Peran Keluarga dalam Masyarakat
Dalam sebuah keluarga, peran suami atau ayah sering kali dianggap sebagai tulang punggung yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Akibatnya, tugas-tugas rumah tangga dan pengasuhan anak sering kali dibiarkan berada di bawah tanggung jawab istri atau ibu. Bahkan ketika anak mengalami kesulitan emosional atau stres, ibu sering menjadi satu-satunya orang yang diminta untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kondisi ini bisa menjadi sangat berat jika sosok ibu harus meninggalkan keluarga, misalnya karena harus merawat orang tua yang sakit atau bahkan meninggal dunia. Kehilangan ibu akan membuat rumah terasa hampa, terutama jika hubungan antara ayah dan anak sudah tidak terjalin dengan baik karena jarang berkomunikasi dan berinteraksi.
Film “Esok Tanpa Ibu” yang Mengangkat Isu Sosial
Film “Esok Tanpa Ibu” yang diproduksi oleh Beacon Film bekerja sama dengan Base Entertainment dan Refinery Media, mencoba menyentuh isu-isu sosial yang sering kali diabaikan dalam masyarakat. Dua perusahaan produksi yang disebutkan sebelumnya merupakan perusahaan asal Singapura, sementara sutradara film ini adalah Ho Wi Ding dari Malaysia. Dengan kolaborasi ini, film ini menjadi salah satu karya Asia Tenggara yang layak diperhatikan.
Sinopsis Film
Film ini mengisahkan tentang keluarga Indonesia yang pindah dari Jakarta ke sebuah rumah yang dekat dengan hutan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kecintaan Laras (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) terhadap lingkungan alam. Laras menikahi Hendi (Ringgo Agus Rahman), dan memiliki putra tunggal bernama Rama (Ali Fikry), yang termasuk generasi Z.
Rama sangat dekat dengan ibunya, yang selalu memanggilnya Cimot, meskipun ia sering memprotes panggilan itu. Hubungan Rama dengan ayahnya tidak begitu baik karena ia melihat ayahnya sebagai orang yang mudah marah. Keluarga ini tinggal di rumah pintar yang dapat membuka pintu secara otomatis, menghibur dengan lagu romantis, atau memadamkan lampu saat ingin tidur hanya dengan suara saja.
Saat mereka bertiga sedang bersantai di hutan, Laras berusaha mendekatkan ayah dan anak. Namun, penyakitnya kambuh dan akhirnya ia koma serta meninggal dunia. Hendi dan Rama sangat terpukul dengan kepergian ibu mereka. Hendi dapat menerima kehilangan tersebut, tetapi Rama meminta bantuan temannya, Zyla (Aisha Nurra), seorang hacker komputer yang bisa menghadirkan sosok ibu melalui teknologi AI.
Teknologi dan Kehilangan Emosional
Rama sangat senang karena tetap bisa berbicara dengan ibunya melalui aplikasi I-BU. Apalagi saat Rama mendapatkan hadiah smartwatch baru yang lebih canggih, suara ibunya terdengar sangat mirip. Ayahnya juga tertarik dengan teknologi ini. Namun, Hendi menyadari bahwa teknologi justru merusak hubungan antara dirinya dan Rama. Ia memerintahkan Rama untuk membeli suplemen anti-stress, sehingga Hendi menyita smartwatch Rama dan memaksanya untuk menemui psikiater.
Pertanyaan dan Akhir Cerita
Bagaimana akhir dari drama keluarga yang penuh konflik ini? Mengapa teknologi tidak bisa mengakrabkan keluarga? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini bisa ditemukan dalam film “Esok Tanpa Ibu”, yang mulai tayang di bioskop pada 22 Januari 2026.
Review Film
Film ini sangat layak ditonton oleh seluruh anggota keluarga, baik ayah, ibu maupun anak. Pesan moral yang disampaikan sangat sarat refleksi, yaitu agar suami tidak menyerahkan 100% urusan rumah tangga kepada istri. Ayah juga harus tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan anaknya.
Jangan biarkan anak terlalu dekat hanya dengan ibunya saja, karena bila sosok ibu hilang, tidak akan bisa digantikan oleh teknologi. Bagi anak, film ini juga penting untuk dilihat agar bisa memahami sikap ayah dan ibunya.
Semoga setelah menyaksikan film ini, muncul refleksi positif yang bisa mengakrabkan keluarga. Film ini juga memberi pesan, meski kita mengagumi teknologi, tetapi jangan lupa merawat bumi atau lingkungan. Selain itu, film ini juga menyampaikan pesan agar kita menghargai hak cipta dengan tidak membajak software.
Cerita yang ditulis oleh Gina, Diva, dan Melarissa ini dapat menginspirasi penonton filmnya. Film ini diperuntukkan bagi penonton yang telah berusia 23 tahun ke atas.





