Kebijakan Sekolah Rakyat dan Dampaknya pada Perkembangan Sosial Anak
Kebijakan penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang mengkhususkan peserta didik dari kelompok ekonomi paling rentan (desil 1 dan desil 2) menuai kritik dari pakar pendidikan sekaligus ahli pedagogi, Ki Darmaningtyas. Menurutnya, kebijakan ini justru seperti mengurung atau mengerangkeng anak-anak dari kelompok ekonomi rentan karena membatasi ruang jejaring sosial yang mereka butuhkan di masa depan.
“Sebetulnya, itu justru menjerumuskan, mengkerangkeng ya. Mengkerangkeng atau membonzai anak-anak ke dalam lingkaran yang amat sempit,” ujar Darmaningtyas dalam Forum Group Discussion (FGD) Masyarakat Pendidikan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).
Ia menjelaskan, meskipun program tersebut dirancang dengan niat baik untuk menjamin kebutuhan dasar dan fasilitas belajar anak-anak kurang mampu, namun pemisahan mereka ke dalam satu ekosistem khusus justru berisiko membatasi potensi perkembangan sosial mereka secara jangka panjang.
“Karena ketika anak-anak dari desil 1 dan 2 itu dikumpulkan di dalam suatu komunitas, maka relasi sosial mereka juga terbatas di situ,” ucapnya.
Sekolah reguler yang inklusif dan heterogen memberikan kesempatan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi untuk saling berinteraksi, membangun relasi, serta memperluas modal sosial. Ketika siswa dari kelompok rentan hanya bergaul dengan sesama kelompoknya dalam institusi khusus, peluang untuk membangun akses ke jejaring sosial-ekonomi yang lebih luas menjadi terhambat.
“Mereka enggak bisa melakukan mobilitas vertikal karena mereka tidak memiliki relasi sosial dengan kawan-kawan yang memiliki akses terhadap kapital yang lebih banyak,” ujar Ki Darmaningtyas.
Ia tidak memungkiri bahwa program semacam Sekolah Rakyat memberikan jaminan fasilitas, pemenuhan gizi, hingga pendidikan karakter yang baik. Namun, ia mengingatkan adanya konsekuensi nyata setelah para peserta didik menyelesaikan pendidikannya.
Menurut Darmaningtyas, pemerataan dan intervensi kesejahteraan bagi keluarga miskin semestinya diintegrasikan ke dalam sistem sekolah reguler yang membaur, sehingga tidak menciptakan segregasi sosial yang membatasi daya saing dan mobilitas vertikal generasi muda di masa depan.
“Jadi sebetulnya, oke, menjamin anak-anak dijamin gizinya, pendidikan karakternya, tetapi ketika setelah lulus, mereka agak susah mendapatkan ruang untuk melakukan mobilitas vertikal yang lebih leluasa seperti yang bersekolah di sekolah-sekolah reguler,” katanya.
Tujuan dan Dampak Program Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini dirancang untuk membantu mengurangi angka putus sekolah serta meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Program ini dibangun sebagai upaya pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Meskipun tujuannya baik, kritik terhadap model pendidikan yang terpisah masih terdengar. Para ahli seperti Ki Darmaningtyas menyarankan agar intervensi kesejahteraan dan pemerataan diperkuat melalui pendidikan yang inklusif dan beragam.
Pentingnya Integrasi Sosial dalam Pendidikan
Integrasi sosial dalam sistem pendidikan sangat penting untuk memastikan bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam membangun jaringan sosial dan ekonomi. Dengan bersekolah di lingkungan yang heterogen, anak-anak dari berbagai latar belakang dapat saling belajar dan berkembang bersama.
Ini akan membantu mereka memperluas wawasan, membangun hubungan yang lebih luas, dan meningkatkan peluang untuk mobilitas sosial. Tanpa integrasi ini, anak-anak dari kelompok rentan cenderung terjebak dalam lingkaran sempit yang tidak memberikan ruang untuk berkembang secara maksimal.
Kesimpulan
Meskipun program Sekolah Rakyat memiliki peran penting dalam memastikan akses pendidikan bagi anak-anak miskin, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari model pendidikan yang terpisah. Integrasikan intervensi kesejahteraan dan pemerataan ke dalam sistem pendidikan yang inklusif akan memberikan hasil yang lebih optimal bagi seluruh generasi muda.





