Refleksi atas Hasil Seminar Ilmiah Centro John Paul II Ritapiret Maumere
Oleh: Desiderius Dirmanus
Anggota Kelompok Minat Centro John Paul II, Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, dan Mahasiswa Pascasarjana IFTK Ledalero, Maumere.
“Ada duka yang tidak meninggalkan puing untuk difoto. Ia hidup dalam kamar yang mendadak sepi, dalam percakapan yang terasa kurang satu suara, dan dalam pertanyaan yang tak mudah dijawab” (Baghi, 2026).
Infomalangraya.net Gempa Flores pada 15 Agustus 2026 meretakkan bangunan dan mengguncang rasa aman banyak orang.
Di Ritapiret, makalah Felix Baghi, SVD, mengajak kita menatap satu lapisan lain dari bencana: manusia yang tetap tampak hadir, tetapi sedang berjuang di dalam dirinya.
Refleksi bertajuk “Eksistensialisme dan Refleksi atas Penderitaan” ini disusun untuk Minat Centro John Paul II di Ritapiret pada 15 Oktober 2026. Seminar ini juga dibuat sebagai refleksi tepat dua bulan pascagempa Flores.
Dalam seminar, Baghi tidak menawarkan penjelasan sederhana. Justru di situlah kekuatannya: ia mengingatkan bahwa sebelum menjelaskan duka, kita harus berani mendekatinya dengan hormat.
Baghi menulis refleksi dari tempat yang dekat dengan kehilangan. Ia menyinggung soal seorang frater di Ritapiret yang meninggal akibat gempa Flores. Peristiwa itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan umat Katolik Gereja lokal (TribunFlores.com, 2026).
Kehilangan itu disebut agar kita tidak berpura-pura bahwa korban gempa hanyalah rumah roboh dan jalan putus (Baghi, 2026).
Menurut BMKG, gempa itu sendiri bermagnitudo 7,7 SR dan memicu tsunami. (BMKG,
2026). Tetapi angka magnitudo tidak dapat menakar sunyi yang tertinggal di sebuah keluarga, kecemasan ketika lantai bergetar, atau beratnya menjalani hari setelah kehilangan.
Karena itu, tulisan ini tidak berusaha memberi diagnosis, mencari kambing hitam, atau mengubah kematian seorang saudara menjadi bahan sensasi.
Saya membaca makalah Baghi sebagai ajakan untuk mengakui bahwa penderitaan adalah nyata, beragam, dan menuntut kehadiran sesama.
Bila ada makna yang dapat kita bawa dari kehilangan, makna itu bukan sesuatu yang kita paksakan kepada orang yang berduka, melainkan tanggung jawab yang kita ambil agar tidak membiarkan sesama sendirian. (Baghi, 2026).
Luka yang Tak Terlihat
Penderitaan setelah gempa tidak selalu menunjukkan bentuk yang mudah dikenal. Ada rumah dengan dinding retak, tetapi juga ada orang yang tersenyum saat bertemu, lalu pulang membawa ketakutan yang tak sempat ia ceritakan.
Baghi mengajak kita memulai refleksi dari pengalaman manusia konkret: bagaimana seseorang mengalami kehilangan, menafsirkan apa yang terjadi, dan merasakan perubahan hubungannya dengan dunia, sesama, serta Tuhan.
Ia bukan angka dalam laporan atau contoh untuk teori. Ia pribadi yang hidup dalam tubuh, sejarah, kebiasaan, dan relasi yang ikut terguncang. (Baghi, 2026).
Gagasan Heidegger tentang keterlemparan membantu menjelaskan keadaan ketika seseorang mendapati dirinya berada dalam situasi yang tidak pernah ia pilih. Gempa datang tanpa meminta izin.
Namun, makalah Baghi tidak berhenti pada gagasan bahwa manusia tak berdaya. Di tengah keadaan yang tak dipilih, orang masih mencari kemungkinan untuk melanjutkan hidup.
Yang mungkin terasa biasa bagi kita: pulang ke rumah, tidur tanpa berjaga, membuat rencana minggu depan, bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh dan sulit bagi penyintas.
