang di Tembilahan. Harganya ngegas terus, beda sama Kampar yang lebih selow di angka 3,23 persen. Ini menunjukkan urusan kirim-kirim barang atau logistik di daerah kita ini memang belum rata,” jelasnya.
Kondisi Harga Pangan yang Tidak Seimbang
Memasuki pertengahan April 2026, Dahlan melihat kondisi harga pangan semakin tidak seimbang atau asimetris. Ia menyebut, penurunan harga pada komoditas tertentu tidak serta-merta diikuti oleh stabilitas harga pada komoditas lainnya.
Menurutnya, saat ini harga cabai, tomat, dan bawang memang cenderung turun karena pasokan dari daerah produsen meningkat. Namun di sisi lain, harga beras justru mulai mengalami kenaikan dan berpotensi menjadi masalah serius.
“Masuk pertengahan April 2026 ini, situasinya makin aneh, asimetris istilahnya. Cabai, tomat, sama bawang memang sudah melandai harganya karena pasokan dari daerah produsen lagi kencang-kencangnya masuk ke Riau. Tapi jangan senang dulu, sekarang giliran harga beras yang mulai merangkak naik,” katanya.
Rekomendasi untuk Masyarakat
Dahlan mengingatkan bahwa beras merupakan kebutuhan paling mendasar sehingga kenaikan harga beras harus menjadi perhatian serius pemerintah. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Ia menyarankan masyarakat untuk lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, terutama dengan memanfaatkan momen turunnya harga komoditas tertentu untuk menyeimbangkan kebutuhan rumah tangga. Ia menyarankan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan pangan, melainkan mulai mencari alternatif lain sebagai sumber karbohidrat guna mengurangi beban pengeluaran.
“Mumpung harga cabai, tomat, sama bawang lagi turun, saatnya kita cerdik mengatur belanja. Janganlah terpaku kali sama beras yang harganya lagi ngegas itu, coba sesekali ganti karbohidratnya pake yang lain,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Menurutnya, kebiasaan tersebut justru dapat memperparah kondisi pasar dan mendorong harga semakin naik.
Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Harga
Dahlan menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, terutama melalui operasi pasar dan penguatan stok pangan. Ia juga mendorong agar BUMD Pangan dan Bulog lebih aktif dalam menyerap hasil produksi saat harga turun.
“Buat Pemda sama kawan-kawan di Bulog, tolonglah, beras lagi naik ini, jangan diam aja. Segerakanlah itu Operasi Pasar yang tepat sasaran. Momen harga cabai lagi murah sekarang ini, itulah saat paling pas buat BUMD Pangan mainkan peran sebagai off-taker,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan petani. Menurutnya, saat harga turun, hasil panen petani harus tetap dihargai secara layak agar produksi tetap terjaga di masa mendatang.
Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, Bulog, dan pelaku distribusi, Dahlan optimistis stabilitas harga pangan dapat dijaga. Ia menilai langkah berbasis data dan pemantauan rutin menjadi kunci agar masyarakat tidak terus dibayangi kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.





