:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Raih-Emas-Peparprov-2025-Atlet-Disabilitas-Heran-Bonus-Rp75-Juta-Belum-Cair-Pemkot-Bantah-Sengaja.jpg)
Polemik Bonus Atlet Disabilitas Peparprov V Sumsel 2025
Kabar kurang menyenangkan datang dari dunia olahraga prestasi daerah, di mana seorang atlet catur disabilitas bernama Mila Purnamasari secara terbuka meluapkan kekecewaannya di media sosial. Atlet yang berjuang di bawah naungan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Lubuklinggau ini menyoroti keterlambatan serta ketidakjelasan pencairan bonus medali emas yang diraihnya dalam ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) V Sumatera Selatan 2025.
Hingga bulan November 2026, hak finansial yang dijanjikan tersebut belum juga mendarat di rekening para atlet yang bersangkutan. Pernyataan kekecewaan ini sempat viral dan memancing perhatian publik luas, mengingat perjuangan para atlet disabilitas dalam mengharumkan nama daerah seharusnya mendapatkan apresiasi yang sepadan tanpa harus melalui proses penantian yang panjang dan melelahkan.
Esensi Penghargaan Bagi Pejuang Olahraga
Menurut pengakuan Mila kepada awak media, permasalahan utama yang ia dan rekan-rekan sesama atlet rasakan bukanlah semata-mata besar kecilnya nominal uang yang akan diterima. Lebih dari itu, mereka menuntut adanya bentuk penghargaan yang layak dan adil dari pemerintah daerah terhadap kaum difabel yang telah mendedikasikan tenaga dan pikiran untuk membawa pulang prestasi gemilang.
- Para atlet merasa diabaikan karena hingga kini belum ada realisasi nyata dari janji-janji yang pernah diucapkan sebelumnya.
- Rasa kecewa ini dirasakan secara kolektif oleh sekitar 50 atlet disabilitas Kota Lubuklinggau yang turut menyumbangkan medali dalam ajang olahraga tingkat provinsi yang diselenggarakan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
- Penyerahan yang sejauh ini dilakukan dinilai hanya sebatas seremoni simbolis belaka tanpa ada kejelasan waktu kapan dana tunai tersebut benar-benar cair ke rekening masing-masing penerima.
Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan para atlet, nominal bonus yang dijadwalkan untuk peraih medali emas adalah sebesar Rp7,5 juta. Sementara itu, para peraih medali perak dipatok pada angka Rp3,5 juta, dan peraih medali perunggu mendapatkan Rp1,5 juta. Kendati demikian, angka-angka ini sempat membuat para atlet terkejut karena dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi awal serta janji yang pernah dilontarkan oleh kepala daerah pada periode sebelumnya.
Akar Masalah dan Harapan Atlet
Polemik ini sejatinya berakar dari komitmen yang dipegang teguh oleh para atlet sejak bertahun-tahun lalu. Mila mengungkapkan bahwa informasi mengenai pemberian bonus sudah menjadi harapan yang dipelihara sejak tahun 2019, berlandaskan pada janji yang disampaikan oleh Wali Kota Lubuklinggau pada masa jabatan sebelumnya. Ketika kepemimpinan berganti ke tangan Wali Kota Rachmat Hidayat, para atlet belum mendapatkan sosialisasi yang transparan mengenai penyesuaian skema ataupun kepastian nominal bonus tersebut.
Oleh karena itu, Mila mewakili rekan-rekannya mendesak agar Pemerintah Kota Lubuklinggau tidak mendiamkan persoalan ini berlarut-larut. Mereka sangat mengharapkan adanya ruang dialog terbuka serta penjelasan resmi langsung dari Wali Kota mengenai alasan di balik penyesuaian anggaran tersebut, sekaligus memberikan kepastian tanggal pencairan dana pembinaan yang sudah sangat mereka nanti-nantikan sebagai bentuk nyata apresiasi atas kerja keras di arena pertandingan.
