Kembali Berlaga di RAJ, Sidik Jawara Siap Menghadapi Tantangan 3.000 Kilometer
Sidik Jawara (45), seorang pesepeda asal Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, kembali mengambil tantangan dalam ajang ultra-cycling ekstrem Race Around Djava (RAJ) tahun ini. Meskipun pernah nyaris celaka akibat mengalami microsleep pada pukul 02.30 WIB dini hari, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali berlaga.
Pengalaman Sebelumnya dan Persiapan yang Lebih Matang
Sidik telah mengikuti RAJ sebelumnya pada 2024. Saat itu, meski persiapan masih ala kadarnya, ia berhasil menyelesaikan perlombaan dan menjadi finisher kesembilan. Kali ini, ia lebih siap dengan peralatan yang lebih lengkap dan persiapan yang lebih matang.
“RAJ itu balapan 3.000 km, keliling Jawa. Start dari Jakarta, finish Jakarta,” ujarnya. Ajang ini digelar secara rutin dua tahunan dan menawarkan tantangan yang lebih besar dibandingkan event lain seperti Bentang Jawa yang hanya 1.500 km.
Tahun ini, rute RAJ kemungkinan akan melintasi kawasan Gunung Bromo, yang membuat Sidik semakin penasaran dan antusias menghadapi tantangan baru.
Peserta dan Biaya Pendaftaran
Hingga saat ini, sudah ada sekitar 33 peserta yang mendaftar. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah. Sidik mengikuti kategori Solo dalam RAJ kali ini dan mengeluarkan biaya pendaftaran sebesar Rp3,5 juta.
Meski pernah menjadi finisher kesembilan pada RAJ 2024, kali ini Sidik tidak memasang target finis di posisi tertentu. Ia lebih memilih menjadikan perlombaan tersebut sebagai kesempatan meningkatkan pencapaian pribadinya.
Persiapan Fisik dan Logistik
Persiapan fisik terus dilakukan oleh Sidik. Dalam satu pekan, ia berusaha tetap berlatih dengan memberikan jeda istirahat selama satu hingga dua hari. Rencananya, ia akan melakukan perjalanan ke Jakarta menggunakan sepeda.
Selain fisik, Sidik juga menaruh perhatian besar pada logistik dan peralatan yang akan digunakan selama perlombaan. Semua kebutuhan tersebut harus dipersiapkan secara matang mengingat peserta akan menempuh perjalanan ribuan kilometer dalam waktu berhari-hari.
Target dan Jadwal Perlombaan
Sidik menargetkan bisa menyelesaikan RAJ dalam waktu sekitar 10 hingga 11 hari. Sementara itu, batas waktu atau cut off time yang ditentukan panitia mencapai 15 hari. Race akan dimulai pada 5 September sampai 19 September.
Menurut Sidik, tidak semua orang bisa mengikuti ajang tersebut. Selain faktor jarak yang sangat panjang, waktu perlombaan yang berlangsung hampir dua pekan juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi calon peserta.
Strategi dan Keselamatan
Strateginya adalah jalan semampunya. Target sehari 300 km, Insha Allah finish 10 atau 11 hari. Dalam perlombaan RAJ, peserta memiliki keleluasaan menentukan waktu istirahatnya sendiri. Tidak ada waktu khusus yang mengharuskan peserta berhenti atau beristirahat.
“Istirahatnya bebas. Selagi masih kuat diusahakan jalan terus. Kalau sudah mengantuk harus sudah istirahat,” paparnya.
Namun, pengalaman buruk saat mengalami microsleep menjadi pelajaran penting bagi Sidik. Ia mengaku pernah mengalami microsleep saat bersepeda sekitar pukul 02.30 dini hari. Ketika itu, ia tiba-tiba tersadar setelah mendengar suara klakson dari dua mobil.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat keselamatan tetap harus menjadi prioritas meski dirinya tengah mengejar target dalam sebuah perlombaan ultra-cycling. Sebab, microsleep dalam perjalanan jarak jauh dapat berakibat fatal.
Kembali Menantang Diri Sendiri
Kini, Sidik kembali bersiap menghadapi ribuan kilometer jalanan Pulau Jawa. Bukan sekadar mengejar podium, ia ingin menguji sejauh mana dirinya mampu bertahan dan meningkatkan pencapaian dibandingkan RAJ sebelumnya.
Dengan persiapan fisik, perlengkapan, strategi, hingga pengalaman dari perlombaan sebelumnya, Sidik bertekad menaklukkan kembali RAJ dan menyelesaikan perjalanan 3.000 kilometer tersebut.





