Kecelakaan Berdarah dalam Latihan Dasar Kemiliteran
Sebuah insiden berdarah terjadi saat tiga calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia setelah mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Insiden ini memicu perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga legislatif dan masyarakat umum.
Korban Pertama di Baturaja, Sumatera Selatan
Korban pertama yang dilaporkan meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufid. Ia mengikuti Latsarmil di Satuan Pendidikan Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad yang berada di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Yonanda mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 saat masih menjalani pelatihan. Meskipun mendapatkan penanganan awal dari tenaga kesehatan satuan, ia akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Sayangnya, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa penyebab kematian Yonanda adalah henti jantung.
Henti jantung merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah ke tubuh. Hal ini menyebabkan pasokan oksigen ke organ vital terhenti dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Korban Kedua di Balikpapan, Kalimantan Timur
Anisa Muyassaroh menjadi korban kedua yang meninggal dunia. Ia mengikuti Latsarmil di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI Mulawarman di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Anisa mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026. Tenaga kesehatan satuan langsung memberikan penanganan awal, namun karena kondisinya memburuk, ia kemudian dirujuk ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Anisa meninggal akibat heat stroke.
Heat stroke adalah kondisi gawat darurat yang terjadi ketika suhu tubuh meningkat secara ekstrem hingga melampaui kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri. Kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan organ penting seperti otak, jantung, dan ginjal jika tidak segera ditangani.
Korban Ketiga di Jakarta
Novia Rahmadhani Sihotang menjadi korban ketiga yang meninggal dunia. Ia mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Kondisi kesehatan Novia mulai menurun pada Senin, 22 Juni 2026. Setelah mendapat penanganan awal dari tenaga kesehatan satuan, kondisinya semakin memburuk sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr Esnawan Antariksa. Meski telah menjalani perawatan intensif, Novia dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa penyebab kematian Novia adalah Tuberkulosis (TB).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru, namun dalam kasus tertentu bisa berkembang menjadi lebih berat jika tidak terdeteksi atau tidak ditangani secara optimal.
Seleksi Kesehatan Sebelum Pelatihan
Meskipun meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil, ketiga korban tersebut sebelumnya dinyatakan lolos tahapan seleksi kesehatan. Fakta ini menjadi salah satu perhatian dalam proses evaluasi yang sedang dilakukan oleh pemerintah dan penyelenggara program.
Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa evaluasi menyeluruh tengah dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional serta lembaga pendidikan yang menyelenggarakan Latsarmil. Evaluasi mencakup pelaksanaan kegiatan, sistem pengawasan kesehatan, dan prosedur penanganan medis bagi peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama pelatihan.
DPR RI Minta Evaluasi Materi Latsarmil
Meninggalnya tiga calon manajer KDMP dan KNMP turut mendapat perhatian dari DPR RI. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, meminta agar pelaksanaan Latsarmil dievaluasi. Meski tujuan program tersebut baik, Hasanuddin menilai materi pelatihan perlu disesuaikan dengan latar belakang peserta yang mayoritas berasal dari kalangan sipil.
Ia mengusulkan agar materi yang bersifat fisik dan identik dengan latihan militer dikurangi. Menurutnya, pelatihan sebaiknya lebih diarahkan kepada peningkatan kemampuan manajerial dan pengelolaan koperasi.




