Kebutuhan Visi Jelas dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU di tengah menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang menuntut calon-calon yang mampu mengedepankan perang gagasan strategis. Tema kembali ke nilai dasar perjuangan khittah NU menjadi fokus utama dalam proses pemilihan ini.

Sebagai pengamat politik, Adi Prayitno menilai bahwa seluruh nama kandidat yang beredar memiliki kualitas kepakaran kitab kuning dan pemahaman syariat yang sangat mumpuni. Namun, di samping itu, jajaran Pengurus Cabang (PCNU) dan Pengurus Wilayah (PWNU) sebagai pemilik hak suara memerlukan pemaparan visi yang jelas tentang arah perjuangan sosial-kemasyarakatan NU di abad kedua usianya.

Dalam sesi wawancara khusus dalam program On Focus Tribunnews di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Kamis (20/8/2026), Adi Prayitno menyampaikan bahwa kompetisi antar-alim ulama harus menonjolkan narasi bagaimana ingin membawa NU kembali kepada khittah atau back to basic. NU harus dibawa kembali pada fokus utama, yaitu mengurus umat, mengurus keagamaan, dan mengurus akidah, sembari membangun narasi wasathiyah (moderat) yang harmonis dengan konsep negara-bangsa.

Adi menjelaskan bahwa NU selama ini sangat dihormati secara nasional maupun global sebagai pilar penting masyarakat sipil (civil society) yang berhasil merumuskan konsepsi Islam yang ramah, moderat, serta tidak mempertentangkan antara syariat agama dengan dasar ideologi Pancasila dan bentuk NKRI. Karakter jalan tengah inilah yang harus dipertahankan dan diperkuat oleh kepemimpinan PBNU ke depan melalui program-program pemberdayaan umat yang konkret, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan dunia modern yang serba cepat.

“Visi moderasi keagamaan ini harus tebal dalam setiap perumusan program kerja ke depan. Para kiai dan kader di tingkat daerah tentu membutuhkan panduan praktis dari kepemimpinan pusat agar dakwah NU tetap menyejukkan dan merekatkan ukhuwah di tengah derasnya arus disrupsi informasi,” ujarnya.

Calon Pemimpin Lahirkan Warisan Pemikiran

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap sosok yang berhasil menduduki jabatan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU dalam catatan sejarah selalu meninggalkan warisan gagasan luhur (intellectual legacy) yang membekas lama bagi jalannya peradaban. Ia mencontohkan warisan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan konsep Pribumisasi Islam, KH. Hasyim Muzadi dengan diplomasi moderasi Islam, KH. Said Aqil Siradj dengan Islam Nusantara, hingga KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan Fiqih Peradaban.

“Setiap ketua umum terpilih harus memiliki gagasan besar, tidak boleh hanya berpikir teknis atau administratif saja. Oleh karena itu, di sisa waktu satu minggu menjelang muktamar ini, kami menuntut para calon ketua umum yang berseliweran untuk segera memaparkan visi besar mereka secara terbuka kepada warga Nahdliyin guna membenahi masa depan,” pungkas Adi Prayitno.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version