Kemenangan Dramatis Andrea Iannone di Sirkuit Mugello
Akhir pekan di Sirkuit Mugello menjadi momen penting bagi pembalap asal Abruzzo, Italia, Andrea Iannone. Pada lanjutan GP Italia 2026, Iannone berhasil memenangkan Race 2 kejuaraan King of the Baggers (KOB) dengan performa yang luar biasa. Kemenangan ini bukan hanya sekadar podium biasa, melainkan sejarah baru dalam dunia balap motor.
Iannone resmi menjadi pembalap pertama di dunia yang mampu memenangkan balapan di tiga ajang berbeda: MotoGP, World Superbike (WSBK), dan Bagger World Cup. Kemenangan ini menunjukkan ketangguhan dan kemampuan Iannone dalam menghadapi berbagai tantangan balap motor.
Tantangan untuk Legenda MotoGP
Di tengah sesi wawancara resmi, Iannone memberikan pernyataan yang mengejutkan. Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, ia langsung menghadap mikrofon wartawan internasional dan melemparkan tantangan terbuka kepada legenda MotoGP, Casey Stoner.
“Casey, kamu harus datang dan coba kejuaraan Bagger ini. Di sini sama sekali tidak ada elektronik!” seru Iannone penuh semangat. Ia juga melempar ide gila untuk menggelar balapan khusus bertajuk Legend Race yang turut melibatkan rival lamanya, termasuk Valentino Rossi.
Drama “Tutup Mata” di Tikungan Maut San Donato
Melawan motor Harley-Davidson yang berbobot raksasa di trek teknis seperti Mugello bukan perkara mudah. Saat ditanya bagaimana cara menjinakkan motor seberat itu di ujung lintasan lurus San Donato, jawaban Iannone terbilang nekat.
“Kamu tidak bisa menghentikannya begitu saja,” aku Iannone sembari tertawa. “Saat kamu merasa motor ini mulai tidak stabil dan bergoyang, justru di situlah kamu harus membuka mata lebar-lebar. Tapi kalau kamu melakukan semuanya dengan mata terbuka sejak awal, kamu pasti berpikir itu tidak mungkin (bisa belok). Jadi, terkadang Anda harus memejamkan mata sejenak, jangan sering dilihat!”
Aksi nekat itu pula yang membantunya melakukan manuver overtake luar biasa terhadap pembalap tangguh, Eric Granado. Iannone mengungkapkan bahwa aksi salip tersebut sebenarnya berbau faktor keberuntungan yang dipadu insting tajam.
Air Mata Haru di Balik Ketangguhan “The Man Who Never Gives Up”
Di balik performa garangnya di atas lintasan, Iannone sempat dibuat berkaca-kaca oleh aksi salah satu penggemarnya di Mugello. Setelah sempat mengalami nasib sial di Race 1 akibat terkena Long Lap Penalty karena dianggap melanggar bendera kuning (yellow flag) dan finis di posisi keempat, antusiasme fans setianya di sirkuit menjadi obat penawar paling mujarab.
“Melihat betapa banyak orang yang menyayangi saya jauh lebih emosional daripada sekadar mengendarai motor itu sendiri,” ungkap Iannone dengan nada bergetar. Ia menceritakan momen berharga ketika seorang penggemar wanita mendekatinya di paddock.
Sindiran Kocak untuk Rival dan Kode Wildcard ke Amerika
Menunggangi motor dengan torsi melimpah namun memiliki rentang putaran mesin (usable RPM) yang sangat sempit—hanya sekitar 3.000 hingga 3.500 RPM—membuat ban belakang motor cepat aus. Pembalap dipaksa melakukan teknik sliding dan spinning di setiap tikungan. Ditambah lagi, postur motor Bagger sangat tinggi sehingga menyulitkan pembalap dengan tinggi standar untuk menapakkan kaki saat berhenti.
“Tinggi saya 178 cm, dan saya katakan kepada Anda, kaki saya hampir tidak menyentuh tanah saat berhenti. Saya harus menggeser bokong saya keluar dari jok. Di kategori ini, mungkin hanya Loris Baz yang bisa menapak dengan nyaman,” candanya.
Menutup obrolan hangat tersebut, Iannone melempar psywar jenaka kepada para pembalap reguler KOB yang mendadak tampil agresif sejak kedatangannya. “Begitu saya datang, pembalap seperti Edoardo Rovelli tiba-tiba jadi punya nyali besar buat menyalip. Saya membatin: sejak kapan? Di mana? Tolong beri sedikit rasa hormat pada senior!” kelakarnya disambut tawa awak media.
Saat ditanya mengenai peluang dirinya tampil sebagai pembalap wildcard di kejuaraan King of the Baggers seri Amerika Serikat, Iannone memilih tidak sesumbar namun membiarkan pintu itu tetap terbuka. “Kita lihat saja nanti, semua tergantung banyak hal. Tapi seperti yang selalu saya katakan sejak 2019: Never say never (jangan pernah berkata tidak mungkin).”





