Penjual Sate Padang Ajo Manih Membantah Tuduhan Menggunakan Tusuk Sate Bekas
Seorang pedagang sate padang yang dikenal dengan nama Ajo Manih di Jalan Gajahmada, Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, membantah tudingan bahwa mereka menggunakan tusuk sate bekas yang dicuci ulang. Hal ini terjadi setelah sebuah video viral di media sosial yang menuduh penjual melakukan praktik tersebut.
Penjelasan dari Pedagang
Afta (25), salah satu karyawan lapak sate, menjelaskan bahwa tusuk sate yang digunakan selalu baru setiap hari. Ia mengatakan bahwa lidi yang ada dalam wadah air bukanlah untuk digunakan kembali, melainkan sampah yang akan dimusnahkan.
“Untuk kejadian yang kemarin saya tidak membenarkan kejadian tersebut. Untuk lidi yang kita pakai selalu baru. Kita pakai lidi dari orderan tersebut juga. Dari yang pas beli ketupat kita sudah order itu juga,” ujar Afta saat ditemui di lapaknya.
Video yang viral tersebut berisi narasi bahwa tusuk sate dicuci dan digunakan kembali oleh penjual. Narasi ini menyebutkan lokasi berada di Kota Semarang dan membuat banyak orang merasa khawatir.
Reaksi Warganet
Unggahan video tersebut ramai di akun Threads @wowartisnih. Dalam unggahannya, akun tersebut menulis:
“First time makan sate padang di Semarang dan gak pernah semuak ini, tusuk sate dicuci dan dipakai lagi. Udah bekas berapa mulut tuh tusuk sate sampai tusuknya tipis bgt. Harga sate 24rb per porsi, tapi untuk beli tusuk sate merasa rugi. Padahal harga tusuk sate semurah itu. Aduh ga lagi deh makan di sini, diare cuy. Ada yang bisa tebak ini di mana?”
Unggahan ini memicu reaksi warganet. Salah satu akun bahkan memberikan petunjuk lokasi warung yang dimaksud.
“Kak ini sate padang AM yang di GM bukan? Mana sering makan di situ,” tulis akun @natalia.anna02.
Penjelasan Lebih Lanjut dari Afta
Afta menjelaskan bahwa lidi yang terlihat dalam wadah berisi air bukan untuk digunakan kembali. Menurutnya, lidi tersebut sudah menjadi sampah sebelum dibakar.
“Setelah kita gunakan lidi, kita buang lagi. Kalaupun daur ulang tidak mungkin, tidak pakai. Itu kalau di video kan seperti dicuci pakai sabun itu, di sampah. Itu proses bapake ‘pekerja’ milih lidi. Kan Bapak yang cuci piring. Lah tangannya kena busa, busa itu netes ke tempat lidi. Nah, jadi kita tidak gunakan lagi. Kita buang, langsung kita buang,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa air dalam wadah digunakan agar lidi lebih mudah disusun sebelum dimusnahkan.
“Oh, air itu biar dimudahkan tak susun. Kalau kering kan banyakan kita kan sama banyak. Kalau kering susah masuk,” ucapnya.
Lidi sate, menurut Afta, berasal dari janur ketupat yang rutin mereka pesan setiap hari bersamaan dengan pembelian ketupat.
“Lidi dari janur ketupat. Kita kan beli ketupat terus tiap hari. Lah, yang jual ketupat itu juga bikin lidinya juga. Nah, kita order terus,” katanya.
Kesalahpahaman yang Terjadi
Afta menduga kesalahpahaman bermula ketika pelanggan melihat wadah lidi bekas yang terkena tetesan air sabun saat proses mencuci piring.
“Itu customer makan di sini. Itu customer pertama kali masuk makan di sini, bukan customer lama. Customer makan di sini baru sekitar empat orang, dua cowok, dua cewek. Itu yang cewek itu inisiatif naruh piring ke belakang sendiri. Nah, itu kan tidak dibenarkan oleh karyawan-karyawan kita semua. Kalau sudah selesai makan langsung kita ngomong. Nanti kita bersihkan,” ujarnya.
“Nah, kemudian kakaknya lihat kemungkinan. Lihat lidi itu kok ada di tempat lidi ada air bilas. Terus kakak itu tanya ke bapake. ‘Pak ini dibilas lagi ya dengan narasi tersebut?’ Bapak belum jawab. Mohon maaf, bapak ini juga pendengarannya agak kurang,” sambungnya.
Penurunan Penjualan Setelah Viral
Menurut Afta, penjualan lapak mengalami penurunan signifikan setelah video tersebut viral.
“Dengan adanya video viral tersebut kita mengalami, ya enggak penurunan bangetlah. Itu juga menjatuhkan usaha orang. Padahal tidak sesuai dengan kenyataan itu semua,” kata dia.
Ia menyebut biasanya lapak menghabiskan sekitar 40 kilogram daging sapi per hari pada hari biasa dan meningkat saat akhir pekan.
“Kalau setiap hari biasa, biasanya habis 40 kg-an sapi. Kalau weekend bisa 45 sampai 50 kg,” ujarnya.
Sementara untuk ketupat, mereka biasa menyiapkan hingga 500 biji per hari.
“Ketupat kita biasanya 500 biji. Kalau hari biasa kita 450-an lah,” katanya.
Menurut Afta, penurunan penjualan saat ini diperkirakan mencapai sekitar 40 persen sejak video tersebut viral di media sosial.
“Ini kan masih tiga hari ya. Itu masih ada 40 persenan (penurunannya). Untuk contoh dari kemarin juga turun lumayan,” imbuhnya.