Rumah yang akrab dapat terasa asing; masa depan dapat menyempit ketika rasa aman menghilang. (Baghi, 2026).
Kita perlu berhati-hati agar tidak menafsirkan pengalaman seorang frater secara serampangan. Makalah itu tidak mengatakan gempa menjadi satu-satunya penyebab kematiannya.
Baghi justru menolak penjelasan tunggal dan meminta kita mengenang dengan
hormat, bukan menjadikan almarhum objek pembahasan.
Sikap ini penting karena setelah seseorang meninggal, orang lain mudah tergoda menyusun cerita yang terasa lengkap bagi mereka sendiri.
Padahal, cerita itu dapat melukai keluarga dan orang-orang terdekat, serta menghapus kerumitan hidup seseorang. Hormat berarti menahan diri dari klaim yang tidak kita ketahui dan memberi ruang bagi duka tanpa menjadikannya tontonan publik. (Baghi, 2026).
Mendengar Sebelum Menasihati
Dalam pemikiran Kierkegaard yang dibahas Baghi, kecemasan, keraguan, doa, dan pergulatan iman merupakan bagian dari pengalaman pribadi yang tidak dapat diwakilkan orang lain.
Makalah itu juga mengingatkan tentang keputusasaan yang bisa tersembunyi di balik penampilan seseorang yang tampak tegar, melayani, belajar, atau berdoa.
Ini bukan alat untuk mendiagnosis orang di sekitar kita. Ini peringatan agar kita tidak menyimpulkan keadaan batin seseorang hanya dari apa yang tampak.
Orang yang diam belum tentu baik-baik saja; orang yang tetap menjalankan tugas belum tentu tidak membutuhkan teman. (Baghi, 2026).
Di tengah masyarakat yang akrab dengan bahasa iman, nasihat bisa keluar dengan cepat: semua pasti ada maksudnya, atau penderitaan ini tentu ujian. Kata-kata itu mungkin lahir dari niat menguatkan.
Camus, sebagaimana dipaparkan Baghi, mengingatkan adanya jarak antara kerinduan manusia akan makna dan dunia yang tidak selalu memberi jawaban.
Mengakui Jarak itu bukan berarti kehilangan iman. Kadang, bentuk kasih yang lebih jujur ialah menemani seseorang tanpa mengarang jawaban atas nama Tuhan. (Baghi, 2026).
Mendengar bukan memaksa orang membuka seluruh lukanya. Kita tidak perlu membandingkan kesedihannya dengan orang lain atau menetapkan batas waktu untuk pulih.
Makalah Baghi berbicara tentang kesetiaan dan kehadiran: menjadi orang yang dapat diandalkan, bahkan sebelum kata penghiburan terucap. (Baghi, 2026).
Harapan Bukan Jawaban Siap Pakai
Harapan sering disalahartikan sebagai janji bahwa semuanya segera membaik. Padahal, makalah Baghi mengutip pemikiran Gabriel Marcel untuk memahami harapan bukan sebagai optimisme yang menutup mata, melainkan keterbukaan kepada kemungkinan hidup dan pemulihan, sekalipun tidak semua kehilangan dapat diganti.
Penderitaan kadang menjadi misteri yang melibatkan kita, bukan teka-teki yang bisa diselesaikan dari kejauhan. (Baghi, 2026).
Kita boleh berharap, tetapi tidak berhak menentukan bentuk harapan bagi orang lain. Bagi satu orang, harapan hari ini mungkin berani kembali ke rumah.
Bagi yang lain, mungkin sekadar tidur beberapa jam atau menghubungi seorang sahabat. Ada pula yang belum mampu membayangkan hari esok. Tugas kita bukan memaksa semua orang berbicara dengan Bahasa ketabahan yang sama.
Baghi menegaskan bahwa dukungan tidak boleh hanya berbentuk nasihat rohani. Tubuh yang mengalami guncangan membutuhkan tidur, rasa aman, dan bila perlu bantuan tenaga kesehatan jiwa yang terlatih.
Pedoman WHO tentang Psychological First Aid juga menganjurkan bantuan yang manusiawi, suportif, praktis, serta menghormati martabat dan budaya orang yang
terdampak.