Tanggapan Resmi Pemerintah Kota Lubuklinggau
Menanggapi gelombang protes dan keluhan yang dilayangkan oleh para atlet disabilitas berprestasi tersebut, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Kota Lubuklinggau, Firdaus Abky, akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi. Terkait kritik mengenai minimnya fasilitas atau tidak adanya acara penyambutan yang megah untuk para atlet, Firdaus menegaskan bahwa ketiadaan seremoni khusus sama sekali bukan berarti pemerintah daerah sengaja mengabaikan atau bersikap tidak peduli terhadap perjuangan mereka.
Ia beralasan bahwa situasi tersebut murni dipengaruhi oleh kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami efisiensi. Kendati demikian, Dinas Kepemudaan dan Olahraga memastikan bahwa komitmen pemerintah tidak luntur.
- Pemerintah Kota Lubuklinggau memastikan bahwa dana untuk bonus prestasi tersebut sejatinya telah resmi dimasukkan ke dalam pos anggaran daerah.
- Secara teknis operasional, penyaluran dana tidak akan diberikan secara tunai di lapangan, melainkan langsung ditransfer melalui rekening pribadi masing-masing atlet yang berhak menerimanya.
- Terkait pelaksanaan penyerahan simbolis yang sempat disatukan dengan acara pembagian seragam sekolah gratis, pihak dinas menyatakan bahwa hal tersebut dilakukan agar para atlet tetap mendapatkan porsi penghormatan yang layak, termasuk fasilitas tempat duduk khusus serta kesempatan berfoto bersama jajaran pejabat tinggi pemerintah.
Lebih lanjut, Firdaus merinci bahwa ada tiga poin penting yang harus dipahami oleh seluruh insan olahraga di daerah tersebut. Poin utama adalah wujud rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi dari Pemkot Lubuklinggau atas kontribusi besar para atlet yang sukses mengibarkan nama daerah dalam ajang kompetisi multi-cabang olahraga tingkat Provinsi Sumatera Selatan.
Firdaus menegaskan bahwa kebijakan pemberian bonus ini merupakan wujud nyata kepedulian serta perhatian mendalam dari pemerintah daerah kepada para atlet yang telah berjuang dan mengharumkan nama daerah. Ia juga memberikan klarifikasi penting bahwa sebelumnya Pemerintah Kota Lubuklinggau tidak pernah membuat janji atau menetapkan nominal besaran bonus tertentu kepada para atlet sebelum kompetisi berlangsung.
Terkait permasalahan belum cairnya dana bonus tersebut hingga saat ini, Firdaus secara tegas membanting setir opini publik dengan menyatakan bahwa keterlambatan ini sama sekali bukan karena unsur kesengajaan dari pihak pemerintah untuk menunda-nunda hak para atlet. Ia memaparkan bahwa kondisi finansial dan keuangan daerah saat ini sedang berada dalam situasi yang cukup menantang, menyusul adanya kebijakan efisiensi anggaran secara nasional yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan tersebut mau tidak mau berdampak langsung pada alokasi dan pergeseran pos-pos keuangan di tingkat daerah, termasuk penundaan pencairan insentif tertentu.
- Komitmen pemerintah daerah dalam mengapresiasi prestasi olahraga tetap menjadi prioritas utama.
- Penyesuaian anggaran dilakukan secara transparan demi menjaga stabilitas keuangan daerah secara keseluruhan.
- Komunikasi intensif terus dijalin antara pihak dinas terkait dengan para pengurus cabang olahraga agar para atlet tetap mendapatkan kepastian.
“Intinya, walaupun di tengah kondisi efisiensi yang ketat, namun Pemkot Lubuklinggau tetap berkomitmen untuk memberikan bonus sebagai bentuk penghargaan yang layak kepada para atlet,” pungkasnya dengan nada optimis. Pemerintah berharap para atlet dapat memahami situasi fiskal yang sedang dihadapi dan tetap termotivasi untuk terus berlatih serta menorehkan prestasi gemilang di masa depan tanpa harus merasa diabaikan oleh pemerintah daerah.




