Pendakwah Muda yang Mengajak Anak Muda Berpikir
Di tengah dinamika kehidupan masyarakat, pendakwah muda Muhammad Ali Syahbana menawarkan pendekatan baru dalam berdakwah. Bagi kawula muda di kabupaten Banjar, dakwah bukan sekadar tentang siapa yang paling lantang berbicara, tetapi lebih pada kemampuan untuk mengajak berpikir dan merenung.
Muhammad Ali Syahbana, lahir di Martapura pada 24 Februari 1988, memiliki kegelisahan yang sama dengan banyak anak muda. Banyak dari mereka ingin memahami agama dan kehidupan secara lebih dalam, tetapi tidak menemukan ruang yang aman untuk bertanya. Dari situ, ia merasa bahwa dakwah tidak cukup hanya berupa ceramah satu arah. Anak muda perlu diajak berdialog dan berpikir bersama.
Pendekatan Dakwah Intelektual
Mengapa ia memilih pendekatan intelektual? Karena menurutnya, anak muda hari ini memiliki daya kritis yang tinggi. Jika hanya diminta menerima tanpa memahami, pesan yang disampaikan biasanya cepat hilang. Ia percaya kesadaran yang lahir dari proses berpikir akan lebih kuat dan bertahan lama.
Perjalanan pendidikan yang membentuk cara pandangnya dimulai sejak kecil, ketika ia belajar bersama Habib Muhsin bin Husein Al Haddad di Solo. Beliau membimbingnya sejak taman kanak-kanak hingga sekitar usia 10 tahun. Dari beliau, ia belajar tentang adab dan pentingnya mengelola hati.
Meski tidak menempuh pendidikan pesantren secara formal dalam waktu lama, suasana pesantren sangat memengaruhi pembentukan karakternya. Ia juga banyak belajar melalui pengajian bersama paman yang memimpin Pondok Pesantren Syafa’at Bukhari Muslim.
Buku Awal Perjalanan: Media Dakwah yang Menyentuh
Buku Awal Perjalanan adalah hasil dari kegelisahan dan rasa ingin tahu yang besar tentang kehidupan. Ia mulai menulisnya sejak 2014. Setiap kalimat merupakan hasil perenungan yang panjang. Buku itu ia niatkan sebagai media dakwah, bukan untuk kepentingan komersial.
Format buku tersebut hanya berisi satu kutipan pada setiap halaman, karena ia ingin pembaca memiliki ruang untuk merenung. Setiap orang bisa menangkap makna yang berbeda-beda tergantung pengalaman hidup dan kondisi batinnya. Karena itu, ia menyarankan buku tersebut dibaca perlahan dan dalam suasana yang tenang.
Pesan yang paling sering diingat pembaca dari buku tersebut adalah kalimat, “Hidup ini seperti cermin, kita melihat apa pun yang kita lakukan.” Maknanya sederhana, bahwa apa yang kita tanam dalam kehidupan akan kembali kepada diri kita sendiri.
Komunitas Teduh Pikir: Ruang Diskusi yang Nyaman
Ia juga mendirikan Komunitas Teduh Pikir sebagai ruang diskusi bagi anak muda. Tujuannya adalah menghadirkan tempat yang nyaman untuk bertukar pikiran tentang agama, kehidupan, dan berbagai persoalan sosial tanpa rasa takut dihakimi.
Metode yang digunakan dalam diskusi Teduh Pikir adalah dialog Socrates, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan yang membantu peserta menemukan pemahaman mereka sendiri. Tujuan kami bukan memberikan semua jawaban, melainkan melatih cara berpikir yang jernih dan beretika.
Buku Teduh Pikir: Karya Kolektif untuk Masyarakat
Lahir pula buku Teduh Pikir, yang merupakan karya kolektif komunitas. Buku ini lahir dari kegelisahan melihat banyak orang hidup dalam kesibukan tanpa sempat memahami pikiran, hati, dan perasaannya sendiri. Kami ingin menghadirkan teman refleksi bagi masyarakat.
Buku tersebut dijual untuk kegiatan sosial, dengan penjualan bersifat non-profit. Seluruh hasilnya disalurkan untuk mendukung pendidikan anak yatim dan dhuafa melalui yayasan yang kami kelola. Ia percaya dakwah harus berujung pada manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan untuk Generasi Muda
Pesan yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda adalah bahwa anak muda tidak perlu terus-menerus digurui. Mereka cukup diajak berpikir dan berdialog. Kesadaran yang tumbuh dari dalam diri akan jauh lebih kuat.
Ia berharap setiap renungan yang ia tuliskan bisa menjadi pelita kecil, bukan cahaya yang menyilaukan, tetapi cukup untuk menemani langkah agar tetap tenang, sadar, dan tidak mudah goyah dalam menghadapi kehidupan.
Guru Spiritual Anak Muda
Ustadz Muhammad Ali Syahbana dikenal sebagai pendakwah mudah yang dicerna dakwahnya untuk kaula muda. Sehingga bisa dibilang guru spiritual anak muda Banjar terutama di kalangan anak muda di Nahdlatul Ulama (NU) Banjar.
Menurut Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama, Kabupaten Banjar, sosok M Ali Syahbana memang dikenal aktif berdakwah di kalangan pemuda dan mahasiswa. Selain itu, Ustadz Ali Syahbana merupakan seorang dai muda. Selain aktif di dunia tulis menulis, beliau juga aktif di media sosial.
Beliau patut untuk kita jadikan role model. Karena selain bergerak di dunia dakwah, beliau juga seorang intelek dan politikus. Saat ini untuk menjadi public pigur di dunia dakwah tidak cukup hanya alim secara spiritual, tapi juga intelek, agar dakwah seimbang.
Dalam Komunitas Teduh Pikir, agama tidak diposisikan sebagai dogma yang diturunkan dari atas, melainkan nilai yang dipahami bersama lewat dialog. Metode yang digunakan merujuk pada dialog Socrates, yaikni menggunakan serangkaian pertanyaan yang mendorong peserta menemukan kebenaran dengan pikirannya sendiri.
Diskusi digelar rutin setiap bulan dan dihadiri pemuda dari Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, hingga Balangan.