Mendampingi bukan berarti mengambil alih peran profesional. Kita dapat mendengar, membantu memenuhi kebutuhan langsung, dan menghubungkan seseorang dengan layanan yang tepat. (Baghi, 2026).
Duka Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Makalah seminar ini tidak berhenti pada perasaan pribadi. Dengan merujuk pada Levinas, Baghi menegaskan bahwa kehadiran orang yang rapuh menuntut tanggapan etis.
Wajah orang lain bukan objek kajian atau nama dalam daftar penerima bantuan. Ia mengingatkan kita bahwa tindakan ataupun ketidakhadiran kita dapat menentukan apakah seseorang merasa dipandang dan ditolong. Tanggung jawab ini melampaui pilihan baik hati sesaat. (Baghi, 2026).
Keadilan berarti mencari orang yang tidak mudah terlihat: keluarga di tempat terpencil, warga lanjut usia, penyandang disabilitas, atau mereka yang terlalu letih untuk mengurus banyak formulir.
Data rumah rusak tetap penting. BNPB, misalnya, mencatat proses verifikasi rumah pascagempa berlangsung bertahap, mencakup data tambahan dan rumah yang belum terverifikasi.
Di balik setiap baris data ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencocokan dan koreksi data perlu disertai kunjungan, saluran pengaduan yang bisa diakses, dan penjelasan terbuka tentang bantuan. (BNPB, 2026)
Dalam komunitas seperti Ritapiret, keberanian untuk mengakui bahwa seseorang tidak baik-baik saja juga penting.
Baghi mengajak komunitas melihat apakah disiplin, ketahanan, dan kebiasaan tetap melayani tanpa sadar mempersempit ruang untuk mengaku lelah.
Pertanyaan itu tidak ditujukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memeriksa kebiasaan bersama.
Dapatkah seorang frater, mahasiswa, relawan, atau orang tua meminta pertolongan tanpa malu?
Apakah ada orang yang akan menyadari jika ia lama mengasingkan diri? Apakah ia tahu kepada siapa harus berbicara ketika beban terasa terlalu berat? (Baghi, 2026).
Jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup berupa poster atau satu pertemuan. Komunitas dapat membangun kebiasaan saling menyapa, menyediakan percakapan pribadi yang aman, dan menyiapkan jalur rujukan kepada konselor atau tenaga kesehatan.
Relawan di wilayah terdampak dapat berlatih mendengarkan tanpa menghakimi. Pemerintah dan layanan kesehatan perlu membuat bantuan mudah ditemukan dan diakses. Langkah kecil yang konsisten lebih berarti daripada janji besar yang tak berlanjut.
Tetap Hadir, Bahkan Tanpa Jawaban
Kita juga tidak diminta menyembunyikan duka. Kita diminta belajar mendengar sebelum menasihati, memberi ruang untuk bertanya tanpa menuduh, dan memastikan bahwa mereka yang sedang rapuh tidak dibiarkan menanggung semuanya sendirian.
Kejujuran untuk mengakui keterbatasan pengetahuan bukan kelemahan. Justru dari sana tumbuh tanggung jawab untuk hadir. (Baghi, 2026).
Flores telah diguncang oleh gempa. Sebagian luka tampak di bangunan, sebagian lagi hidup dalam tubuh dan ingatan orang-orang yang melewati bencana.
Tidak ada kalimat yang dapat mengembalikan saudara yang telah pergi, dan tidak ada satu makna yang berhak kita paksakan kepada mereka yang berduka.
Namun, kita masih dapat memilih untuk tidak berpaling. Kita dapat mendengar, menemani, memperbaiki cara komunitas menjaga anggotanya, dan memastikan bantuan menjangkau yang paling rentan.
Jika kehilangan ini meninggalkan satu tuntutan, barangkali tuntutan itu sederhana sekaligus berat: jangan biarkan siapa pun di antara kita memikul beban yang terlalu berat seorang diri. (*)
Simak terus berita, artikel opini dan cerpen Infomalangraya.netdi Google News




