:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Suasana-Workshop-Data-Storytelling-serangkaian-Denpasar-Statistik-Festival.jpg)
Infomalangraya.net, DENPASAR – Puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kota Denpasar dan Badan Pusat Statistik (BPS) mengikuti Workshop Data Storytelling, Selasa, 20 Oktober 2026.
Acara yang digelar di Ruang Diskusi, Gedung Dharma Negara Alaya merupakan rangkaian Denpasar Statistik Festival (DSF) 2026 yang merupakan program Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik Kota Denpasar.
DSF 2026 ini dilaksanakan selama dua hari yaitu tanggal 20–21 Oktober 2026 dengan tema “Data Akurat, Ekonomi Kuat, Denpasar Hebat”, serta sebagai ruang kolaborasi dalam memperkuat koordinasi, sinergi, dan evaluasi penyelenggaraan statistik sektoral.
Sementara itu, workshopyang dipandu oleh I Dewa Gede Ardana Putra, S.M ini mengangkat topik “Storytelling Berbasis Data: Seni Menarasikan Data Statis Menjadi Konten Edukatif dan Viral”.
Sedangkan narasumber yang dihadirkan jurnalis Tribun Bali sekaligus Koordinator Video Production (VP) Tribun Bali, Kambali Zutas.
Acara berlangsung sangat interatif dan edukatif.
Para peserta yang hadir dari berbagai OPD mengajukan sejumlah cerita atau pengalaman dan pertanyaan dalam mempublikasikan program OPD melalui platform media sosial.
Kambali menjelaskan data storytelling adalah seni mengubah tumpukan angka dan data mentah yang statis menjadi sebuah narasi terstruktur, visual, dan sarat emosi agar mudah dipahami.
Menurut penulis buku “Euforia Sepak Bola Bali” ini, di era digital saat informasi melimpah namun perhatian audiens sangat terbatas.
“Untuk itu, diperlukan teknik data storytelling untuk menciptakan konten yang tidak hanya mendidik (edukatif) namun memiliki keakuratan dan daya pikat tinggi sehingga memicu penyebaran secara masif (viral),” ujarnya.
Dijelaskan ada tiga pilar atau dasar utama data storytelling.
Pertama, data (sains) yaitu temuan, statistik, atau metrik akurat yang telah dianalisis.
Data tersebut berfungsi sebagai fondasi kebenaran konten.
Kedua visual (desain) yaitu gambar grafik, diagram, atau infografis yang dirancang untuk membantu otak audiens menangkap pola, tren, dan anomali dengan cepat.
Dan, ketiga, narasi (seni) yaitu alur cerita atau bahasa yang membimbing audiens untuk memahami mengapa data ini penting bagi kehidupan dan apa tindakan selanjutnya.
“Penyajian data konvensional (misalnya hanya tabel angka) cenderung membosankan dan memicu kelelahan kognitif. Sedangkan data storytelling menyederhakan informasi yang kompleks,” kata Kambli.
Teknik ini kata dia, memangkas detail teknis yang rumit dan menyisakan intisari yang paling krusial, membuat informasi berat menjadi mudah untuk dicerna.
Selain itu, kata dia data storytelling bekerja melalui dua mekanisme psikologis yaitu, koneksi emosional dan efek kejut.
Koneksi emosional kata dia, berdasarkan riset ilmiah, manusia memahami dunia luar lewat cerita. Ketika terhanyut dalam narasi, audiens akan terlibat secara emosional dan kognitif.
Sedangkan efek kejut yaitu konten edukasi berbasis data sering kali viral karena mematahkan asumsi umum masyarakat atau memvalidasi keresahan tersembunyi dengan bukti angka yang kuat.
Lebih lanjut, penulis antologi puisi “Anak-anak Pandemi” ini membedah langkah mengubah data statis menjadi konten edukatif dan viral.
Pertama, dicari atau diemukan angle atau sudut pandang yang paling kuat. Di antaranya dengan menemukan satu hal yang unik atau anomali yang paling mengejutkan.
Kedua, menggunakan struktur narasi yang kuat, dengan mengemas data menggunakan formula cerita klasik, seperti struktur konflik – puncak – solusi.
Ketiga, visualisasikan dengan prinsip psikologi dengan menggunakan tips visualisasi data yang ramah bagi mata audiens media sosial.
Kambali juga menjelaskan, strategi data storytelling konten edukatif yang berdampak meningkatkan kesadaran adalah menggabungkan emosi (pathos) dengan fakta yang kredibel (logos).
Pertama, mengaitkan kedekatan (Proksimitas) yaitu menghubungkan data makro (nasional/global) dengan dampaknya secara langsung pada kehidupan sehari-hari di Kota Denpasar.
Kedua, dengan metode layering (Bertahap) yaitu menyajikan data secara bertahap; mulai informasi paling mudah dicerna hingga data lebih mendalam.
Ketiga, menggunakan pendekatan solutif yaitu menyajikan data tentang keparahan atau masalah kemudian menunjukkan alternatif jalan keluar.
Keempat, menyertakan Call to Action (CTA) jelas yaitu di akhir konten disajikan ajakan bertindak yang nyata, seperti petisi atau perubahan kebiasaan kecil.
“Tentunya banyak data baik program atau pencapaian kinerja OPD yang disajikan melalui kata atau cerita, sehingga masyarakat umum bisa membaca atau memahami maksud dari data tersebut,” ujar Kambali. (*)





