Transformasi Digital dalam Pertahanan Nasional
Di era digital yang semakin berkembang, ketahanan nasional tidak lagi bisa dibangun secara terpisah. Sistem komando, keamanan data, perlindungan infrastruktur informasi vital, kemampuan deteksi ancaman, serta kapasitas sumber daya manusia (SDM) perlu terhubung dalam satu ekosistem yang adaptif dan kolaboratif. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Digital and Cyber Institute (IDCI), Mario Ivan Romano.
Menurut Mario, transformasi digital dalam pertahanan nasional menjadi hal yang sangat penting diperhatikan oleh seluruh pihak, terutama pemerintah Indonesia. Untuk itu, IDCI menggelar Cyber Defence Conference 2026 (CDC-2026) di Gedung Bidakara, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Tema utama konferensi ini adalah “Transformasi Digital dalam Pertahanan Nasional: Implementasi C5ISR untuk Kemandirian Teknologi dan Ketahanan Negara”.
Konferensi ini menjadi ruang strategis untuk membahas berbagai isu terkait transformasi digital dalam pertahanan nasional. Topik yang dibahas mencakup implementasi C5ISR, keamanan siber dan sandi, pemanfaatan artificial intelligence (AI), analisis data, sistem informasi dan komando, infrastruktur digital, serta pengembangan talenta digital.
“Konferensi tersebut kami hadirkan sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat kemandirian teknologi dan kesiapan pertahanan digital nasional,” ujar Mario melalui keterangan resmi.
Ketua Harian IDCI, Rhesa Yogaswara—yang turut menggagas konferensi—menegaskan bahwa forum ini dirancang untuk mempertemukan berbagai perspektif strategis dalam membangun ketahanan digital nasional. “Kami membuat ruang pertemuan lintas perspektif dalam pertahanan, keamanan siber, infrastruktur digital, teknologi AI, analisis data, dan pengembangan talenta digital,” jelas Rhesa.
Transformasi Digital dalam Pertahanan Nasional
Mayjen TNI Iroth Sonny Edhie menjadi pembicara utama dalam konferensi yang digelar pada Selasa (2/6/2026). Ia membahas transformasi digital untuk memperkuat pertahanan nasional. Kepala Pusat Komunikasi dan Elektronika Angkatan Darat itu menekankan bahwa integrasi sistem keamanan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri.
Dalam konteks ini, battle management system menjadi penting untuk memperkuat keterhubungan antarsistem dan mempercepat respons. Teknologi AI juga ditempatkan sebagai penguat kemampuan pertahanan dalam membaca dan menghadapi ancaman terhadap kedaulatan digital Indonesia.
Sedangkan Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mengaitkan situasi ruang siber Indonesia dengan perlindungan data pribadi, strategi keamanan siber nasional, manajemen krisis, serta perlindungan infrastruktur informasi yang vital. Ia juga menyoroti sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan kepentingan publik, seperti pemerintahan, pertahanan, keuangan, transportasi, kesehatan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, serta pangan. Gangguan pada sektor-sektor tersebut tidak hanya menjadi masalah teknis. Dampaknya dapat memengaruhi pelayanan publik, keamanan, dan perekonomian nasional.
Infrastruktur Digital dan Konektivitas
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Dr Denny Setiawan, menekankan pentingnya konektivitas yang cepat, andal, stabil, dan aman. Tanpa infrastruktur semacam itu, data sulit bergerak dengan baik, deteksi ancaman menjadi lemah, dan pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan secara optimal.
“Risiko geopolitik, kesenjangan teknologi, dan ketergantungan pada teknologi asing menjadi tantangan yang perlu dipahami dengan lebih serius. Karena itu, sistem pertahanan digital perlu dirancang agar lebih mandiri, aman sejak awal, dan tidak menciptakan kerentanan baru,” ujarnya.
Sistem Komando dan Deteksi Ancaman
Pada level operasional, pertahanan digital membutuhkan dua kemampuan sekaligus: membaca ancaman dan menjaga kesinambungan komando. Analisis data menjadi penting untuk menemukan pola anomali, mengenali indikasi serangan, mempercepat respons, dan memperkuat dasar pengambilan keputusan.
Penekanan itu disampaikan oleh Brigjen TNI Fransiscus Ari Susetio, Komandan Pusat Siber TNI Angkatan Darat. Sementara itu, Brigjen TNI J.O. Sembiring, Komandan Satuan Siber TNI, menyoroti dampak serangan siber terhadap sistem komunikasi, komando, kontrol, informasi, serta infrastruktur kritis. Serangan semacam itu tidak selalu terlihat sebagai kerusakan fisik. Namun, dampaknya dapat menjalar ke stabilitas ekonomi, keselamatan jiwa, hingga kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Talent Digital dan Kolaborasi Lintas Sektor
Di bagian akhir pembahasan, talenta digital menjadi isu yang tidak kalah penting. Teknologi hanya akan kuat jika ditopang oleh manusia yang mampu mengelola, mengamankan, dan mengembangkan teknologi tersebut. AI, keamanan siber, cloud computing, dan data science membutuhkan SDM yang mampu bekerja dalam ekosistem global yang semakin kompetitif. Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pusat talenta digital.
Namun, peluang itu tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan, industri, kebijakan, dan kolaborasi perlu bergerak bersama secara konsisten. Penekanan ini disampaikan oleh Ir Dewi Said Albanjari, penasihat IDCI.
Rhesa menambahkan, konferensi ini dapat memperluas ruang diskusi tentang masa depan ketahanan digital nasional. Ia menilai paparan tentang C5ISR, keamanan siber dan sandi, AI, analisis data, sistem komando, infrastruktur digital, dan talenta digital menunjukkan bahwa ketahanan digital harus dibangun sebagai ekosistem lintas sektor.
“Forum ini kami dorong agar menjadi ruang pertemuan antara perspektif pemerintah, pertahanan, teknologi, keamanan siber, dan talenta digital untuk memperkuat kemampuan negara dalam memetakan ancaman, melindungi sistem strategis, menjaga kedaulatan digital, serta membangun sinergi lintas sektor,” ujar Rhesa.





