Fakta-Fakta Baru dari Kesaksian Teman KKN Jokowi
Pada sidang gugatan citizen lawsuit di Pengadilan Negeri (PN) Solo, sejumlah fakta baru terungkap mengenai masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Joko Widodo (Jokowi). Kesaksian ini datang dari dua rekan Jokowi serta anak lurah setempat yang turut serta dalam kegiatan tersebut. Fakta-fakta ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penggunaan listrik hingga panggilan akrab dan kebiasaan selama KKN.
Listrik di Desa Ketoyan Saat KKN
Salah satu poin penting yang dibahas adalah adanya akses listrik di Desa Ketoyan saat Jokowi menjalani KKN. Menurut keterangan saksi Ritje Widjaja, alumnus Biologi UGM Yogyakarta, ada acara perpisahan menggunakan gitar listrik dengan bantuan genset milik kepala desa setempat. Meski tidak tersambung ke PLN, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan menjadi kendala karena kepala desa juga merupakan pengusaha penggilingan padi yang memiliki genset.
“Ada musik, pakai listrik. Sebenarnya gampang banget, karena selain menjabat sebagai kepala desa, beliau juga pengusaha penggilingan padi dan pasti punya genset. Bisa dipakai untuk penerangan, meski tidak terus-terusan,” ujarnya di hadapan majelis hakim.
Keterangan Ritje diperkuat oleh kesaksian Yohana, yang menyebutkan bahwa di lokasi KKN saat itu kondisinya sudah ada penerangan listrik, meskipun mati pada pukul 00.00. “Menggunakan genset, kita tambahan ada petromat, ada listrik tapi bukan PLN,” katanya.
Panggilan Akrab Jack
Selain itu, dalam sidang, Ritje juga mengungkap bahwa Jokowi sering dipanggil dengan nama Jack oleh teman-temannya selama KKN. “Kalau di lingkungan kami memanggil Jokowi dengan Jack. Pada waktu KKN, saya memanggilnya sebagai Jack,” kata Ritje Dwidjaja.
Yohana menambahkan bahwa panggilan Jack bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan upaya untuk membuatnya lebih keren. “Ya namanya adalah Joko Widodo ya. Kalau manggil jok kan sudah biasa, pengen lain dari pada yang lain biar keren dipanggil Jack. Kami berempat yang memanggil Joko Widodo, Jack. Benar-benar Jack bukan yang lain,” ujarnya.
Sementara itu, Muh Karno, anak kepala desa ketika itu, membenarkan bahwa sosok yang dipanggil Jack merujuk pada Jokowi. Namun, ia mengaku tidak tahu nama lengkapnya dan hanya mengikuti kebiasaan teman-temannya.
Soal Kacamata Jokowi
Terkait isu apakah Jokowi menggunakan kacamata selama KKN, Yohana dan Ritje menyatakan secara tegas bahwa mereka tidak pernah melihatnya memakai kacamata dalam kegiatan sehari-hari. Meski foto ijazah UGM Jokowi menunjukkan dirinya mengenakan kacamata, ia mengaku menggunakan kacamata karena mata minus.
“Ya kalau selama kegiatan tidak pernah memakai (kacamata). Mungkin kalau membaca di kamar mungkin, iya. Tapi sayangnya kan ya saya nggak pernah ke kamarnya pak Jokowi. Yang tahu itu sebenarnya teman kami yang sudah almarhum ya dengan sendirinya lebih tahu dia dari pada kami,” ujar keduanya.
Kejanggalan dalam Kesaksian
Meski banyak informasi yang diberikan, penggugat tetap merasa ada kejanggalan dalam kesaksian para saksi. Salah satunya adalah Muhammad Taufiq, yang menyatakan bahwa keterangan yang disampaikan tidak selaras satu sama lain. Ia menilai bahwa kesaksian anak lurah berbeda dengan dua saksi lainnya, termasuk soal pentas seni yang tidak menggunakan gitar listrik.
Selain itu, Taufiq juga mempertanyakan pemahaman para saksi mengenai aspek akademik pelaksanaan KKN, termasuk syarat akademik dan sertifikat kelulusan. “Dari semua saksi meskipun mereka mengatakan KKN di desa Ketoyan, tidak satupun bisa membuktikan apa syarat-syarat akademik dan kami juga sertifikat pernah KKN. Ternyata mereka tidak tahu, kalau saya tahu teman dan sebagainya,” jelasnya.
Kesimpulan
Sidang ini menunjukkan bahwa banyak hal yang masih perlu dikaji lebih lanjut mengenai masa KKN Jokowi. Meski beberapa fakta baru terungkap, keraguan dan kejanggalan tetap menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab.





