Peran Diplomasi dalam Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto telah menjalani berbagai kunjungan luar negeri yang menjadi perhatian publik. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, memberikan penjelasan mengenai pentingnya aktivitas diplomatik tersebut. Menurut Teddy, diplomasi tidak hanya diukur dari seberapa sering Presiden melakukan perjalanan, tetapi lebih pada hasil nyata yang diperoleh untuk kepentingan nasional.
Membangun Hubungan dengan Pemimpin Dunia
Teddy menegaskan bahwa dalam situasi global yang penuh tantangan, seperti konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di kawasan Timur Tengah, membangun hubungan personal dengan para pemimpin dunia menjadi hal strategis. Ia menyatakan bahwa setiap pemimpin harus memiliki jaringan yang kuat, bukan hanya saat krisis terjadi, tetapi juga dalam situasi normal.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan,” ujarnya.
Diplomasi yang Tidak Selalu Formal
Diplomasi, menurut Teddy, tidak selalu berlangsung dalam ruang formal atau terbuka. Kedekatan antarpemimpin negara, baik yang terlihat publik maupun yang terjadi secara tertutup, merupakan bagian penting dari diplomasi modern.
“Nah, itulah diplomasi. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial,” katanya.
Capaian Diplomasi yang Nyata
Teddy memaparkan beberapa capaian yang menunjukkan hasil dari diplomasi Presiden Prabowo. Salah satunya adalah keberhasilan Indonesia bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS. Keanggotaan ini memberikan manfaat strategis bagi Indonesia di tengah ketidakpastian global, termasuk menjaga ketahanan energi dan pangan nasional.
“Sekarang ini, di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman,” ujarnya.
Selain itu, penyelesaian perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa membuka akses tarif 0% ke pasar Eropa. Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade dan akhirnya tercapai pada masa pemerintahan Prabowo pada 2025.
Investasi dan Kerja Sama Pertahanan
Di bidang ekonomi, Teddy mengklaim total investasi yang masuk ke Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun. Dia juga menyinggung hasil kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan yang menurutnya menghasilkan komitmen investasi baru senilai sekitar Rp575 triliun.
Di bidang pertahanan, Teddy menyebut Indonesia kini memiliki kerja sama pengadaan dan penguatan alat utama sistem persenjataan dengan berbagai negara, mulai dari Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris hingga sejumlah negara Eropa lainnya.
Konektivitas Keagamaan dan Kemanusiaan
Teddy juga menilai hubungan baik Indonesia dengan Arab Saudi berkontribusi terhadap kelancaran penyelenggaraan ibadah haji dalam dua tahun terakhir. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki kawasan perkampungan haji di Arab Saudi setelah pemerintah Saudi melakukan perubahan regulasi.
Selain itu, Teddy menyebut Indonesia berhasil mengirim bantuan logistik melalui jalur udara, mengoperasikan kapal rumah sakit, serta memberikan akses pendidikan bagi warga Palestina melalui program beasiswa di berbagai universitas dalam negeri.
“Sekarang mungkin sudah sampai 100 orang yang sudah sekolah di sini,” ujarnya.
Diplomasi dalam Isu Kemanusiaan
Teddy juga mengungkapkan peran Indonesia dalam isu kemanusiaan Palestina. Dalam hal ini, pemerintah berhasil melakukan pemulangan seorang warga negara Indonesia yang sempat diamankan otoritas Israel di laut lepas.
“Lewat diplomasi dari Menteri Luar Negeri dan teman-teman Kemlu, selang beberapa hari dikembalikan ke Indonesia,” katanya.
Penentuan Prioritas Pertemuan
Menanggapi kritik mengenai pertemuan Presiden dengan sejumlah kepala negara dalam forum internasional, Teddy menegaskan keputusan mengenai prioritas pertemuan ditentukan langsung oleh Presiden bersama Menteri Luar Negeri berdasarkan kepentingan nasional.
“Mana yang prioritas, mana pertemuan yang harus diutamakan, mana yang bisa langsung ataupun cukup menggunakan telepon, mana yang perlu diberitakan, mana yang tidak diberitakan,” katanya.
Tanggapan terhadap Kritik
Meski demikian, Teddy menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan. Namun, ia berharap penilaian terhadap diplomasi Indonesia tetap mempertimbangkan capaian yang telah dihasilkan.
“Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” ujar Teddy.
Sebelumnya, Dino Patti Djalal memberikan beberapa saran terkait frekuensi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri. Ia menyoroti besarnya biaya yang dikeluarkan negara dalam setiap kunjungan luar negeri, mulai dari tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan, hingga uang harian delegasi.
Salah satu sarannya adalah agar Presiden Prabowo menyerahkan sebagian besar misi diplomatik kepada Menteri Luar Negeri Sugiono. Selain itu, ia juga menyarankan agar Presiden lebih banyak menerima kunjungan pejabat luar negeri di dalam negeri, mencontoh pola Presiden China Xi Jinping yang lebih sering menerima tamu negara di China.
“Saya juga menganjurkan untuk satu tahun ke depan Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di tanah air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri,” ujar Dino dalam unggahannya di X, Sabtu (30/5/2026).





