Kehidupan di Bali yang Dipengaruhi oleh Sepeda Motor
Di kawasan wisata Kuta, Bali, lalu lintas mulai ramai ketika seorang pria bernama Dika (33 tahun) mengendarai Honda Genio keluar dari halaman sebuah hotel di Legian. Matahari yang terang menemani perjalanan motor yang ia tumpangi menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai pada hari Minggu (23/5). “Kalau lewat jalan utama bisa macet,” katanya sambil mengarahkan motornya ke gang sempit yang hanya cukup untuk dua kendaraan roda dua.
Tujuan mereka adalah Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, sekitar 20 menit dari kawasan wisata Kuta jika lalu-lintas lancar. Sebagai warga lokal, Dika sangat memahami jalan-jalan alternatif yang sering luput dari perhatian wisatawan. Di sepanjang perjalanan, Bali menunjukkan denyut ekonominya. Toko oleh-oleh mulai membuka pintu, dan di beberapa sudut jalan, puluhan sepeda motor terparkir di depan penginapan dan vila.
“Sebagian besar itu motor sewaan,” ujar Dika sambil menunjuk deretan skuter matik yang berjajar di depan pertokoan. Bagi banyak warga Bali, sepeda motor bukan lagi sekadar alat transportasi. Kendaraan roda dua telah menjadi bagian dari ekosistem pariwisata sekaligus sumber penghasilan keluarga.
Dika merasakan langsung perubahan itu. Motor yang dikendarainya hari itu merupakan motor ketiga yang ia miliki melalui pembiayaan FIFGroup. Setelah cicilannya lunas, ia rajin menambah armada hingga kini memiliki tiga unit sepeda motor. Satu digunakan sehari-hari, dua lainnya disewakan kepada awak kapal yang bersandar di pelabuhan.
Beberapa tahun lalu, Dika tak pernah membayangkan sepeda motor bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Sebagai karyawan perusahaan farmasi, ia mengandalkan gaji bulanan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun hidup di Bali membuatnya akrab dengan peluang yang sering datang dari hal sederhana.
Dari pertemanan dengan petugas pelabuhan, Dika melihat kebutuhan transportasi awak kapal yang bersandar beberapa hari di Bali. Banyak dari mereka ingin berkeliling sebelum kembali melaut. Dari situlah ia memberanikan diri menyewakan satu unit motor miliknya. Kini tiap unit disewakan Rp100.000 per hari. Dalam sebulan, rata-rata motor miliknya tersewa sekitar 15 hari. Penghasilan tambahan itu ia gunakan untuk membayar cicilan salah satu motor yang masih berjalan, sementara sebagian lainnya disisihkan untuk tabungan pendidikan anak.
“Kalau ada lebih, saya simpan buat sekolah anak,” katanya. Menurut Dika, bisnis penyewaan sepeda motor telah menjadi salah satu penopang ekonomi banyak keluarga di Bali. Jenis yang paling banyak dicari wisatawan maupun penyewa lokal adalah skuter matik seperti Honda Scoopy hingga Genio. Sementara itu, permintaan terhadap motor premium seperti Honda PCX juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Dika, roda yang terus berputar berarti cicilan yang lebih ringan sekaligus pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Sedangkan penghasilannya sebagai tenaga kerja di industri farmasi dapat disimpan utuh. Pendapatan tambahan dari usaha rental itu kini sebagian disisihkan untuk tabungan pendidikan anaknya. Dika berharap kelak anaknya memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi daripada yang pernah ia rasakan.
Motor Menjadi Modal Usaha

Pengalaman Dika hanyalah satu dari banyak kisah masyarakat Bali yang menggantungkan harapan pada roda dua. Di sudut lain Pulau Dewata, Arif (38) juga menggantungkan harapan pada bisnis serupa. Jika Dika bermain di pasar awak kapal di kawasan pelabuhan, Arif hidup dari wisatawan asing yang datang ke vila-vila.
Belasan sepeda motor berjajar rapi di garasi rumahnya. Sebagian armada yang dimilikinya diperoleh melalui pembiayaan kendaraan. Pengalaman sebelumnya membuat Arif kembali memilih FIFGroup saat menambah armada usahanya. Setiap pagi, satu per satu kendaraan itu keluar menuju hotel, vila, maupun penginapan tempat para wisatawan menginap.
Bagi pelancong asing, kendaraan tersebut hanyalah sarana untuk menjelajahi pantai-pantai tersembunyi, hamparan sawah di Ubud, atau pusat kuliner lokal yang tidak dilalui bus wisata. Namun bagi Arif, armada itu adalah aset produktif yang menopang kehidupan keluarganya. Menurutnya, satu unit sepeda motor dapat menghasilkan pendapatan rata-rata Rp1 juta hingga Rp1,8 juta per bulan. Ia mengaku senang kini usaha kecil-kecilan yang ia rintis berkembang menjadi lebih besar.
“Peluangnya masih luas, namun tantangannya juga banyak,” ujarnya. Tantangan itu tidak hanya datang dari persaingan usaha yang semakin ketat. Risiko kendaraan ditinggal penyewa di tepi jalan juga menjadi perhatian utama. Karena itu setiap wisatawan asing yang menyewa motor diwajibkan menunjukkan paspor asli, surat izin mengemudi internasional, serta bukti akomodasi. Seluruh armada juga dipasangi alat pelacak GPS.
Meski demikian, bisnis penyewaan sepeda motor tetap tumbuh seiring meningkatnya aktivitas wisata di Bali. Skuter matik seperti Honda Genio, Honda Scoopy, hingga Honda PCX menjadi pilihan favorit wisatawan karena mampu menjangkau jalan-jalan sempit menuju pantai, desa wisata, hingga pusat kuliner yang sulit diakses kendaraan berukuran besar.
