Persebaya Surabaya mengambil langkah strategis dalam memperkuat sistem kesehatan tim menjelang Super League 2026/27 dengan menjalin kerja sama resmi dengan Mayapada Hospital Surabaya sebagai Official Medical Partner. Kerja sama ini diresmikan pada Rabu (24/6/2026) dan menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan ekosistem sports medicine yang terintegrasi, yang tidak hanya menangani cedera pemain tetapi juga memberikan dukungan menyeluruh terhadap kesehatan, performa, dan pemulihan atlet.
Fokus Pada Sistem Terintegrasi
Kolaborasi antara Persebaya Surabaya dan Mayapada Hospital Surabaya tidak hanya berfokus pada penanganan cedera pemain, tetapi juga bertujuan untuk memastikan seluruh aspek kesehatan atlet dapat dipantau secara sistematis. Dukungan fasilitas medis modern serta jaringan dokter spesialis yang lengkap menjadi kunci dalam proses ini.
Alasan Menggandeng Mayapada Hospital
Chief Medical Officer Persebaya Surabaya, dr. Pratama Wicaksana Wijaya atau dikenal sebagai dr Tommy, menjelaskan bahwa ide kerja sama ini muncul setelah ia menghadiri Isokinetic Conference FIFA di Madrid pada 2025. Dalam forum tersebut, ia melihat banyak klub elite Eropa memiliki hubungan erat dengan rumah sakit sebagai bagian dari sistem pendukung performa tim.
Menurutnya, model ini memungkinkan proses diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, hingga pemantauan kondisi atlet berjalan dalam satu sistem yang terintegrasi. Dengan sistem seperti itu, seluruh proses mulai dari diagnosis, penanganan, rehabilitasi, hingga pemantauan kondisi dapat berjalan dalam satu alur yang berkesinambungan.
Peningkatan Kualitas Pemeriksaan PCMA
Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah peningkatan kualitas pemeriksaan FIFA Pre-Competition Medical Assessment (PCMA). Pemeriksaan ini merupakan prosedur wajib yang harus dijalani pemain sebelum kompetisi dimulai.
Dr Tommy mengungkapkan bahwa pihaknya bersama Mayapada Hospital Surabaya tengah menyiapkan layanan yang lebih komprehensif untuk mendukung proses PCMA musim mendatang. Salah satu inisiatif yang diusung adalah Squad Health Profile, yaitu rekapan pemeriksaan yang dilakukan oleh klub tersebut di Mayapada.
Squad Health Profile akan menjadi basis data kesehatan seluruh pemain dalam satu tim. Melalui sistem tersebut, riwayat pemeriksaan hingga faktor risiko kesehatan dapat dipantau secara lebih terstruktur. Keberadaan data yang lengkap dinilai sangat penting karena kondisi kesehatan pemain tidak hanya berkaitan dengan cedera otot atau masalah ortopedi, tetapi juga banyak faktor lain yang berpotensi memengaruhi performa sepanjang musim.
Penelitian Dr Tommy Soal Faktor Risiko Cedera Pemain
Konsep rujukan medis yang diterapkan saat ini juga berangkat dari penelitian yang pernah dilakukannya. Menurut dr Tommy, dokter tim sepak bola tidak hanya berhubungan dengan spesialis ortopedi atau rehabilitasi medis. Ia bahkan pernah mendampingi pemain menjalani pemeriksaan ke berbagai dokter spesialis lain sesuai kebutuhan medis masing-masing atlet.
“Namun pada dasarnya, kalau dari sudut pandang Persebaya dan saya pribadi, konsep rujukan maupun konsep pemeriksaan PCMA itu telah saya lakukan penelitian terdahulu,” ujarnya. “Ada penelitian saya terkait dengan rujukan, bahwa seorang dokter tim bola itu tidak hanya terlibat dengan ortopedi, radiologi, maupun rehabilitasi. Bahkan, saya pernah mendampingi pemain secara langsung ke spesialis kulit, spesialis mata, dan spesialis anestesi.”
Menurut dr Tommy, keberadaan sistem rujukan yang baik menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pemain secara menyeluruh. Karena itu, konsep tersebut terus dikembangkan agar semakin efektif di masa depan.
16 Halaman Formulir FIFA Akhirnya Diperiksa Secara Lengkap
Salah satu pencapaian yang paling dibanggakan dr Tommy dalam kerja sama ini adalah keberhasilannya memastikan seluruh formulir FIFA PCMA diperiksa secara menyeluruh. Dokumen tersebut terdiri dari 16 halaman yang berisi berbagai aspek pemeriksaan kesehatan pemain. Menurutnya, selama enam tahun bekerja di klub sepak bola, baru kali ini seluruh bagian formulir berhasil diisi dan diverifikasi secara lengkap.
“Itulah mengapa tahun ini, untuk pertama kalinya selama saya enam tahun bekerja di klub sepak bola, saya berhasil membuat 16 halaman formulir PCMA FIFA itu diperiksa, dicentang dengan benar, dan diisi semua di Mayapada,” tegasnya. Langkah tersebut menunjukkan komitmen Persebaya Surabaya untuk membangun standar kesehatan pemain yang lebih tinggi. Tidak hanya mengejar performa di lapangan, Green Force juga berupaya meminimalkan risiko cedera dan gangguan kesehatan melalui pendekatan berbasis data serta riset medis yang terukur.
Dengan dukungan Mayapada Hospital Surabaya, Persebaya Surabaya berharap dapat menghadirkan sistem kesehatan atlet yang lebih modern. Model ini berpotensi menjadi contoh bagi klub-klub lain di Indonesia dalam membangun ekosistem sports medicine yang terintegrasi dan berkelanjutan.





