Ringkasan Berita:
- Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf menyatakan kesiapan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
- Gus Yusuf mendapatkan dukungan dari sekitar 235 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
- Gus Yusuf salah satu putra dari KH Chudlori, pendiri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.
Infomalangraya.net– Nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU.
Muktamar sendiri telah berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sejak 27 Agustus 2026.
Sejumlah pendukung menyatakan dukungan terhadap Gus Yahya untuk maju sebagai Ketum PBNU.
Para pendukung berasal dari ratusan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama atau PCNU dari berbagai daerah.
Dukungan tersebut bahkan diklaim telah mencapai sekitar 235 PCNU.
Gus Yusuf pun menyatakan kesiapannya apabila mendapat amanah untuk memimpin PBNU.
Ia membawa gagasan besar untuk memperkuat persatuan dan membuat Nahdlatul Ulama kembali solid.
Deklarasi dukungan untuk Gus Yusuf digelar pada Jumat (28/8/2026).
Lokasinya berada tidak jauh dari arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Respons Gus Yusuf soal Dukungan dari Ratusan PCNU
Gus Yusuf menyatakan bahwa dukungan dari ratusan PCNU itu menjadi salah satu bentuk komitmen untuk menjadikan Muktamar sebagai solusi atas berbagai persoalan termasuk menyelesaikan konflik.
“Jangan lagi ada konflik,” ungkap Gus Yusuf.
Menurutnya, kesempatan yang sama harus dibuka kepada seluruh kader NU.
Jangan sampai ada upaya penjegalan bagi kader yang berniat untuk maju dalam Muktamar.
Penjegalan itu jangan sampai terjadi mulai dari proses persyaratan dan sebagainya.
“Kita kembalikan semua kepada AD/ART. Dan berikan hak dan ruang kepada seluruh kader untuk maju. Insyaallah kita akan maju dan bertekad untuk menyatukan seluruh kekuatan NU,” jelasnya.
Selain membuka ruang yang sama, Gus Yusuf mendorong agar peserta Muktamar diberikan hak yang sama.
Jangan ada intervensi apapun.
Sehingga, Muktamirin bisa menentukan pilihan dengan independen.
“Kita berharap Muktamirin memilih dengan basyirah atau nurani, bukan dengan bisyarah atau iming-iming duit. Tanpa tekanan dan intimidasi. Berikan kedaulatan Muktamirin untuk menentukan yang terbaik siapapun itu,” jelasnya.
Profil Gus Yusuf
Gus Yusuf lahir di Magelang pada 9 Juli 1973 dan merupakan salah satu putra dari KH Chudlori, pendiri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.
Pesantren API Tegalrejo didirikan oleh KH Chudlori pada 15 September 1944.
Pesantren tersebut pada awalnya belum menggunakan nama API, sebelum kemudian pada 1947 dikenal sebagai Asrama Perguruan Islam (API).
Lingkungan pesantren inilah yang menjadi salah satu fondasi utama perjalanan pendidikan dan pengabdian Gus Yusuf.
Menimba Ilmu dari Sejumlah Pesantren
Gus Yusuf menempuh pendidikan awalnya di lingkungan Pesantren API Tegalrejo.
Setelah itu, ia memperdalam ilmu agama di sejumlah pesantren, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada periode 1985–1994.
Ia juga tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, serta Pondok Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen.
Meneruskan Pengabdian di Pesantren
Setelah menyelesaikan proses pendidikannya, Gus Yusuf kembali ke lingkungan pesantren Tegalrejo.
Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu penerus pengasuhan pesantren yang didirikan oleh ayahnya tersebut.
Dalam kiprahnya sebagai kiai, pendidikan pesantren menjadi salah satu perhatian utamanya.
Bagi Gus Yusuf, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan agama.
Ia melihat pesantren sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam membentuk akhlak, karakter, kemandirian, dan kepribadian peserta didik.
Dalam sebuah forum pendidikan pesantren, ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh pembelajaran jarak jauh karena terdapat proses keteladanan dan pembentukan karakter secara langsung di lingkungan pesantren.
Perhatian pada Masa Depan Pendidikan Pesantren
Pandangan tersebut juga terlihat dalam perhatiannya terhadap kesinambungan pendidikan pesantren.
Gus Yusuf pernah menekankan pentingnya orang tua memilih pesantren dengan memperhatikan sanad keilmuan, kapasitas pengasuh, serta komitmen terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Memasuki Dunia Politik
Di luar dunia pesantren, Gus Yusuf juga memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan politik.
Keterlibatannya dalam politik berlangsung sejak era Reformasi.
Ia kemudian dipercaya memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang pada 1999–2007 dan selanjutnya memasuki kepengurusan PKB tingkat Jawa Tengah.
Ia kemudian terpilih sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah pada 2013.
Kiprah di Ruang Publik
Dokumen resmi Komisi Pemilihan Umum juga mencatat Muhammad Yusuf Chudlori sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah dalam struktur kepengurusan yang tercatat pada dokumen KPU.
Peran Gus Yusuf di ruang publik tidak hanya berkaitan dengan politik.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mencatat keterlibatannya dalam dialog mengenai berbagai persoalan masyarakat.
Pada April 2026, misalnya, Gus Yusuf berdiskusi dengan Gubernur Jawa Tengah mengenai penanggulangan kemiskinan, pendidikan, ekonomi, dan persoalan sosial.
Pemerintah daerah menyebutnya sebagai ulama yang juga berkecimpung dalam dunia politik.
Mempertemukan Pesantren dan Kehidupan Kebangsaan
Dengan latar belakang pesantren dan pengalaman politik tersebut, Gus Yusuf berada pada posisi yang mempertemukan dua ruang pengabdian: pendidikan keagamaan melalui pesantren dan keterlibatan dalam kehidupan sosial-politik masyarakat.
Pesantren API Tegalrejo menjadi pusat penting dalam perjalanan hidupnya.
Dari lingkungan tersebut, Gus Yusuf tidak hanya meneruskan tradisi keilmuan yang diwariskan KH Chudlori, tetapi juga membawa pesantren berinteraksi dengan persoalan-persoalan masyarakat yang lebih luas.
Dinamika Kepemimpinan Nahdlatul Ulama
Dalam perkembangan terbaru pada 2026, Gus Yusuf kembali menjadi salah satu figur yang diperbincangkan dalam dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
Ia menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU.
Sejumlah PCNU di Jawa Tengah juga menyatakan dukungan terhadap pencalonannya.
Ulama Pesantren dan Tokoh Publik
KH Muhammad Yusuf Chudlori dengan demikian merupakan figur yang tumbuh dari tradisi pesantren, melanjutkan pengabdian keluarga di Tegalrejo, sekaligus aktif dalam kehidupan sosial dan politik.
Perjalanannya mencerminkan karakter ulama pesantren yang tidak hanya berkutat pada pendidikan keagamaan, tetapi juga mengambil bagian dalam persoalan kebangsaan dan kehidupan masyarakat.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Infomalangraya.net