Putaran Roda yang Menggerakkan Pulau Dewata

Kuta memang selalu menyimpan banyak cerita di balik destinasi wisatanya yang mempesona. Di balik ribuan skuter yang lalu lalang mengantar wisatawan menikmati Pulau Dewata, tersimpan sebuah ekosistem ekonomi yang memberi nafkah bagi banyak keluarga sekaligus menjaga roda pariwisata tetap berputar. Ada orang tua yang membiayai pendidikan anak, ada keluarga yang membangun usaha kecil, ada pula mereka yang perlahan mewujudkan impian memiliki kehidupan yang lebih baik.
Di Pulau Dewata, roda-roda itu tak hanya membawa wisatawan menuju destinasi impian. Ia juga membawa banyak keluarga Bali melangkah lebih dekat menuju impian mereka sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor menyumbang 8,78% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali sepanjang 2025. Pada kuartal I/2026, sektor tersebut masih memberikan kontribusi 7,25% terhadap perekonomian daerah.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mencatat hampir seluruh lapangan usaha penyusun PDRB Bali tumbuh positif pada kuartal pertama tahun ini. Selain perdagangan dan reparasi kendaraan, pertumbuhan juga ditopang oleh administrasi pemerintahan, industri pengolahan, jasa pendidikan, jasa kesehatan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum. Meningkatnya aktivitas wisata turut tercermin dari tingkat hunian hotel berbintang yang naik dari rata-rata 52,67% pada kuartal I/2025 menjadi 54,87% pada periode yang sama tahun ini.
Namun, di bawah bayang-bayang hotel, restoran, dan pantai yang menjadi ikon wisata, sektor transportasi serta perdagangan kendaraan roda dua ikut memainkan peran penting dalam menjaga roda ekonomi tetap bergerak. Jejak penting roda dua dalam ekonomi Bali juga tercermin dari jumlah kendaraan yang beredar di pulau ini. Data BPS 2024 mencatat terdapat sekitar 4,52 juta unit sepeda motor di Bali. Denpasar menjadi wilayah dengan populasi terbesar mencapai 1,48 juta unit, disusul Badung sebanyak 825.039 unit.
Denpasar dihuni sekitar 670.210 jiwa, sementara Badung berpenduduk 537.740 jiwa. Jumlah itu bahkan melampaui populasi penduduk di kedua daerah tersebut, menunjukkan betapa roda dua telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat Bali. Kepala FIFGroup Wilayah Bali I Made Aria Kusuma menjelaskan industri pembiayaan di Pulau Dewata bertumbuh seiring sektor pariwisata. “Secara pembiayaan di Bali pasti mengikuti kondisi pariwisata. Kondisi market sekarang [awal 2026] sudah cukup oke,” ucap Aria di sela Hajatan FIF Cabang Kuta.
Saat ini pembiayaan kendaraan FIF didominasi ke konsumen pribadi. Sementara itu pembiayaan ke korporasi untuk kendaraan sewa atau rental di Bali menurut Aria relatif mendatar. Di tengah pertumbuhan pariwisata dan tingginya mobilitas masyarakat Bali, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong lahirnya berbagai usaha kecil berbasis kendaraan roda dua.
Kisah Dika dan Arif menunjukkan bagaimana akses pembiayaan dapat berkembang menjadi modal produktif bagi masyarakat. Dari satu unit kendaraan yang diperoleh melalui kredit, keduanya perlahan membangun sumber pendapatan tambahan yang menopang kebutuhan keluarga. Presiden Direktur FIFGroup Indra Gunawan mengatakan capaian bisnis perusahaan sejatinya tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan pembiayaan maupun laba perusahaan. Menurutnya, keberadaan perusahaan pembiayaan juga harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kinerja yang solid ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang bagaimana kami dapat terus hadir dan relevan dalam membantu masyarakat meraih impian mereka,” ujarnya. Indra menjelaskan perusahaan pada 2026 mengusung tema “Teman Meraih Impian” sebagai cerminan peran perusahaan yang tidak hanya menyediakan layanan pembiayaan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat Indonesia. Namun di balik banyak kisah perjalanan, terdapat dukungan pembiayaan yang membuka akses masyarakat terhadap kendaraan produktif.
Hingga akhir 2025, FIFGroup melayani lebih dari 4 juta nasabah aktif melalui lebih dari 1.700 jaringan layanan di Indonesia, didukung sekitar 26.000 karyawan. Perusahaan juga mencatatkan penyaluran pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp747,4 miliar serta menjalankan berbagai program sosial di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Bagi Dika dan Arif, dukungan itu hadir dalam bentuk sederhana berupa akses untuk memiliki kendaraan yang kemudian berkembang menjadi aset produktif dan sumber penghasilan keluarga. Dari ikhtiar yang bermula dari satu unit kendaraan, tumbuh harapan untuk masa depan keluarga yang lebih baik.
Di pelataran Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, deretan sepeda motor datang dan pergi tanpa henti. Sebagian mengantar wisatawan yang hendak pulang, sebagian lainnya menjemput mereka yang baru tiba untuk menikmati Bali. Di tengah lalu lalang manusia dan koper yang memenuhi kawasan bandara, roda-roda kecil itu terus berputar mengikuti denyut pariwisata Pulau Dewata. Barangkali bagi wisatawan, itu hanya perjalanan singkat dari hotel menuju bandara. Namun bagi Dika, Arif, dan banyak keluarga Bali lainnya, setiap putaran roda adalah cara merawat impian agar tetap menyala.





